Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 April 2015

Review Buku - Modern Mama

google
Saya membaca buku ini beberapa minggu yang lalu, tertarik membelinya ketika sengaja ke toko buku dan merencanakan membeli beberapa buku, tapi buku ini saya liat sekilas dan tiba-tiba saya sudah membelinya, mungkin karena saya yang merasa belum menjadi ibu yang baik namun butuh belajar terus untuk menjadi ibu yang baik. Dan ternyata saya tidak menyesal membelinya..sangat menginspirasi.

Saya suka gaya Imelda bertutur, hangat dan tidak berkesan menggurui. Mungkin memang seperti berbagi pengalaman sehingga terasa begitu ringan dan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami tapi tetap terasa indah dan emosional. Buku ini terasa berimbang, tanpa memberatkan sisi ibu yang berperan sebagai ibu rumah tangga dan ibu sebagai wanita yang berkarier.  

Buku ini tidak hanya berkisah tentang tanggungjawab seorang ibu sebagaimana banyak buku-buku parenting lain yang saya baca. Tapi buku ini juga mengingatkan saya bahwa seorang ibu yang tentu saja seorang wanita adalah juga manusia biasa (^^), yang butuh bahagia dan tentu saja harus sehat. Hal ini menarik buat saya karena sebagian ibu-ibu selalu memprioritas anak-anaknya tapi mereka lupa bahwa untuk menjadi ibu yang baik mereka juga butuh sehat jasmani dan rohani. 

"Be the best mom you can be, and forgive yourself when things do not happen according to plan."

Saya suka kata-kata itu, begitu menghibur...(^^), yah...menjadi ibu terkadang memang terasa begitu berat. Jadi sekali-sekali kita harus belajar memaafkan diri kita sendiri jika apa yang terjadi kadang berbeda dari yang kita harapkan. Meskipun kita harus tetap terus berusaha melakukan yang terbaik... 

Satu lagi yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana Imelda mengingatkan kita untuk berfikir jauh ke depan. Salah satunya dengan merencanakan keuangan kita dengan lebih baik. Berfikir lebih bijak tentang uang...dan mengelola keuangan dengan bijak. Terima kasih kakak ^^ !
Rabu, 28 Mei 2014

Dear Diva- Bersama


Dear Diva,
Aku sayang kamu... sangat menyayangimu ! Aku memelukmu ....kamu memelukku. Meskipun kedua tanganmu terlalu kecil untuk memelukku sepenuhnya. Lalu kita berdansa sambil berpegangan dengan erat. Kamu tidak akan jatuh.

Aku menggelitikmu... kamu terkikik lucu (tapi jangan di kaki ! JANGAN Karena kalau di kaki paling geli)

Aku membuatmu tertawa ... kamu tertawa bersamaku. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuat kita gembira seperti tawa.

Aku menuntunmu ... kamu memegang tanganku. Aku merasa senang dan kamu akan aman dan nyaman karena aku selalu...menemaniku

Aku bernyanyi untukmu... kamu mengiringi nyanyianku. Yang keras ataupun lembut yang membuatku tertawa. Sebuah lagu pengantar tidur yang enak didengar,

Aku bercerita,,,kau mendengarkan, Menceritakan dongeng sepanjang malam, tentang naga, kstaria perkasa dan putri yang cantik.

Aku ada dalam mimpimu...dan kamu dalam mimpiku. Mimpi terbaik yang membuat ceria sepanjang malam. Mimpiku dan mimpimu. Mimpi kita berdua.

Ayo bersama selamanya. Selalu ada untuk satu sama lain, saling menjaga dan manyayangi...Jadi Semua yang kamu lakukan dan yang aku lakukan. Mari kita lakukan ... bersama !

Dari buku cerita bagus punya Diva yang sering kita baca, dengan sedikit penyesuaian.


Selasa, 27 Mei 2014

Geography of Bliss-Bhutan

Beberapa hari ini saya sedang menekuni satu buku yang berjudul The Geography of Bliss. Buku ini saya temukan di rak bagian traveling di sebuah toko buku, jadi awalnya saya berharap buku ini mengupas tentang hal-hal menarik dari banyak negara namun nyatanya yang saya dapatkan lebih dari itu. Eric Weiner, penulisnya adalah seorang wartawan yang sedang melakukan riset tentang kebahagiaan, sehingga gaya bahasa dari buku ini bukan hanya tentang berbagi pengalaman seperti pada umumnya buku tentang traveling tetapi juga tentang riset dan ilmu pengetahuan yang mendalam (dalam beberapa hal  tidak saya mengerti) serta cara penyampaian yang lucu dan apa adanya menjadi buku ini sangat menarik.

Sejujurnya saya tidak ingin mengupas tentang buku ini. Tapi bagian di dalamnya yang saya garis bawahi. Tentang kebahagiaan negara dalam versi Bhutan, negara yang bahagia. Bagaimana tidak bahagia jika raja di Bhutan Wang Chuk (1973) sudah menggagas Bhutan menjadi negara yang bahagia dengan menetapkan Kebahagiaan Nasional Bruto (Gross National Happiness) lebih penting dari Produk Nasional Bruto.

Kenyataannya, banyak hal terbalik berlaku di Bhutan, di negara ini mengganggap angka 13 adalah angka yang mujur, anak-anak disana akan menyambut anda dengan kata 'bye-bye', raja berkeinginan menghentikan dirinya sendiri dan terakhir di negara berkembang ini mariyuana diberikan kepada babi, karena dapat membuat babi lapar dan akan menggemukkannya. Hay..hay..hay..saya suka ide itu.

Bhutan adalah salah satu negara yang dinobatkan sebagai pengawal bumi, mereka sangat cinta lingkungan, Bahkan raja mewajibkan setiap warga negaranya menanam minimal 10 pohon dalam 1 tahun (kebijakan yang sangat hijau ^^) dan mereka menolak menjual kayu yang berharga (itu keren !).

"Ketika pohon terakhir ditebang
Ketika sungai terakhir dikosongkan,
Ketika ikan terakhir ditangkap. Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat makan uang"

Kalau anda ke Bhutan mungkin anda akan sering melihat rambu-rambu ini !

Banyak hal yang saya pelajari dari Bhutan yang kemudian menjadikannya negara yang bahagia. Sederhanaannya mungkin justru menjadi identitas (kalau anda tidak percaya, ketik bhutan pada mesin pencari anda dan gambar pertama yang anda lihat adalah wajah tampan raja bhutan dalam balutan gho-pakaian nasional bhutan yang dipakai laki-laki di bhutan setiap hari, dalam kesederhanaanya negerinya). Jangan anda berfikir kesederhanaan ini timbul karena kemiskinan negerinya, bhutan adalah negara yang kaya kekayaan alam selain hutan ternyata dalam 'perut' bhutan terkandung minyak bumi dan atas perintah raja, tidak diperbolehkan dilakukan pengeboran. Kesederhanaan juga  terlihat dari penduduk bhutan yang bersekolah ke luar negeri, 90% akan kembali ke bhutan dan mengorbankan gaya hidup barat untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat bhutan.

Banyak hal menarik dari negara di lembah himalaya ini dapat kita jadikan contoh, setidaknya dari caranya mencintai bumi ini. Tapi jangan kuatir, Anda juga berada dalam negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Survey yang di buat Ipsos Global untuk kategori 'bahagia' dan 'sangat bahagia' yang kemudian dimuat di majalah TIME (2012) menyebutkan bahwa 51% warga Indonesia sangat bahagia dan 49% lainnya bahagia. Dan ini paling tinggi diantara negara-negara yang di survey, Sayang Bhutan tidak masuk dalam survey ini ^^ . Sayangnya, meski tetap menjadi negara paling bahagia dalam survey ini Indonesia turun 7 point dari tahun 2007.



Saya harap Anda termasuk 51% dari survey itu ! Kalau anda masih termasuk dalam 49% lainnya, saran saya bersyukurlah maka Anda akan bahagia ^^

Minggu, 27 April 2014

The Help


Lama sekali saya tidak melihat film drama bagus yang saya suka sekali. Siang ini tanpa sengaja saya menemukan film drama yang kece banget ^^ . Judulnya The Help, film lama (2011) yang baru saya tonton. Dan ternyata base on novel yang belum pernah saya baca dan telah memenangkan beberapa penghargaan film (informasi itu tentu saya ketahui setelah selesai menonton filmnya). Secara umum film ini bersetting di Jackson, Mississippi dengan pemeran antara lain Emma Stone, Viola Davis, Octavia Spencer, Bryce Dallas H, Jessica Chastain, Sissy Spacek, Mike Vogel, Mary Steenburgen dan Allison Janney.

Ceritanya menarik mengambil isu sosial tentang rasisme tentang perbedaan warna kulit di tahun1960-an di Amerika. Dan the help disini memang tentang si mbak, si mbok, bibik atau sebutan asisten rumah tangga di rumah yang ada kala itu selalu berkulit berwarna. Yang secara umum sebenarnya mereka juga manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 


Jadi mengingatkan saya pada quote ini :


“When I'm born I'm black, when I grow up I'm black, when I'm in the sun I'm black, when I'm sick I'm black, when I die I'm black, and you... when you're born you're pink, when you grow up you're white, when you're cold you're blue, when you're sick you're blue, when you die you're green and you dare call me colored”
― 
Oglala Lakota



Saya jadi ingat si mbak atau baby sister yang sering saya jumpai sehari-hari, yang biasanya lebih jago masak dari nyonya-nya dan lebih dekat dengan anak majikannya di banding hubungan si anak dengan ibunya sendiri. Yang dalam film ini di ceritakan dengan sangat gamblang oleh Aibeleen dan Minny membuat saya masghul dengan realita ini.

Tidak hanya tentang rasis, kisah ini juga tentang perempuan, dan bagaimana menjadi seorang pemberani. Kisahnya yang membumi banget dan ceritanya tentang orang-orang mungkin ada di sekitar kita dengan latar belakang cerita awal tahun 1960-an, cerita ini indah untuk dilihat dan tentu saja sangat menyentuh dan bikin mewek. Setelah liat filmnya saya jadi tertarik untuk baca bukunya, tapi karena cetakan lama (ya karena saya baru nggeh tentang film bagus ini >.<) jadi agak sulit buat cari bukunya. Bantu ya kalau ada yang masih jual...

Buat saya, hari ini minggu ini buat saya nggak nyesel meluangkan sore saya buat menonton film yang keren banget (meski saya telat 3 tahun ^^).  


Selasa, 18 Desember 2012

Cuma Baca Buku - NEXT


Next... ya saya suka membayangkan apa yang terjadi nanti. Lalu, membayangkan apa yang dilakukan ilmuwan-ilmuwan untuk masa depan. Ah, bayangan saya mungkin akan jadi aneh-aneh. Saya kadang menebak, penemuan apa yang terjadi di masa depan. Mungkinkah manusia akan hidup di Mars atau planet lain ? Mungkinkah kita akan membangun dunia baru yang berbeda dari sekarang ? Manusia berhasil mengkloning dirinya atau entahlah...

Kemudian saya membaca buku ini, dan daya khayal saya semakin tinggi.


ORANGUTAN BISA BICARA DILAPORKAN DI SUMATRA

NEXT

PARA AHLI BERHASIL MENGISOLIR GEN "PEMIMPIN"


NEXT

INDUSTRI MEMPRODUKSI HEWAN PELIHARAAN TRANSGENIK

"Selamat datang di dunia genetika masa kini. Melesat cepat dan tak terkendali. Ini bukan kisah rekaan masa depan-inilah dunia yang kita diami saat ini."

"Kita hidup pada masa terjadinya lompatan-lompatan sains yang luar biasa, ketika kita bisa menjual sel telur dan sperma online demi imbalan ribuan dolar. Kita hidup pada masa para ahli telahberhasil memetakan gen-gen yang menentukan kepribadian, kebiasaan, dan penyakit-penyakit bawaan-atau benarkah begitu ?"


Terlepas dari segala pro kontra yang ada di keilmuan ini, saya suka membaca buku ini. Setidaknya saya serasa belajar biologi lagi... ^^

Menyenangkan sekali, saya masih punya cukup waktu untuk menikmati buku ini di sela-sela waktu yang terus berlari...
Rabu, 15 Juni 2011

If I am Missing or Dead (a Sister Story of Love, Murder, and Liberation)


Satu lagi buku murah yang membuat saya terkejut, karena isinya yang mencengangkan. Buku ini saya beli dengan harga sepuluh ribu rupiah di bagian obral murah meriah di gramedia (ha..ha.. lagi-lagi karena saya pencinta buku murah). Mungkin masuk bagian obral karena buku ini buku terbitan lama (tahun 2002). Tapi isinya banyak memberikan saya pelajaran hidup.



Mungkin sekilas seperti ini ceritanya :

Pada bulan April 2002, adik bungsu Janine Latus, Amy, menulis catatan dan menempelkannya ke bagian dalam laci meja.  “Saat ini Ron Ball dan aku terlibat hubungan romantistapi aku takut aku telah menempatkan diri pada risiko dalam berbagai cara. Berdasarkan tindakan kriminal, saya rasa ini tampak seperti hal yang cerdas untuk dilakukan. Jika saya hilang atau mati (If I am Missing or Dead) surat ini jelas tidak melindungi saya.”

Itu musim semi yang sama Janine Latus berjuang untuk meninggalkan pernikahannya - perkawinan seorang pria tampan dan sukses. Sebuah lain perkawinan dicontoh. Sebuah perkawinan di mana dia merasa dia bisa berbuat baik dan semuanya salah. Sebuah perkawinan di mana dia merasa takut, dikendalikan, dan terjebak. 

Sepuluh minggu kemudian, Janine Latus telah meninggalkan pernikahannya. Dia sedang dalam perjalanan bisnis ke Pantai Timur, menikmati kebebasannya, menghadiri sebuah konferensi kerja, ketika ia menerima telepon dari adiknya Jane menanyakan apakah ia mendengar dari Amy. Segera, darah Janine's berlari dingin. Amy hilang. 

Amy meninggal dalam ketakutan diam dan sakit.  Bagaimana, dia bertanya-tanya, apakah dua hubungan, perempuan sukses berakhir di balik tekanan secara fisik atau emosional hubungan yang kasar dengan laki-laki? Jika If I am Missing or Dead adalah sebuah perjalanan yang menyayat hati penemuan sebagai jejak Janine Latus kakaknya korban dengan gigih terus terang.  Butuh waktu hampir dua tahun sebelum pembunuhnya, mantan pacarnya Ron Ball, dijatuhi hukuman untuk pembunuhannya. 

 

Memoar ini ditulis dengan indah akan bergerak pembaca dari pertama sampai halaman terakhir. Pengakuan, ajakan dan bacaan yang membuka mata tentang banyaknya kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, kisah ini dipersembahkan untuk adik bayinya, Amy Lynne Latus, If I am Missing or Dead adalah bacaan yang tak terlupakan.

 

Sekali lagi, saya telah mendapatkan bacaan yang murah dan penuh inspirasi...

Mungkin saya harus sering-sering mencari buku murah lagi... ^^

 

 

Jumat, 20 Mei 2011

Three Cups of Tea -Satu lagi kisah penuh inspirasi


Three Cups of Tea adalah salah satu cerita petualangan yang luar biasa. Kesulitan dan Bahaya  Greg Mortenson’s untuk mendirikan sekolah-sekolah di bagian liar Pakistan dan Afghanistan tidak hanya sekedar bacaan yang mendebarkan, ini adalah sebuah bukti bahwa seorang pria biasa, dengan it’s proof that one ordinary person, yang berkarakter dan memiliki kebulatan tekad, benar2 dapat merubah dunia.” -Tom Brokaw

Buku ini kebetulan saya beli dengan harga kurang dari 20 ribu. Karena saya tertarik dengan ringkasan cerita yang ada di belakangnya. Tapi setelah saya menyelesaikan membaca buku ini, saya harus katakan buku ini bernilai jauh di atas 20 ribu.
Inilah kisah menakjubkan dan inspiratif tentang Indiana Jones sejati dan perjuangan kemanusiaannya yang mengharukan di “pekarangan belakang” rezim Taliban.


Seorang pendaki gunung, Greg Mortenson, dibawa nasib ke pegunungan Karakoram yang gersang di Pakistan setelah gagal mendaki puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia. Tersentuh oleh keramahan penduduknya, dia berjanji untuk kembali dan membangun sebuah sekolah.
Kisah ini berawal dari sebuah janji..

JANJI
Greg mengamati dan menyimak ketika anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan Pakistan untuk mengawali hari sekolah. Dia melihat anak perempuan Twaha yang berusia delapan tahun, Jahan, berdiri tegap dibalik kerudung ketika bernyanyi. Setelah lagu berakhir, mereka duduk di tanah dan mulai menulis tabel perkalian. Beberapa anak, seperti Jahan, punya papan yang mereka tulisi dengan ranting dicelup lumpur. Yang lainya menulis di tanah dengan ranting. “Bisakah kau bayangkan anak-anak kelas empat di Amerika, sendirian, tanpa guru, duduk tenang dan mengerjakan pelajaran mereka?” tanya Greg di kemudian hari. “Hatiku seakan terkoyak … Aku tahu, aku harus berbuat sesuatu.
Tapi, apa yang bisa dilakukannya?sisa uang hampir tidak mencukupi untuk pergi dengan jip dan bus ke ibukota Pakistan, naik pesawat dan pulang. Akan tetapi, pasti dia bisa melakukan sesuatu.
berdiri di sebelah Haji Ali, memandangi pegunungan yang hendak didakinya setelah mengintari setengah belahan dunia, mendadak Greg merasa bahwa mencapai puncak K2 untuk meletakkan kalung tidaklah begitu penting. Dia melakukan sesuatu yang lebih baik dari pada itu untuk menghormati adiknya, Christa. Dia meletakkan kedua tangan di bahu Haji Ali. “Aku akan membangun sekolah,” ujarnya. “Aku berjanji.”

Seorang Greg, aplikasi luar biasa dari asuhan ayah bundanya, hingga membuatnya begitu memprioritaskan pentingnya kehidupan melayani dan mendidik. Demprey, ayahnya Greg yang suka berpergian suatu hari berkata pada istrinya yang sedang mengandung Greg, ‘Mereka perlu guru di Tanganyika, Ayo pergi ke Afrika’. Dan mereka begitu saja pergi ke Afrika. Demprey bekerja keras membangun rumah sakit pendidikan pertama di Tanzania dan Jerene, istrinya gigih memulai Sekolah Internasional Moshi. Yang disebut Greg sebagai PPB kecil, ‘Ada dua puluh delapan kebangsaan yang berbeda, dan kami merayakan semua hari libur; Hanukkah, Natal, Diwali, Idul Fitri.’ Setelah rumah sakit dan sekolah beres, keluarga Mortenson kembali ke Amerika.

Visi tersebut dibawa Greg dalam hidup. Itu ia buktikan setelah ia tersesat dalam perjalanan pendakian K2, puncak tertinggi kedua di dunia. Sesat yang membawa ia untuk akhirnya melakukan sesuatu hal yang menurut sederhana namun begitu luar biasa. Ia tersesat ke salah satu desa di lereng pegunungan K2, desa Korphe. Ia pria asing pertama yang tersesat, kumal dan sangat letih kemudian dirawat dengan jamuan terbaik di desa miskin oleh kepala desa. Kemudian mengetahui tidak adanya sekolah disana. Maka dimulailah perjuangan tuk membangun sekolah disana. Ia kembali ke Amerika, bekerja dan mengumpulkan uang, bahkan ia menjual apartemen, menyimpan barang di gudang sewaan, dan tidur dalam kantung tidur dalam mobilnya yang akhirnya ia jual untuk biaya keberangkatannya kembali ke Pakistan. Hingga sampai di Pakistan, usulan masih harus tertunda dan memutuskan kembali ke Amerika tuk mengumpulkan uang lagi demi terbangun sebuah sekolah di desa Korphe.

Walaupun mengalami penculikan dan mendapat kecurigaan dari warga setempat, Greg tetap kukuh dengan janjinya, hingga kini ia telah berhasil mendirikan sekolah hingga perbatasan Afghanistan. Sungguh kisah luar biasa…
Sungguh harga luar biasa dari sebuah pengasuhan. Betapa orang tua menjadi sosok terbaik dalam perjalanan kehidupan anaknya. Pengasuhan ini juga yang dibawa Greg dalam keluarganya, hingga anaknya, Amira, mendukung usaha ayah dalam melayani dan mendidik, salah satu melalui program Pennies for Peace dengan mengumpulkan uang receh dari sekolah ke sekolah untuk disumbangkan pada teman-teman seusia agar memperoleh kesempatan belajar sepertinya. Wow…luar biasa ^o^
Mari kita pun memulai….

Buku ini wajib Anda baca, bila Anda mengaku perduli terhadap pendidikan. Penuh Inspirasi, bukan hanya tentang keperdulian tapi tentang pengorbanan dan melakukan langkah yang nyata.
Simak juga ini :

Sabtu, 14 Mei 2011

Front of the Class- Kisah penuh Inspirasi

“To never let anything to stop you from chasing your dreams.. from working, or playing, or falling in love.”



Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan mudah, saya yakin tidak semua orang dapat melakukannya, dan kalaupun dapat, tidak semua orang dapat menikmatinya. Apalagi jika Anda seorang penderita Sindrom Taurett, hampir-hampir dapat dikatakan itu mustahil. Tetapi tidak ada kata mustahil bagi Bard Cohen yang luar biasa.

Kebenciannya terhadap guru-guru di masa kecilnya justru memacunya menjadi seorang guru yang sukses. Kisah pembuktian diri yang luar biasa.

Kisah ini saya baca dari kisah Brad Cohen FRONT OF THE CLASS sebuah kisah yang sangat menginspirasi, tentang bagaimana menyikapi diri dengan segala kesulitan yang kita miliki.




Sebuah kutipan menarik yang saya suka, “Beginilah caraku memandang hidup: aku memilih jalan lurus yang akan kuambil. Apakah aku memilih jalan lurus yang mudah? Atau apakah aku memilih jalan yang berliku? Aku memutuskan jalan yang berliku. Aku merasa sukses ketika hidupku penuh dengan petualangan dan tantangan. Bagiku jalan berliku akan membentuk tantangan. Inilah jalanku, dan aku tidak menyesalinya. Kita semua kondisi masing-masing. Kita semua memainkan peran kita, dan kita semua memilih bagaimana kita akan hidup.”

Saya menyukai peran saya sebagai guru, dan pesan yang indah untuk siapapun anda; Saya berharap dengan setulus hati, Anda mau meluangkan waktu untuk melihat generasi muda. Mereka adalah masa depan kita. Mereka adalah orang-orang hebat yang penuh kasih sayang, dan mereka membutuhkan dorongan kita. Dunia ini akan menjadi tempat yang menakjubkan jika setiap anak bisa meraih potensi terbaik mereka. Kita bisa mewujudkannya, sedikit demi sedikit.

Filmnya :




Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Review Buku - Modern Mama

google
Saya membaca buku ini beberapa minggu yang lalu, tertarik membelinya ketika sengaja ke toko buku dan merencanakan membeli beberapa buku, tapi buku ini saya liat sekilas dan tiba-tiba saya sudah membelinya, mungkin karena saya yang merasa belum menjadi ibu yang baik namun butuh belajar terus untuk menjadi ibu yang baik. Dan ternyata saya tidak menyesal membelinya..sangat menginspirasi.

Saya suka gaya Imelda bertutur, hangat dan tidak berkesan menggurui. Mungkin memang seperti berbagi pengalaman sehingga terasa begitu ringan dan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami tapi tetap terasa indah dan emosional. Buku ini terasa berimbang, tanpa memberatkan sisi ibu yang berperan sebagai ibu rumah tangga dan ibu sebagai wanita yang berkarier.  

Buku ini tidak hanya berkisah tentang tanggungjawab seorang ibu sebagaimana banyak buku-buku parenting lain yang saya baca. Tapi buku ini juga mengingatkan saya bahwa seorang ibu yang tentu saja seorang wanita adalah juga manusia biasa (^^), yang butuh bahagia dan tentu saja harus sehat. Hal ini menarik buat saya karena sebagian ibu-ibu selalu memprioritas anak-anaknya tapi mereka lupa bahwa untuk menjadi ibu yang baik mereka juga butuh sehat jasmani dan rohani. 

"Be the best mom you can be, and forgive yourself when things do not happen according to plan."

Saya suka kata-kata itu, begitu menghibur...(^^), yah...menjadi ibu terkadang memang terasa begitu berat. Jadi sekali-sekali kita harus belajar memaafkan diri kita sendiri jika apa yang terjadi kadang berbeda dari yang kita harapkan. Meskipun kita harus tetap terus berusaha melakukan yang terbaik... 

Satu lagi yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana Imelda mengingatkan kita untuk berfikir jauh ke depan. Salah satunya dengan merencanakan keuangan kita dengan lebih baik. Berfikir lebih bijak tentang uang...dan mengelola keuangan dengan bijak. Terima kasih kakak ^^ !

Dear Diva- Bersama


Dear Diva,
Aku sayang kamu... sangat menyayangimu ! Aku memelukmu ....kamu memelukku. Meskipun kedua tanganmu terlalu kecil untuk memelukku sepenuhnya. Lalu kita berdansa sambil berpegangan dengan erat. Kamu tidak akan jatuh.

Aku menggelitikmu... kamu terkikik lucu (tapi jangan di kaki ! JANGAN Karena kalau di kaki paling geli)

Aku membuatmu tertawa ... kamu tertawa bersamaku. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuat kita gembira seperti tawa.

Aku menuntunmu ... kamu memegang tanganku. Aku merasa senang dan kamu akan aman dan nyaman karena aku selalu...menemaniku

Aku bernyanyi untukmu... kamu mengiringi nyanyianku. Yang keras ataupun lembut yang membuatku tertawa. Sebuah lagu pengantar tidur yang enak didengar,

Aku bercerita,,,kau mendengarkan, Menceritakan dongeng sepanjang malam, tentang naga, kstaria perkasa dan putri yang cantik.

Aku ada dalam mimpimu...dan kamu dalam mimpiku. Mimpi terbaik yang membuat ceria sepanjang malam. Mimpiku dan mimpimu. Mimpi kita berdua.

Ayo bersama selamanya. Selalu ada untuk satu sama lain, saling menjaga dan manyayangi...Jadi Semua yang kamu lakukan dan yang aku lakukan. Mari kita lakukan ... bersama !

Dari buku cerita bagus punya Diva yang sering kita baca, dengan sedikit penyesuaian.


Geography of Bliss-Bhutan

Beberapa hari ini saya sedang menekuni satu buku yang berjudul The Geography of Bliss. Buku ini saya temukan di rak bagian traveling di sebuah toko buku, jadi awalnya saya berharap buku ini mengupas tentang hal-hal menarik dari banyak negara namun nyatanya yang saya dapatkan lebih dari itu. Eric Weiner, penulisnya adalah seorang wartawan yang sedang melakukan riset tentang kebahagiaan, sehingga gaya bahasa dari buku ini bukan hanya tentang berbagi pengalaman seperti pada umumnya buku tentang traveling tetapi juga tentang riset dan ilmu pengetahuan yang mendalam (dalam beberapa hal  tidak saya mengerti) serta cara penyampaian yang lucu dan apa adanya menjadi buku ini sangat menarik.

Sejujurnya saya tidak ingin mengupas tentang buku ini. Tapi bagian di dalamnya yang saya garis bawahi. Tentang kebahagiaan negara dalam versi Bhutan, negara yang bahagia. Bagaimana tidak bahagia jika raja di Bhutan Wang Chuk (1973) sudah menggagas Bhutan menjadi negara yang bahagia dengan menetapkan Kebahagiaan Nasional Bruto (Gross National Happiness) lebih penting dari Produk Nasional Bruto.

Kenyataannya, banyak hal terbalik berlaku di Bhutan, di negara ini mengganggap angka 13 adalah angka yang mujur, anak-anak disana akan menyambut anda dengan kata 'bye-bye', raja berkeinginan menghentikan dirinya sendiri dan terakhir di negara berkembang ini mariyuana diberikan kepada babi, karena dapat membuat babi lapar dan akan menggemukkannya. Hay..hay..hay..saya suka ide itu.

Bhutan adalah salah satu negara yang dinobatkan sebagai pengawal bumi, mereka sangat cinta lingkungan, Bahkan raja mewajibkan setiap warga negaranya menanam minimal 10 pohon dalam 1 tahun (kebijakan yang sangat hijau ^^) dan mereka menolak menjual kayu yang berharga (itu keren !).

"Ketika pohon terakhir ditebang
Ketika sungai terakhir dikosongkan,
Ketika ikan terakhir ditangkap. Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat makan uang"

Kalau anda ke Bhutan mungkin anda akan sering melihat rambu-rambu ini !

Banyak hal yang saya pelajari dari Bhutan yang kemudian menjadikannya negara yang bahagia. Sederhanaannya mungkin justru menjadi identitas (kalau anda tidak percaya, ketik bhutan pada mesin pencari anda dan gambar pertama yang anda lihat adalah wajah tampan raja bhutan dalam balutan gho-pakaian nasional bhutan yang dipakai laki-laki di bhutan setiap hari, dalam kesederhanaanya negerinya). Jangan anda berfikir kesederhanaan ini timbul karena kemiskinan negerinya, bhutan adalah negara yang kaya kekayaan alam selain hutan ternyata dalam 'perut' bhutan terkandung minyak bumi dan atas perintah raja, tidak diperbolehkan dilakukan pengeboran. Kesederhanaan juga  terlihat dari penduduk bhutan yang bersekolah ke luar negeri, 90% akan kembali ke bhutan dan mengorbankan gaya hidup barat untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat bhutan.

Banyak hal menarik dari negara di lembah himalaya ini dapat kita jadikan contoh, setidaknya dari caranya mencintai bumi ini. Tapi jangan kuatir, Anda juga berada dalam negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Survey yang di buat Ipsos Global untuk kategori 'bahagia' dan 'sangat bahagia' yang kemudian dimuat di majalah TIME (2012) menyebutkan bahwa 51% warga Indonesia sangat bahagia dan 49% lainnya bahagia. Dan ini paling tinggi diantara negara-negara yang di survey, Sayang Bhutan tidak masuk dalam survey ini ^^ . Sayangnya, meski tetap menjadi negara paling bahagia dalam survey ini Indonesia turun 7 point dari tahun 2007.



Saya harap Anda termasuk 51% dari survey itu ! Kalau anda masih termasuk dalam 49% lainnya, saran saya bersyukurlah maka Anda akan bahagia ^^

The Help


Lama sekali saya tidak melihat film drama bagus yang saya suka sekali. Siang ini tanpa sengaja saya menemukan film drama yang kece banget ^^ . Judulnya The Help, film lama (2011) yang baru saya tonton. Dan ternyata base on novel yang belum pernah saya baca dan telah memenangkan beberapa penghargaan film (informasi itu tentu saya ketahui setelah selesai menonton filmnya). Secara umum film ini bersetting di Jackson, Mississippi dengan pemeran antara lain Emma Stone, Viola Davis, Octavia Spencer, Bryce Dallas H, Jessica Chastain, Sissy Spacek, Mike Vogel, Mary Steenburgen dan Allison Janney.

Ceritanya menarik mengambil isu sosial tentang rasisme tentang perbedaan warna kulit di tahun1960-an di Amerika. Dan the help disini memang tentang si mbak, si mbok, bibik atau sebutan asisten rumah tangga di rumah yang ada kala itu selalu berkulit berwarna. Yang secara umum sebenarnya mereka juga manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 


Jadi mengingatkan saya pada quote ini :


“When I'm born I'm black, when I grow up I'm black, when I'm in the sun I'm black, when I'm sick I'm black, when I die I'm black, and you... when you're born you're pink, when you grow up you're white, when you're cold you're blue, when you're sick you're blue, when you die you're green and you dare call me colored”
― 
Oglala Lakota



Saya jadi ingat si mbak atau baby sister yang sering saya jumpai sehari-hari, yang biasanya lebih jago masak dari nyonya-nya dan lebih dekat dengan anak majikannya di banding hubungan si anak dengan ibunya sendiri. Yang dalam film ini di ceritakan dengan sangat gamblang oleh Aibeleen dan Minny membuat saya masghul dengan realita ini.

Tidak hanya tentang rasis, kisah ini juga tentang perempuan, dan bagaimana menjadi seorang pemberani. Kisahnya yang membumi banget dan ceritanya tentang orang-orang mungkin ada di sekitar kita dengan latar belakang cerita awal tahun 1960-an, cerita ini indah untuk dilihat dan tentu saja sangat menyentuh dan bikin mewek. Setelah liat filmnya saya jadi tertarik untuk baca bukunya, tapi karena cetakan lama (ya karena saya baru nggeh tentang film bagus ini >.<) jadi agak sulit buat cari bukunya. Bantu ya kalau ada yang masih jual...

Buat saya, hari ini minggu ini buat saya nggak nyesel meluangkan sore saya buat menonton film yang keren banget (meski saya telat 3 tahun ^^).  


Cuma Baca Buku - NEXT


Next... ya saya suka membayangkan apa yang terjadi nanti. Lalu, membayangkan apa yang dilakukan ilmuwan-ilmuwan untuk masa depan. Ah, bayangan saya mungkin akan jadi aneh-aneh. Saya kadang menebak, penemuan apa yang terjadi di masa depan. Mungkinkah manusia akan hidup di Mars atau planet lain ? Mungkinkah kita akan membangun dunia baru yang berbeda dari sekarang ? Manusia berhasil mengkloning dirinya atau entahlah...

Kemudian saya membaca buku ini, dan daya khayal saya semakin tinggi.


ORANGUTAN BISA BICARA DILAPORKAN DI SUMATRA

NEXT

PARA AHLI BERHASIL MENGISOLIR GEN "PEMIMPIN"


NEXT

INDUSTRI MEMPRODUKSI HEWAN PELIHARAAN TRANSGENIK

"Selamat datang di dunia genetika masa kini. Melesat cepat dan tak terkendali. Ini bukan kisah rekaan masa depan-inilah dunia yang kita diami saat ini."

"Kita hidup pada masa terjadinya lompatan-lompatan sains yang luar biasa, ketika kita bisa menjual sel telur dan sperma online demi imbalan ribuan dolar. Kita hidup pada masa para ahli telahberhasil memetakan gen-gen yang menentukan kepribadian, kebiasaan, dan penyakit-penyakit bawaan-atau benarkah begitu ?"


Terlepas dari segala pro kontra yang ada di keilmuan ini, saya suka membaca buku ini. Setidaknya saya serasa belajar biologi lagi... ^^

Menyenangkan sekali, saya masih punya cukup waktu untuk menikmati buku ini di sela-sela waktu yang terus berlari...

If I am Missing or Dead (a Sister Story of Love, Murder, and Liberation)


Satu lagi buku murah yang membuat saya terkejut, karena isinya yang mencengangkan. Buku ini saya beli dengan harga sepuluh ribu rupiah di bagian obral murah meriah di gramedia (ha..ha.. lagi-lagi karena saya pencinta buku murah). Mungkin masuk bagian obral karena buku ini buku terbitan lama (tahun 2002). Tapi isinya banyak memberikan saya pelajaran hidup.



Mungkin sekilas seperti ini ceritanya :

Pada bulan April 2002, adik bungsu Janine Latus, Amy, menulis catatan dan menempelkannya ke bagian dalam laci meja.  “Saat ini Ron Ball dan aku terlibat hubungan romantistapi aku takut aku telah menempatkan diri pada risiko dalam berbagai cara. Berdasarkan tindakan kriminal, saya rasa ini tampak seperti hal yang cerdas untuk dilakukan. Jika saya hilang atau mati (If I am Missing or Dead) surat ini jelas tidak melindungi saya.”

Itu musim semi yang sama Janine Latus berjuang untuk meninggalkan pernikahannya - perkawinan seorang pria tampan dan sukses. Sebuah lain perkawinan dicontoh. Sebuah perkawinan di mana dia merasa dia bisa berbuat baik dan semuanya salah. Sebuah perkawinan di mana dia merasa takut, dikendalikan, dan terjebak. 

Sepuluh minggu kemudian, Janine Latus telah meninggalkan pernikahannya. Dia sedang dalam perjalanan bisnis ke Pantai Timur, menikmati kebebasannya, menghadiri sebuah konferensi kerja, ketika ia menerima telepon dari adiknya Jane menanyakan apakah ia mendengar dari Amy. Segera, darah Janine's berlari dingin. Amy hilang. 

Amy meninggal dalam ketakutan diam dan sakit.  Bagaimana, dia bertanya-tanya, apakah dua hubungan, perempuan sukses berakhir di balik tekanan secara fisik atau emosional hubungan yang kasar dengan laki-laki? Jika If I am Missing or Dead adalah sebuah perjalanan yang menyayat hati penemuan sebagai jejak Janine Latus kakaknya korban dengan gigih terus terang.  Butuh waktu hampir dua tahun sebelum pembunuhnya, mantan pacarnya Ron Ball, dijatuhi hukuman untuk pembunuhannya. 

 

Memoar ini ditulis dengan indah akan bergerak pembaca dari pertama sampai halaman terakhir. Pengakuan, ajakan dan bacaan yang membuka mata tentang banyaknya kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, kisah ini dipersembahkan untuk adik bayinya, Amy Lynne Latus, If I am Missing or Dead adalah bacaan yang tak terlupakan.

 

Sekali lagi, saya telah mendapatkan bacaan yang murah dan penuh inspirasi...

Mungkin saya harus sering-sering mencari buku murah lagi... ^^

 

 

Three Cups of Tea -Satu lagi kisah penuh inspirasi


Three Cups of Tea adalah salah satu cerita petualangan yang luar biasa. Kesulitan dan Bahaya  Greg Mortenson’s untuk mendirikan sekolah-sekolah di bagian liar Pakistan dan Afghanistan tidak hanya sekedar bacaan yang mendebarkan, ini adalah sebuah bukti bahwa seorang pria biasa, dengan it’s proof that one ordinary person, yang berkarakter dan memiliki kebulatan tekad, benar2 dapat merubah dunia.” -Tom Brokaw

Buku ini kebetulan saya beli dengan harga kurang dari 20 ribu. Karena saya tertarik dengan ringkasan cerita yang ada di belakangnya. Tapi setelah saya menyelesaikan membaca buku ini, saya harus katakan buku ini bernilai jauh di atas 20 ribu.
Inilah kisah menakjubkan dan inspiratif tentang Indiana Jones sejati dan perjuangan kemanusiaannya yang mengharukan di “pekarangan belakang” rezim Taliban.


Seorang pendaki gunung, Greg Mortenson, dibawa nasib ke pegunungan Karakoram yang gersang di Pakistan setelah gagal mendaki puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia. Tersentuh oleh keramahan penduduknya, dia berjanji untuk kembali dan membangun sebuah sekolah.
Kisah ini berawal dari sebuah janji..

JANJI
Greg mengamati dan menyimak ketika anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan Pakistan untuk mengawali hari sekolah. Dia melihat anak perempuan Twaha yang berusia delapan tahun, Jahan, berdiri tegap dibalik kerudung ketika bernyanyi. Setelah lagu berakhir, mereka duduk di tanah dan mulai menulis tabel perkalian. Beberapa anak, seperti Jahan, punya papan yang mereka tulisi dengan ranting dicelup lumpur. Yang lainya menulis di tanah dengan ranting. “Bisakah kau bayangkan anak-anak kelas empat di Amerika, sendirian, tanpa guru, duduk tenang dan mengerjakan pelajaran mereka?” tanya Greg di kemudian hari. “Hatiku seakan terkoyak … Aku tahu, aku harus berbuat sesuatu.
Tapi, apa yang bisa dilakukannya?sisa uang hampir tidak mencukupi untuk pergi dengan jip dan bus ke ibukota Pakistan, naik pesawat dan pulang. Akan tetapi, pasti dia bisa melakukan sesuatu.
berdiri di sebelah Haji Ali, memandangi pegunungan yang hendak didakinya setelah mengintari setengah belahan dunia, mendadak Greg merasa bahwa mencapai puncak K2 untuk meletakkan kalung tidaklah begitu penting. Dia melakukan sesuatu yang lebih baik dari pada itu untuk menghormati adiknya, Christa. Dia meletakkan kedua tangan di bahu Haji Ali. “Aku akan membangun sekolah,” ujarnya. “Aku berjanji.”

Seorang Greg, aplikasi luar biasa dari asuhan ayah bundanya, hingga membuatnya begitu memprioritaskan pentingnya kehidupan melayani dan mendidik. Demprey, ayahnya Greg yang suka berpergian suatu hari berkata pada istrinya yang sedang mengandung Greg, ‘Mereka perlu guru di Tanganyika, Ayo pergi ke Afrika’. Dan mereka begitu saja pergi ke Afrika. Demprey bekerja keras membangun rumah sakit pendidikan pertama di Tanzania dan Jerene, istrinya gigih memulai Sekolah Internasional Moshi. Yang disebut Greg sebagai PPB kecil, ‘Ada dua puluh delapan kebangsaan yang berbeda, dan kami merayakan semua hari libur; Hanukkah, Natal, Diwali, Idul Fitri.’ Setelah rumah sakit dan sekolah beres, keluarga Mortenson kembali ke Amerika.

Visi tersebut dibawa Greg dalam hidup. Itu ia buktikan setelah ia tersesat dalam perjalanan pendakian K2, puncak tertinggi kedua di dunia. Sesat yang membawa ia untuk akhirnya melakukan sesuatu hal yang menurut sederhana namun begitu luar biasa. Ia tersesat ke salah satu desa di lereng pegunungan K2, desa Korphe. Ia pria asing pertama yang tersesat, kumal dan sangat letih kemudian dirawat dengan jamuan terbaik di desa miskin oleh kepala desa. Kemudian mengetahui tidak adanya sekolah disana. Maka dimulailah perjuangan tuk membangun sekolah disana. Ia kembali ke Amerika, bekerja dan mengumpulkan uang, bahkan ia menjual apartemen, menyimpan barang di gudang sewaan, dan tidur dalam kantung tidur dalam mobilnya yang akhirnya ia jual untuk biaya keberangkatannya kembali ke Pakistan. Hingga sampai di Pakistan, usulan masih harus tertunda dan memutuskan kembali ke Amerika tuk mengumpulkan uang lagi demi terbangun sebuah sekolah di desa Korphe.

Walaupun mengalami penculikan dan mendapat kecurigaan dari warga setempat, Greg tetap kukuh dengan janjinya, hingga kini ia telah berhasil mendirikan sekolah hingga perbatasan Afghanistan. Sungguh kisah luar biasa…
Sungguh harga luar biasa dari sebuah pengasuhan. Betapa orang tua menjadi sosok terbaik dalam perjalanan kehidupan anaknya. Pengasuhan ini juga yang dibawa Greg dalam keluarganya, hingga anaknya, Amira, mendukung usaha ayah dalam melayani dan mendidik, salah satu melalui program Pennies for Peace dengan mengumpulkan uang receh dari sekolah ke sekolah untuk disumbangkan pada teman-teman seusia agar memperoleh kesempatan belajar sepertinya. Wow…luar biasa ^o^
Mari kita pun memulai….

Buku ini wajib Anda baca, bila Anda mengaku perduli terhadap pendidikan. Penuh Inspirasi, bukan hanya tentang keperdulian tapi tentang pengorbanan dan melakukan langkah yang nyata.
Simak juga ini :

Front of the Class- Kisah penuh Inspirasi

“To never let anything to stop you from chasing your dreams.. from working, or playing, or falling in love.”



Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan mudah, saya yakin tidak semua orang dapat melakukannya, dan kalaupun dapat, tidak semua orang dapat menikmatinya. Apalagi jika Anda seorang penderita Sindrom Taurett, hampir-hampir dapat dikatakan itu mustahil. Tetapi tidak ada kata mustahil bagi Bard Cohen yang luar biasa.

Kebenciannya terhadap guru-guru di masa kecilnya justru memacunya menjadi seorang guru yang sukses. Kisah pembuktian diri yang luar biasa.

Kisah ini saya baca dari kisah Brad Cohen FRONT OF THE CLASS sebuah kisah yang sangat menginspirasi, tentang bagaimana menyikapi diri dengan segala kesulitan yang kita miliki.




Sebuah kutipan menarik yang saya suka, “Beginilah caraku memandang hidup: aku memilih jalan lurus yang akan kuambil. Apakah aku memilih jalan lurus yang mudah? Atau apakah aku memilih jalan yang berliku? Aku memutuskan jalan yang berliku. Aku merasa sukses ketika hidupku penuh dengan petualangan dan tantangan. Bagiku jalan berliku akan membentuk tantangan. Inilah jalanku, dan aku tidak menyesalinya. Kita semua kondisi masing-masing. Kita semua memainkan peran kita, dan kita semua memilih bagaimana kita akan hidup.”

Saya menyukai peran saya sebagai guru, dan pesan yang indah untuk siapapun anda; Saya berharap dengan setulus hati, Anda mau meluangkan waktu untuk melihat generasi muda. Mereka adalah masa depan kita. Mereka adalah orang-orang hebat yang penuh kasih sayang, dan mereka membutuhkan dorongan kita. Dunia ini akan menjadi tempat yang menakjubkan jika setiap anak bisa meraih potensi terbaik mereka. Kita bisa mewujudkannya, sedikit demi sedikit.

Filmnya :




Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 April 2015

Review Buku - Modern Mama

google
Saya membaca buku ini beberapa minggu yang lalu, tertarik membelinya ketika sengaja ke toko buku dan merencanakan membeli beberapa buku, tapi buku ini saya liat sekilas dan tiba-tiba saya sudah membelinya, mungkin karena saya yang merasa belum menjadi ibu yang baik namun butuh belajar terus untuk menjadi ibu yang baik. Dan ternyata saya tidak menyesal membelinya..sangat menginspirasi.

Saya suka gaya Imelda bertutur, hangat dan tidak berkesan menggurui. Mungkin memang seperti berbagi pengalaman sehingga terasa begitu ringan dan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami tapi tetap terasa indah dan emosional. Buku ini terasa berimbang, tanpa memberatkan sisi ibu yang berperan sebagai ibu rumah tangga dan ibu sebagai wanita yang berkarier.  

Buku ini tidak hanya berkisah tentang tanggungjawab seorang ibu sebagaimana banyak buku-buku parenting lain yang saya baca. Tapi buku ini juga mengingatkan saya bahwa seorang ibu yang tentu saja seorang wanita adalah juga manusia biasa (^^), yang butuh bahagia dan tentu saja harus sehat. Hal ini menarik buat saya karena sebagian ibu-ibu selalu memprioritas anak-anaknya tapi mereka lupa bahwa untuk menjadi ibu yang baik mereka juga butuh sehat jasmani dan rohani. 

"Be the best mom you can be, and forgive yourself when things do not happen according to plan."

Saya suka kata-kata itu, begitu menghibur...(^^), yah...menjadi ibu terkadang memang terasa begitu berat. Jadi sekali-sekali kita harus belajar memaafkan diri kita sendiri jika apa yang terjadi kadang berbeda dari yang kita harapkan. Meskipun kita harus tetap terus berusaha melakukan yang terbaik... 

Satu lagi yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana Imelda mengingatkan kita untuk berfikir jauh ke depan. Salah satunya dengan merencanakan keuangan kita dengan lebih baik. Berfikir lebih bijak tentang uang...dan mengelola keuangan dengan bijak. Terima kasih kakak ^^ !

Rabu, 28 Mei 2014

Dear Diva- Bersama


Dear Diva,
Aku sayang kamu... sangat menyayangimu ! Aku memelukmu ....kamu memelukku. Meskipun kedua tanganmu terlalu kecil untuk memelukku sepenuhnya. Lalu kita berdansa sambil berpegangan dengan erat. Kamu tidak akan jatuh.

Aku menggelitikmu... kamu terkikik lucu (tapi jangan di kaki ! JANGAN Karena kalau di kaki paling geli)

Aku membuatmu tertawa ... kamu tertawa bersamaku. Tak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuat kita gembira seperti tawa.

Aku menuntunmu ... kamu memegang tanganku. Aku merasa senang dan kamu akan aman dan nyaman karena aku selalu...menemaniku

Aku bernyanyi untukmu... kamu mengiringi nyanyianku. Yang keras ataupun lembut yang membuatku tertawa. Sebuah lagu pengantar tidur yang enak didengar,

Aku bercerita,,,kau mendengarkan, Menceritakan dongeng sepanjang malam, tentang naga, kstaria perkasa dan putri yang cantik.

Aku ada dalam mimpimu...dan kamu dalam mimpiku. Mimpi terbaik yang membuat ceria sepanjang malam. Mimpiku dan mimpimu. Mimpi kita berdua.

Ayo bersama selamanya. Selalu ada untuk satu sama lain, saling menjaga dan manyayangi...Jadi Semua yang kamu lakukan dan yang aku lakukan. Mari kita lakukan ... bersama !

Dari buku cerita bagus punya Diva yang sering kita baca, dengan sedikit penyesuaian.


Selasa, 27 Mei 2014

Geography of Bliss-Bhutan

Beberapa hari ini saya sedang menekuni satu buku yang berjudul The Geography of Bliss. Buku ini saya temukan di rak bagian traveling di sebuah toko buku, jadi awalnya saya berharap buku ini mengupas tentang hal-hal menarik dari banyak negara namun nyatanya yang saya dapatkan lebih dari itu. Eric Weiner, penulisnya adalah seorang wartawan yang sedang melakukan riset tentang kebahagiaan, sehingga gaya bahasa dari buku ini bukan hanya tentang berbagi pengalaman seperti pada umumnya buku tentang traveling tetapi juga tentang riset dan ilmu pengetahuan yang mendalam (dalam beberapa hal  tidak saya mengerti) serta cara penyampaian yang lucu dan apa adanya menjadi buku ini sangat menarik.

Sejujurnya saya tidak ingin mengupas tentang buku ini. Tapi bagian di dalamnya yang saya garis bawahi. Tentang kebahagiaan negara dalam versi Bhutan, negara yang bahagia. Bagaimana tidak bahagia jika raja di Bhutan Wang Chuk (1973) sudah menggagas Bhutan menjadi negara yang bahagia dengan menetapkan Kebahagiaan Nasional Bruto (Gross National Happiness) lebih penting dari Produk Nasional Bruto.

Kenyataannya, banyak hal terbalik berlaku di Bhutan, di negara ini mengganggap angka 13 adalah angka yang mujur, anak-anak disana akan menyambut anda dengan kata 'bye-bye', raja berkeinginan menghentikan dirinya sendiri dan terakhir di negara berkembang ini mariyuana diberikan kepada babi, karena dapat membuat babi lapar dan akan menggemukkannya. Hay..hay..hay..saya suka ide itu.

Bhutan adalah salah satu negara yang dinobatkan sebagai pengawal bumi, mereka sangat cinta lingkungan, Bahkan raja mewajibkan setiap warga negaranya menanam minimal 10 pohon dalam 1 tahun (kebijakan yang sangat hijau ^^) dan mereka menolak menjual kayu yang berharga (itu keren !).

"Ketika pohon terakhir ditebang
Ketika sungai terakhir dikosongkan,
Ketika ikan terakhir ditangkap. Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat makan uang"

Kalau anda ke Bhutan mungkin anda akan sering melihat rambu-rambu ini !

Banyak hal yang saya pelajari dari Bhutan yang kemudian menjadikannya negara yang bahagia. Sederhanaannya mungkin justru menjadi identitas (kalau anda tidak percaya, ketik bhutan pada mesin pencari anda dan gambar pertama yang anda lihat adalah wajah tampan raja bhutan dalam balutan gho-pakaian nasional bhutan yang dipakai laki-laki di bhutan setiap hari, dalam kesederhanaanya negerinya). Jangan anda berfikir kesederhanaan ini timbul karena kemiskinan negerinya, bhutan adalah negara yang kaya kekayaan alam selain hutan ternyata dalam 'perut' bhutan terkandung minyak bumi dan atas perintah raja, tidak diperbolehkan dilakukan pengeboran. Kesederhanaan juga  terlihat dari penduduk bhutan yang bersekolah ke luar negeri, 90% akan kembali ke bhutan dan mengorbankan gaya hidup barat untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat bhutan.

Banyak hal menarik dari negara di lembah himalaya ini dapat kita jadikan contoh, setidaknya dari caranya mencintai bumi ini. Tapi jangan kuatir, Anda juga berada dalam negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Survey yang di buat Ipsos Global untuk kategori 'bahagia' dan 'sangat bahagia' yang kemudian dimuat di majalah TIME (2012) menyebutkan bahwa 51% warga Indonesia sangat bahagia dan 49% lainnya bahagia. Dan ini paling tinggi diantara negara-negara yang di survey, Sayang Bhutan tidak masuk dalam survey ini ^^ . Sayangnya, meski tetap menjadi negara paling bahagia dalam survey ini Indonesia turun 7 point dari tahun 2007.



Saya harap Anda termasuk 51% dari survey itu ! Kalau anda masih termasuk dalam 49% lainnya, saran saya bersyukurlah maka Anda akan bahagia ^^

Minggu, 27 April 2014

The Help


Lama sekali saya tidak melihat film drama bagus yang saya suka sekali. Siang ini tanpa sengaja saya menemukan film drama yang kece banget ^^ . Judulnya The Help, film lama (2011) yang baru saya tonton. Dan ternyata base on novel yang belum pernah saya baca dan telah memenangkan beberapa penghargaan film (informasi itu tentu saya ketahui setelah selesai menonton filmnya). Secara umum film ini bersetting di Jackson, Mississippi dengan pemeran antara lain Emma Stone, Viola Davis, Octavia Spencer, Bryce Dallas H, Jessica Chastain, Sissy Spacek, Mike Vogel, Mary Steenburgen dan Allison Janney.

Ceritanya menarik mengambil isu sosial tentang rasisme tentang perbedaan warna kulit di tahun1960-an di Amerika. Dan the help disini memang tentang si mbak, si mbok, bibik atau sebutan asisten rumah tangga di rumah yang ada kala itu selalu berkulit berwarna. Yang secara umum sebenarnya mereka juga manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 


Jadi mengingatkan saya pada quote ini :


“When I'm born I'm black, when I grow up I'm black, when I'm in the sun I'm black, when I'm sick I'm black, when I die I'm black, and you... when you're born you're pink, when you grow up you're white, when you're cold you're blue, when you're sick you're blue, when you die you're green and you dare call me colored”
― 
Oglala Lakota



Saya jadi ingat si mbak atau baby sister yang sering saya jumpai sehari-hari, yang biasanya lebih jago masak dari nyonya-nya dan lebih dekat dengan anak majikannya di banding hubungan si anak dengan ibunya sendiri. Yang dalam film ini di ceritakan dengan sangat gamblang oleh Aibeleen dan Minny membuat saya masghul dengan realita ini.

Tidak hanya tentang rasis, kisah ini juga tentang perempuan, dan bagaimana menjadi seorang pemberani. Kisahnya yang membumi banget dan ceritanya tentang orang-orang mungkin ada di sekitar kita dengan latar belakang cerita awal tahun 1960-an, cerita ini indah untuk dilihat dan tentu saja sangat menyentuh dan bikin mewek. Setelah liat filmnya saya jadi tertarik untuk baca bukunya, tapi karena cetakan lama (ya karena saya baru nggeh tentang film bagus ini >.<) jadi agak sulit buat cari bukunya. Bantu ya kalau ada yang masih jual...

Buat saya, hari ini minggu ini buat saya nggak nyesel meluangkan sore saya buat menonton film yang keren banget (meski saya telat 3 tahun ^^).  


Selasa, 18 Desember 2012

Cuma Baca Buku - NEXT


Next... ya saya suka membayangkan apa yang terjadi nanti. Lalu, membayangkan apa yang dilakukan ilmuwan-ilmuwan untuk masa depan. Ah, bayangan saya mungkin akan jadi aneh-aneh. Saya kadang menebak, penemuan apa yang terjadi di masa depan. Mungkinkah manusia akan hidup di Mars atau planet lain ? Mungkinkah kita akan membangun dunia baru yang berbeda dari sekarang ? Manusia berhasil mengkloning dirinya atau entahlah...

Kemudian saya membaca buku ini, dan daya khayal saya semakin tinggi.


ORANGUTAN BISA BICARA DILAPORKAN DI SUMATRA

NEXT

PARA AHLI BERHASIL MENGISOLIR GEN "PEMIMPIN"


NEXT

INDUSTRI MEMPRODUKSI HEWAN PELIHARAAN TRANSGENIK

"Selamat datang di dunia genetika masa kini. Melesat cepat dan tak terkendali. Ini bukan kisah rekaan masa depan-inilah dunia yang kita diami saat ini."

"Kita hidup pada masa terjadinya lompatan-lompatan sains yang luar biasa, ketika kita bisa menjual sel telur dan sperma online demi imbalan ribuan dolar. Kita hidup pada masa para ahli telahberhasil memetakan gen-gen yang menentukan kepribadian, kebiasaan, dan penyakit-penyakit bawaan-atau benarkah begitu ?"


Terlepas dari segala pro kontra yang ada di keilmuan ini, saya suka membaca buku ini. Setidaknya saya serasa belajar biologi lagi... ^^

Menyenangkan sekali, saya masih punya cukup waktu untuk menikmati buku ini di sela-sela waktu yang terus berlari...

Rabu, 15 Juni 2011

If I am Missing or Dead (a Sister Story of Love, Murder, and Liberation)


Satu lagi buku murah yang membuat saya terkejut, karena isinya yang mencengangkan. Buku ini saya beli dengan harga sepuluh ribu rupiah di bagian obral murah meriah di gramedia (ha..ha.. lagi-lagi karena saya pencinta buku murah). Mungkin masuk bagian obral karena buku ini buku terbitan lama (tahun 2002). Tapi isinya banyak memberikan saya pelajaran hidup.



Mungkin sekilas seperti ini ceritanya :

Pada bulan April 2002, adik bungsu Janine Latus, Amy, menulis catatan dan menempelkannya ke bagian dalam laci meja.  “Saat ini Ron Ball dan aku terlibat hubungan romantistapi aku takut aku telah menempatkan diri pada risiko dalam berbagai cara. Berdasarkan tindakan kriminal, saya rasa ini tampak seperti hal yang cerdas untuk dilakukan. Jika saya hilang atau mati (If I am Missing or Dead) surat ini jelas tidak melindungi saya.”

Itu musim semi yang sama Janine Latus berjuang untuk meninggalkan pernikahannya - perkawinan seorang pria tampan dan sukses. Sebuah lain perkawinan dicontoh. Sebuah perkawinan di mana dia merasa dia bisa berbuat baik dan semuanya salah. Sebuah perkawinan di mana dia merasa takut, dikendalikan, dan terjebak. 

Sepuluh minggu kemudian, Janine Latus telah meninggalkan pernikahannya. Dia sedang dalam perjalanan bisnis ke Pantai Timur, menikmati kebebasannya, menghadiri sebuah konferensi kerja, ketika ia menerima telepon dari adiknya Jane menanyakan apakah ia mendengar dari Amy. Segera, darah Janine's berlari dingin. Amy hilang. 

Amy meninggal dalam ketakutan diam dan sakit.  Bagaimana, dia bertanya-tanya, apakah dua hubungan, perempuan sukses berakhir di balik tekanan secara fisik atau emosional hubungan yang kasar dengan laki-laki? Jika If I am Missing or Dead adalah sebuah perjalanan yang menyayat hati penemuan sebagai jejak Janine Latus kakaknya korban dengan gigih terus terang.  Butuh waktu hampir dua tahun sebelum pembunuhnya, mantan pacarnya Ron Ball, dijatuhi hukuman untuk pembunuhannya. 

 

Memoar ini ditulis dengan indah akan bergerak pembaca dari pertama sampai halaman terakhir. Pengakuan, ajakan dan bacaan yang membuka mata tentang banyaknya kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, kisah ini dipersembahkan untuk adik bayinya, Amy Lynne Latus, If I am Missing or Dead adalah bacaan yang tak terlupakan.

 

Sekali lagi, saya telah mendapatkan bacaan yang murah dan penuh inspirasi...

Mungkin saya harus sering-sering mencari buku murah lagi... ^^

 

 

Jumat, 20 Mei 2011

Three Cups of Tea -Satu lagi kisah penuh inspirasi


Three Cups of Tea adalah salah satu cerita petualangan yang luar biasa. Kesulitan dan Bahaya  Greg Mortenson’s untuk mendirikan sekolah-sekolah di bagian liar Pakistan dan Afghanistan tidak hanya sekedar bacaan yang mendebarkan, ini adalah sebuah bukti bahwa seorang pria biasa, dengan it’s proof that one ordinary person, yang berkarakter dan memiliki kebulatan tekad, benar2 dapat merubah dunia.” -Tom Brokaw

Buku ini kebetulan saya beli dengan harga kurang dari 20 ribu. Karena saya tertarik dengan ringkasan cerita yang ada di belakangnya. Tapi setelah saya menyelesaikan membaca buku ini, saya harus katakan buku ini bernilai jauh di atas 20 ribu.
Inilah kisah menakjubkan dan inspiratif tentang Indiana Jones sejati dan perjuangan kemanusiaannya yang mengharukan di “pekarangan belakang” rezim Taliban.


Seorang pendaki gunung, Greg Mortenson, dibawa nasib ke pegunungan Karakoram yang gersang di Pakistan setelah gagal mendaki puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia. Tersentuh oleh keramahan penduduknya, dia berjanji untuk kembali dan membangun sebuah sekolah.
Kisah ini berawal dari sebuah janji..

JANJI
Greg mengamati dan menyimak ketika anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan Pakistan untuk mengawali hari sekolah. Dia melihat anak perempuan Twaha yang berusia delapan tahun, Jahan, berdiri tegap dibalik kerudung ketika bernyanyi. Setelah lagu berakhir, mereka duduk di tanah dan mulai menulis tabel perkalian. Beberapa anak, seperti Jahan, punya papan yang mereka tulisi dengan ranting dicelup lumpur. Yang lainya menulis di tanah dengan ranting. “Bisakah kau bayangkan anak-anak kelas empat di Amerika, sendirian, tanpa guru, duduk tenang dan mengerjakan pelajaran mereka?” tanya Greg di kemudian hari. “Hatiku seakan terkoyak … Aku tahu, aku harus berbuat sesuatu.
Tapi, apa yang bisa dilakukannya?sisa uang hampir tidak mencukupi untuk pergi dengan jip dan bus ke ibukota Pakistan, naik pesawat dan pulang. Akan tetapi, pasti dia bisa melakukan sesuatu.
berdiri di sebelah Haji Ali, memandangi pegunungan yang hendak didakinya setelah mengintari setengah belahan dunia, mendadak Greg merasa bahwa mencapai puncak K2 untuk meletakkan kalung tidaklah begitu penting. Dia melakukan sesuatu yang lebih baik dari pada itu untuk menghormati adiknya, Christa. Dia meletakkan kedua tangan di bahu Haji Ali. “Aku akan membangun sekolah,” ujarnya. “Aku berjanji.”

Seorang Greg, aplikasi luar biasa dari asuhan ayah bundanya, hingga membuatnya begitu memprioritaskan pentingnya kehidupan melayani dan mendidik. Demprey, ayahnya Greg yang suka berpergian suatu hari berkata pada istrinya yang sedang mengandung Greg, ‘Mereka perlu guru di Tanganyika, Ayo pergi ke Afrika’. Dan mereka begitu saja pergi ke Afrika. Demprey bekerja keras membangun rumah sakit pendidikan pertama di Tanzania dan Jerene, istrinya gigih memulai Sekolah Internasional Moshi. Yang disebut Greg sebagai PPB kecil, ‘Ada dua puluh delapan kebangsaan yang berbeda, dan kami merayakan semua hari libur; Hanukkah, Natal, Diwali, Idul Fitri.’ Setelah rumah sakit dan sekolah beres, keluarga Mortenson kembali ke Amerika.

Visi tersebut dibawa Greg dalam hidup. Itu ia buktikan setelah ia tersesat dalam perjalanan pendakian K2, puncak tertinggi kedua di dunia. Sesat yang membawa ia untuk akhirnya melakukan sesuatu hal yang menurut sederhana namun begitu luar biasa. Ia tersesat ke salah satu desa di lereng pegunungan K2, desa Korphe. Ia pria asing pertama yang tersesat, kumal dan sangat letih kemudian dirawat dengan jamuan terbaik di desa miskin oleh kepala desa. Kemudian mengetahui tidak adanya sekolah disana. Maka dimulailah perjuangan tuk membangun sekolah disana. Ia kembali ke Amerika, bekerja dan mengumpulkan uang, bahkan ia menjual apartemen, menyimpan barang di gudang sewaan, dan tidur dalam kantung tidur dalam mobilnya yang akhirnya ia jual untuk biaya keberangkatannya kembali ke Pakistan. Hingga sampai di Pakistan, usulan masih harus tertunda dan memutuskan kembali ke Amerika tuk mengumpulkan uang lagi demi terbangun sebuah sekolah di desa Korphe.

Walaupun mengalami penculikan dan mendapat kecurigaan dari warga setempat, Greg tetap kukuh dengan janjinya, hingga kini ia telah berhasil mendirikan sekolah hingga perbatasan Afghanistan. Sungguh kisah luar biasa…
Sungguh harga luar biasa dari sebuah pengasuhan. Betapa orang tua menjadi sosok terbaik dalam perjalanan kehidupan anaknya. Pengasuhan ini juga yang dibawa Greg dalam keluarganya, hingga anaknya, Amira, mendukung usaha ayah dalam melayani dan mendidik, salah satu melalui program Pennies for Peace dengan mengumpulkan uang receh dari sekolah ke sekolah untuk disumbangkan pada teman-teman seusia agar memperoleh kesempatan belajar sepertinya. Wow…luar biasa ^o^
Mari kita pun memulai….

Buku ini wajib Anda baca, bila Anda mengaku perduli terhadap pendidikan. Penuh Inspirasi, bukan hanya tentang keperdulian tapi tentang pengorbanan dan melakukan langkah yang nyata.
Simak juga ini :

Sabtu, 14 Mei 2011

Front of the Class- Kisah penuh Inspirasi

“To never let anything to stop you from chasing your dreams.. from working, or playing, or falling in love.”



Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan mudah, saya yakin tidak semua orang dapat melakukannya, dan kalaupun dapat, tidak semua orang dapat menikmatinya. Apalagi jika Anda seorang penderita Sindrom Taurett, hampir-hampir dapat dikatakan itu mustahil. Tetapi tidak ada kata mustahil bagi Bard Cohen yang luar biasa.

Kebenciannya terhadap guru-guru di masa kecilnya justru memacunya menjadi seorang guru yang sukses. Kisah pembuktian diri yang luar biasa.

Kisah ini saya baca dari kisah Brad Cohen FRONT OF THE CLASS sebuah kisah yang sangat menginspirasi, tentang bagaimana menyikapi diri dengan segala kesulitan yang kita miliki.




Sebuah kutipan menarik yang saya suka, “Beginilah caraku memandang hidup: aku memilih jalan lurus yang akan kuambil. Apakah aku memilih jalan lurus yang mudah? Atau apakah aku memilih jalan yang berliku? Aku memutuskan jalan yang berliku. Aku merasa sukses ketika hidupku penuh dengan petualangan dan tantangan. Bagiku jalan berliku akan membentuk tantangan. Inilah jalanku, dan aku tidak menyesalinya. Kita semua kondisi masing-masing. Kita semua memainkan peran kita, dan kita semua memilih bagaimana kita akan hidup.”

Saya menyukai peran saya sebagai guru, dan pesan yang indah untuk siapapun anda; Saya berharap dengan setulus hati, Anda mau meluangkan waktu untuk melihat generasi muda. Mereka adalah masa depan kita. Mereka adalah orang-orang hebat yang penuh kasih sayang, dan mereka membutuhkan dorongan kita. Dunia ini akan menjadi tempat yang menakjubkan jika setiap anak bisa meraih potensi terbaik mereka. Kita bisa mewujudkannya, sedikit demi sedikit.

Filmnya :