Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-we care. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-we care. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 Juli 2014

Won't Back Down - Beautiful and Touching

google

Won't Back Down (2012) adalah salah satu film yang memberi saya banyak pelajaran tentang banyak hal. Dari beraneka banyak film yang saya tonton tidak banyak film bertema pendidikan yang dikemas dengan cantik dan mengharukan. Dan film yang satu ini layak diapresiasi.

Secara umum film ini berkisah tentang dua orang supermom yang ingin membangun sekolah yang "benar" dimana dikisahkan sulitnya mencari sekolah yang "benar" pada masa-masa ini. Mungkin dari beberapa sisi terdengar idealis, tapi maksud yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana yaitu agar sekolah memainkan perannya sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas. Diceritakan dalam film tersebut bahwa beberapa lulusan sekolah dasar belum mampu membaca. Menjadi sangat kontradikitif secara fungsi jika sekolah tidak mampu mengemban fungsinya secara maksimal.

Maggie Gylenhaal sebagai Jaime Fitzpatrick seorang ibu penderita disleksia dengan putri disleksia juga sangat berharap, putrinya mendapatkan pendidikan yang terbaik, tanpa dianggap aneh atau bodoh. Viola Davis sebagai Nona Alberts seorang guru yang memiliki rasa bersalah besar terhadap kecelakan masa lalu yang dia alami bersama putranya, mungkin salah satu contoh guru yang berani membuka mata dan berani bergerak untuk mengubah suatu sistem pendidikan yang lebih baik. Secara keseluruhan Won't Back Down merupakan karya yang sangat menyentuh hati dan mengharukan (saya terharu biru menontonnya). Ditambah lagi akting kedua pemeran utamanya yang jempolan. Dua orang ibu yang bersusah payah untuk mengangun sebuah sekolah baru yang berkualitas dan mampu mencerdaskan murid-muridnya memang tampak sulit dan tidak mungkin, namun jika belajar dari Won't Back Down perjuangan untuk kebaikan itu mungkin dilakukan.

Secara keseluruhan saya menikmati menonton film ini, tidak hanya terhibur namun juga terinspirasi. Sebagai ibu dari seorang anak perempuan saya tersentuh dengan cara Jaime Fitzpatrick membagun semangat untuk putrinya. Sebagai pendidik saya suka cara Nona Alberts saat mengajar, saya suka bagaimana film ini menohok saya untuk menjadi pendidik yang tidak hanya baik tapi juga benar. Sadar betapa beratnya tugas itu, mungkin kita memang harus mampu memandang bahwa murid-murid kita adalah anak-anak kita sendiri. Sehingga tanggung jawab itu akan lebih berasa. Sebagai ibu dan pendidik saya jadi bersemangat untuk menjadikan pendidikan yang lebih baik.

Won't Back Down, beautiful and touching movie

Senin, 15 Oktober 2012

Aku Pendidik - Untuk diingat



Saya selalu ingat bahwa setiap kata yang terucap adalah doa, karena saya selalu ingat itu maka saya akan berusaha untuk selalu berhati-hati dalam berkata-kata. Merangkai kata kemudian mengungkapkannya ternyata bukan pekerjaan sederhana, karena terkadang kita kesulitan menggabungkannya. Sering kali apa yang terucap berbeda dengan yang terpikirkan. Ah...saya benci jika itu terjadi... Tapi jika kita sengaja mengatakan sesuatu yang buruk. Bersiap-siaplah, karena ternyata dengan cara ini kita memilih doa yang buruk pula.

Karena ini juga, pekerjaan pendidik akhirnya menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Karena bagi pendidik, tutur kata adalah salah satu senjata. Namanya juga senjata, bisa jadi alat yang bermanfaat tetapi bisa juga menjadi sesuatu yang membahayakan.

Saya selalu sedih jika mendengar ada pendidik yang sengaja mengatakan sesuatu yang buruk tentang anak didiknya. Saya tahu pekerjaan mendidik tidaklah mudah, tapi bukankah jika kita memilih suatu pekerjaan kita harus siap sedia menerima paket lengkap dalam pekerjaan itu. Saya sendiri, mungkin masih sering mengeluhkan anak didik saya yang melakukan apa yang tidak saya suka kemudian tanpa sengaja melontarkan kata-kata yang mungkin akan menjadi doa yang buruk. Ah... saya sungguh tidak bermaksud demikian.

Karenanya benar kiranya bahwa seorang pengajar adalah seorang seniman, ya...seni dengan media jiwa dan akal manusia. Jadi jika anda seorang pengajar, jadilah seniman yang menghasilkan sesuatu yang indah dengan  cara yang indah.

Saya selalu ingat, "Pendidik yang baik tidak pernah bilang anak didiknya bodoh; tapi pendidik yang baik selalu bilang, 'anak didik saya belum bisa'"

Karena itu, tolong ingatkan saya jika saya sampai berkata bahwa anak didik saya bodoh, artinya saya punya tanggungjawab besar untuk menjadikannya lebih baik tapi jika itu tidak berhasil. Artinya, ada yang salah dengan saya.

Oya satu lagi, jika anak didik saya sudah pandai.... maka artinya tidak ada pekerjaan lagi buat saya... Ah, yang beneng dor  ^^ !

Sabtu, 14 Mei 2011

Front of the Class- Kisah penuh Inspirasi

“To never let anything to stop you from chasing your dreams.. from working, or playing, or falling in love.”



Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan mudah, saya yakin tidak semua orang dapat melakukannya, dan kalaupun dapat, tidak semua orang dapat menikmatinya. Apalagi jika Anda seorang penderita Sindrom Taurett, hampir-hampir dapat dikatakan itu mustahil. Tetapi tidak ada kata mustahil bagi Bard Cohen yang luar biasa.

Kebenciannya terhadap guru-guru di masa kecilnya justru memacunya menjadi seorang guru yang sukses. Kisah pembuktian diri yang luar biasa.

Kisah ini saya baca dari kisah Brad Cohen FRONT OF THE CLASS sebuah kisah yang sangat menginspirasi, tentang bagaimana menyikapi diri dengan segala kesulitan yang kita miliki.




Sebuah kutipan menarik yang saya suka, “Beginilah caraku memandang hidup: aku memilih jalan lurus yang akan kuambil. Apakah aku memilih jalan lurus yang mudah? Atau apakah aku memilih jalan yang berliku? Aku memutuskan jalan yang berliku. Aku merasa sukses ketika hidupku penuh dengan petualangan dan tantangan. Bagiku jalan berliku akan membentuk tantangan. Inilah jalanku, dan aku tidak menyesalinya. Kita semua kondisi masing-masing. Kita semua memainkan peran kita, dan kita semua memilih bagaimana kita akan hidup.”

Saya menyukai peran saya sebagai guru, dan pesan yang indah untuk siapapun anda; Saya berharap dengan setulus hati, Anda mau meluangkan waktu untuk melihat generasi muda. Mereka adalah masa depan kita. Mereka adalah orang-orang hebat yang penuh kasih sayang, dan mereka membutuhkan dorongan kita. Dunia ini akan menjadi tempat yang menakjubkan jika setiap anak bisa meraih potensi terbaik mereka. Kita bisa mewujudkannya, sedikit demi sedikit.

Filmnya :




Selasa, 24 November 2009

Cermin Pendidikan

Cermin Pendidikan
(Hubungan Pendidik-Peserta didik)
“Menjadikan Hidup Lebih Berarti”

Menjadi pendidik merupakan profesi yang menarik, walaupun pengalaman menjadi guru baru beberapa bulan namun aku sudah jatuh cinta pada profesi ini…
Kenyataannya, dibalik kecintaan ini memdatangkan tantangan baru yang semakin lama semakin berat. Sadar atau tidak, perduli atau tidak, seorang guru pasti mengetahui bahwa saat ini makin banyak murid sekolah, bahkan mahasiswa yang bosan dengan proses belajar formal di sekolah atau perguruan tinggi.
Hal ini dapat menyebabkan semangat belajar dari peserta didik akan menurun…padahal tujuan asasi pendidikan adalah berupa tumbuh kembang peserta didik yang makin lama gemar belajar, semakin suka belajar sendiri dan mampu belajar secara mandiri.
Kegemaran dan kemampuan belajar mandiri menjadi penting karena akan mengembangkan biopsikososiospiritual pada peserta didik. Juga lebih memungkinkan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah di tengah kehidupan riil, dan memungkinkan memberi arti bagi kehidupannya…
Penurunan semangat belajar dapat dikarenakan peserta didik kurang merasakan hubungan yang relevan dengan apa yang mereka pelajari di sekolah, sehingga sebagian besar di antara mereka merasakan bahwa aktivitas belajar hanya untuk ulangan, naik kelas atau kelulusan saja.
Lalu pertanyaannya, bagaimana kita dapat merubahnya ?
Terdapat alternatif penyelesaian…
1.Kembangkan kreativitas peserta didik, menyadarkan mereka bahwa, mereka dapat menjadikan hidup mereka lebih berarti dengan kreativitas yang mereka kembangkan.
Kenyataan yang terjadi, besarnya beban belajar, dan ambisi orang tua dan guru untuk mencetak “siswa yang serba bisa”
2.Meningkatan kreativitas pendidik, karena merujuk dari ungkapan Bebbi de Porte, Mark Reardon, dan Sarah Singer Novrie: Their to Ours, Ours to Theirs, atau “Bawalah dunia pada murid ke dunia para pendidik, kemudian antarkan dunia para pendidik ke dunia para murid.”
Kenyataan yang terjadi, pendidik datang ke sekolah dengan tujuan utama yaitu mengajar untuk menyelesaikan seabrek bahan sesuai KTSP.
3.Perlunya hubungan yang hangat antara pendidik dan peserta didik. Karena hubungan hangat dan sling mengerti penting untuk menumbuhkembangkan suasana belajar-mengajar yang menyenangkan.
Kenyataan yang terjadi, peserta didik dan pendidik bertemu untuk menyelesaikan kontrak pekerjaan atau tugas masing-masing. Padahal sesungguhnya, motivasi belajar mengajar akan lebih berkembang jika ada relasi yang menyenangkan, penuh saling hormat, saling menghargai, dan saling mengerti antara pendidik dan peserta didik.
Jika ketiga hal diatas dapat dilaksanakan dengan baik maka dapat meningkatkan semangat belajar peserta didik. Satu hal lagi yang dapat mereka pelajari adalah menjadikan hidup mereke lebih berarti.

Dari tulisan Limas Sutanto, SpKJ dengan perubahan..
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-we care. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-we care. Tampilkan semua postingan

Won't Back Down - Beautiful and Touching

google

Won't Back Down (2012) adalah salah satu film yang memberi saya banyak pelajaran tentang banyak hal. Dari beraneka banyak film yang saya tonton tidak banyak film bertema pendidikan yang dikemas dengan cantik dan mengharukan. Dan film yang satu ini layak diapresiasi.

Secara umum film ini berkisah tentang dua orang supermom yang ingin membangun sekolah yang "benar" dimana dikisahkan sulitnya mencari sekolah yang "benar" pada masa-masa ini. Mungkin dari beberapa sisi terdengar idealis, tapi maksud yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana yaitu agar sekolah memainkan perannya sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas. Diceritakan dalam film tersebut bahwa beberapa lulusan sekolah dasar belum mampu membaca. Menjadi sangat kontradikitif secara fungsi jika sekolah tidak mampu mengemban fungsinya secara maksimal.

Maggie Gylenhaal sebagai Jaime Fitzpatrick seorang ibu penderita disleksia dengan putri disleksia juga sangat berharap, putrinya mendapatkan pendidikan yang terbaik, tanpa dianggap aneh atau bodoh. Viola Davis sebagai Nona Alberts seorang guru yang memiliki rasa bersalah besar terhadap kecelakan masa lalu yang dia alami bersama putranya, mungkin salah satu contoh guru yang berani membuka mata dan berani bergerak untuk mengubah suatu sistem pendidikan yang lebih baik. Secara keseluruhan Won't Back Down merupakan karya yang sangat menyentuh hati dan mengharukan (saya terharu biru menontonnya). Ditambah lagi akting kedua pemeran utamanya yang jempolan. Dua orang ibu yang bersusah payah untuk mengangun sebuah sekolah baru yang berkualitas dan mampu mencerdaskan murid-muridnya memang tampak sulit dan tidak mungkin, namun jika belajar dari Won't Back Down perjuangan untuk kebaikan itu mungkin dilakukan.

Secara keseluruhan saya menikmati menonton film ini, tidak hanya terhibur namun juga terinspirasi. Sebagai ibu dari seorang anak perempuan saya tersentuh dengan cara Jaime Fitzpatrick membagun semangat untuk putrinya. Sebagai pendidik saya suka cara Nona Alberts saat mengajar, saya suka bagaimana film ini menohok saya untuk menjadi pendidik yang tidak hanya baik tapi juga benar. Sadar betapa beratnya tugas itu, mungkin kita memang harus mampu memandang bahwa murid-murid kita adalah anak-anak kita sendiri. Sehingga tanggung jawab itu akan lebih berasa. Sebagai ibu dan pendidik saya jadi bersemangat untuk menjadikan pendidikan yang lebih baik.

Won't Back Down, beautiful and touching movie

Aku Pendidik - Untuk diingat



Saya selalu ingat bahwa setiap kata yang terucap adalah doa, karena saya selalu ingat itu maka saya akan berusaha untuk selalu berhati-hati dalam berkata-kata. Merangkai kata kemudian mengungkapkannya ternyata bukan pekerjaan sederhana, karena terkadang kita kesulitan menggabungkannya. Sering kali apa yang terucap berbeda dengan yang terpikirkan. Ah...saya benci jika itu terjadi... Tapi jika kita sengaja mengatakan sesuatu yang buruk. Bersiap-siaplah, karena ternyata dengan cara ini kita memilih doa yang buruk pula.

Karena ini juga, pekerjaan pendidik akhirnya menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Karena bagi pendidik, tutur kata adalah salah satu senjata. Namanya juga senjata, bisa jadi alat yang bermanfaat tetapi bisa juga menjadi sesuatu yang membahayakan.

Saya selalu sedih jika mendengar ada pendidik yang sengaja mengatakan sesuatu yang buruk tentang anak didiknya. Saya tahu pekerjaan mendidik tidaklah mudah, tapi bukankah jika kita memilih suatu pekerjaan kita harus siap sedia menerima paket lengkap dalam pekerjaan itu. Saya sendiri, mungkin masih sering mengeluhkan anak didik saya yang melakukan apa yang tidak saya suka kemudian tanpa sengaja melontarkan kata-kata yang mungkin akan menjadi doa yang buruk. Ah... saya sungguh tidak bermaksud demikian.

Karenanya benar kiranya bahwa seorang pengajar adalah seorang seniman, ya...seni dengan media jiwa dan akal manusia. Jadi jika anda seorang pengajar, jadilah seniman yang menghasilkan sesuatu yang indah dengan  cara yang indah.

Saya selalu ingat, "Pendidik yang baik tidak pernah bilang anak didiknya bodoh; tapi pendidik yang baik selalu bilang, 'anak didik saya belum bisa'"

Karena itu, tolong ingatkan saya jika saya sampai berkata bahwa anak didik saya bodoh, artinya saya punya tanggungjawab besar untuk menjadikannya lebih baik tapi jika itu tidak berhasil. Artinya, ada yang salah dengan saya.

Oya satu lagi, jika anak didik saya sudah pandai.... maka artinya tidak ada pekerjaan lagi buat saya... Ah, yang beneng dor  ^^ !

Front of the Class- Kisah penuh Inspirasi

“To never let anything to stop you from chasing your dreams.. from working, or playing, or falling in love.”



Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan mudah, saya yakin tidak semua orang dapat melakukannya, dan kalaupun dapat, tidak semua orang dapat menikmatinya. Apalagi jika Anda seorang penderita Sindrom Taurett, hampir-hampir dapat dikatakan itu mustahil. Tetapi tidak ada kata mustahil bagi Bard Cohen yang luar biasa.

Kebenciannya terhadap guru-guru di masa kecilnya justru memacunya menjadi seorang guru yang sukses. Kisah pembuktian diri yang luar biasa.

Kisah ini saya baca dari kisah Brad Cohen FRONT OF THE CLASS sebuah kisah yang sangat menginspirasi, tentang bagaimana menyikapi diri dengan segala kesulitan yang kita miliki.




Sebuah kutipan menarik yang saya suka, “Beginilah caraku memandang hidup: aku memilih jalan lurus yang akan kuambil. Apakah aku memilih jalan lurus yang mudah? Atau apakah aku memilih jalan yang berliku? Aku memutuskan jalan yang berliku. Aku merasa sukses ketika hidupku penuh dengan petualangan dan tantangan. Bagiku jalan berliku akan membentuk tantangan. Inilah jalanku, dan aku tidak menyesalinya. Kita semua kondisi masing-masing. Kita semua memainkan peran kita, dan kita semua memilih bagaimana kita akan hidup.”

Saya menyukai peran saya sebagai guru, dan pesan yang indah untuk siapapun anda; Saya berharap dengan setulus hati, Anda mau meluangkan waktu untuk melihat generasi muda. Mereka adalah masa depan kita. Mereka adalah orang-orang hebat yang penuh kasih sayang, dan mereka membutuhkan dorongan kita. Dunia ini akan menjadi tempat yang menakjubkan jika setiap anak bisa meraih potensi terbaik mereka. Kita bisa mewujudkannya, sedikit demi sedikit.

Filmnya :




Cermin Pendidikan

Cermin Pendidikan
(Hubungan Pendidik-Peserta didik)
“Menjadikan Hidup Lebih Berarti”

Menjadi pendidik merupakan profesi yang menarik, walaupun pengalaman menjadi guru baru beberapa bulan namun aku sudah jatuh cinta pada profesi ini…
Kenyataannya, dibalik kecintaan ini memdatangkan tantangan baru yang semakin lama semakin berat. Sadar atau tidak, perduli atau tidak, seorang guru pasti mengetahui bahwa saat ini makin banyak murid sekolah, bahkan mahasiswa yang bosan dengan proses belajar formal di sekolah atau perguruan tinggi.
Hal ini dapat menyebabkan semangat belajar dari peserta didik akan menurun…padahal tujuan asasi pendidikan adalah berupa tumbuh kembang peserta didik yang makin lama gemar belajar, semakin suka belajar sendiri dan mampu belajar secara mandiri.
Kegemaran dan kemampuan belajar mandiri menjadi penting karena akan mengembangkan biopsikososiospiritual pada peserta didik. Juga lebih memungkinkan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah di tengah kehidupan riil, dan memungkinkan memberi arti bagi kehidupannya…
Penurunan semangat belajar dapat dikarenakan peserta didik kurang merasakan hubungan yang relevan dengan apa yang mereka pelajari di sekolah, sehingga sebagian besar di antara mereka merasakan bahwa aktivitas belajar hanya untuk ulangan, naik kelas atau kelulusan saja.
Lalu pertanyaannya, bagaimana kita dapat merubahnya ?
Terdapat alternatif penyelesaian…
1.Kembangkan kreativitas peserta didik, menyadarkan mereka bahwa, mereka dapat menjadikan hidup mereka lebih berarti dengan kreativitas yang mereka kembangkan.
Kenyataan yang terjadi, besarnya beban belajar, dan ambisi orang tua dan guru untuk mencetak “siswa yang serba bisa”
2.Meningkatan kreativitas pendidik, karena merujuk dari ungkapan Bebbi de Porte, Mark Reardon, dan Sarah Singer Novrie: Their to Ours, Ours to Theirs, atau “Bawalah dunia pada murid ke dunia para pendidik, kemudian antarkan dunia para pendidik ke dunia para murid.”
Kenyataan yang terjadi, pendidik datang ke sekolah dengan tujuan utama yaitu mengajar untuk menyelesaikan seabrek bahan sesuai KTSP.
3.Perlunya hubungan yang hangat antara pendidik dan peserta didik. Karena hubungan hangat dan sling mengerti penting untuk menumbuhkembangkan suasana belajar-mengajar yang menyenangkan.
Kenyataan yang terjadi, peserta didik dan pendidik bertemu untuk menyelesaikan kontrak pekerjaan atau tugas masing-masing. Padahal sesungguhnya, motivasi belajar mengajar akan lebih berkembang jika ada relasi yang menyenangkan, penuh saling hormat, saling menghargai, dan saling mengerti antara pendidik dan peserta didik.
Jika ketiga hal diatas dapat dilaksanakan dengan baik maka dapat meningkatkan semangat belajar peserta didik. Satu hal lagi yang dapat mereka pelajari adalah menjadikan hidup mereke lebih berarti.

Dari tulisan Limas Sutanto, SpKJ dengan perubahan..
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-we care. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-we care. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Won't Back Down - Beautiful and Touching

google

Won't Back Down (2012) adalah salah satu film yang memberi saya banyak pelajaran tentang banyak hal. Dari beraneka banyak film yang saya tonton tidak banyak film bertema pendidikan yang dikemas dengan cantik dan mengharukan. Dan film yang satu ini layak diapresiasi.

Secara umum film ini berkisah tentang dua orang supermom yang ingin membangun sekolah yang "benar" dimana dikisahkan sulitnya mencari sekolah yang "benar" pada masa-masa ini. Mungkin dari beberapa sisi terdengar idealis, tapi maksud yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana yaitu agar sekolah memainkan perannya sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas. Diceritakan dalam film tersebut bahwa beberapa lulusan sekolah dasar belum mampu membaca. Menjadi sangat kontradikitif secara fungsi jika sekolah tidak mampu mengemban fungsinya secara maksimal.

Maggie Gylenhaal sebagai Jaime Fitzpatrick seorang ibu penderita disleksia dengan putri disleksia juga sangat berharap, putrinya mendapatkan pendidikan yang terbaik, tanpa dianggap aneh atau bodoh. Viola Davis sebagai Nona Alberts seorang guru yang memiliki rasa bersalah besar terhadap kecelakan masa lalu yang dia alami bersama putranya, mungkin salah satu contoh guru yang berani membuka mata dan berani bergerak untuk mengubah suatu sistem pendidikan yang lebih baik. Secara keseluruhan Won't Back Down merupakan karya yang sangat menyentuh hati dan mengharukan (saya terharu biru menontonnya). Ditambah lagi akting kedua pemeran utamanya yang jempolan. Dua orang ibu yang bersusah payah untuk mengangun sebuah sekolah baru yang berkualitas dan mampu mencerdaskan murid-muridnya memang tampak sulit dan tidak mungkin, namun jika belajar dari Won't Back Down perjuangan untuk kebaikan itu mungkin dilakukan.

Secara keseluruhan saya menikmati menonton film ini, tidak hanya terhibur namun juga terinspirasi. Sebagai ibu dari seorang anak perempuan saya tersentuh dengan cara Jaime Fitzpatrick membagun semangat untuk putrinya. Sebagai pendidik saya suka cara Nona Alberts saat mengajar, saya suka bagaimana film ini menohok saya untuk menjadi pendidik yang tidak hanya baik tapi juga benar. Sadar betapa beratnya tugas itu, mungkin kita memang harus mampu memandang bahwa murid-murid kita adalah anak-anak kita sendiri. Sehingga tanggung jawab itu akan lebih berasa. Sebagai ibu dan pendidik saya jadi bersemangat untuk menjadikan pendidikan yang lebih baik.

Won't Back Down, beautiful and touching movie

Senin, 15 Oktober 2012

Aku Pendidik - Untuk diingat



Saya selalu ingat bahwa setiap kata yang terucap adalah doa, karena saya selalu ingat itu maka saya akan berusaha untuk selalu berhati-hati dalam berkata-kata. Merangkai kata kemudian mengungkapkannya ternyata bukan pekerjaan sederhana, karena terkadang kita kesulitan menggabungkannya. Sering kali apa yang terucap berbeda dengan yang terpikirkan. Ah...saya benci jika itu terjadi... Tapi jika kita sengaja mengatakan sesuatu yang buruk. Bersiap-siaplah, karena ternyata dengan cara ini kita memilih doa yang buruk pula.

Karena ini juga, pekerjaan pendidik akhirnya menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Karena bagi pendidik, tutur kata adalah salah satu senjata. Namanya juga senjata, bisa jadi alat yang bermanfaat tetapi bisa juga menjadi sesuatu yang membahayakan.

Saya selalu sedih jika mendengar ada pendidik yang sengaja mengatakan sesuatu yang buruk tentang anak didiknya. Saya tahu pekerjaan mendidik tidaklah mudah, tapi bukankah jika kita memilih suatu pekerjaan kita harus siap sedia menerima paket lengkap dalam pekerjaan itu. Saya sendiri, mungkin masih sering mengeluhkan anak didik saya yang melakukan apa yang tidak saya suka kemudian tanpa sengaja melontarkan kata-kata yang mungkin akan menjadi doa yang buruk. Ah... saya sungguh tidak bermaksud demikian.

Karenanya benar kiranya bahwa seorang pengajar adalah seorang seniman, ya...seni dengan media jiwa dan akal manusia. Jadi jika anda seorang pengajar, jadilah seniman yang menghasilkan sesuatu yang indah dengan  cara yang indah.

Saya selalu ingat, "Pendidik yang baik tidak pernah bilang anak didiknya bodoh; tapi pendidik yang baik selalu bilang, 'anak didik saya belum bisa'"

Karena itu, tolong ingatkan saya jika saya sampai berkata bahwa anak didik saya bodoh, artinya saya punya tanggungjawab besar untuk menjadikannya lebih baik tapi jika itu tidak berhasil. Artinya, ada yang salah dengan saya.

Oya satu lagi, jika anak didik saya sudah pandai.... maka artinya tidak ada pekerjaan lagi buat saya... Ah, yang beneng dor  ^^ !

Sabtu, 14 Mei 2011

Front of the Class- Kisah penuh Inspirasi

“To never let anything to stop you from chasing your dreams.. from working, or playing, or falling in love.”



Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan mudah, saya yakin tidak semua orang dapat melakukannya, dan kalaupun dapat, tidak semua orang dapat menikmatinya. Apalagi jika Anda seorang penderita Sindrom Taurett, hampir-hampir dapat dikatakan itu mustahil. Tetapi tidak ada kata mustahil bagi Bard Cohen yang luar biasa.

Kebenciannya terhadap guru-guru di masa kecilnya justru memacunya menjadi seorang guru yang sukses. Kisah pembuktian diri yang luar biasa.

Kisah ini saya baca dari kisah Brad Cohen FRONT OF THE CLASS sebuah kisah yang sangat menginspirasi, tentang bagaimana menyikapi diri dengan segala kesulitan yang kita miliki.




Sebuah kutipan menarik yang saya suka, “Beginilah caraku memandang hidup: aku memilih jalan lurus yang akan kuambil. Apakah aku memilih jalan lurus yang mudah? Atau apakah aku memilih jalan yang berliku? Aku memutuskan jalan yang berliku. Aku merasa sukses ketika hidupku penuh dengan petualangan dan tantangan. Bagiku jalan berliku akan membentuk tantangan. Inilah jalanku, dan aku tidak menyesalinya. Kita semua kondisi masing-masing. Kita semua memainkan peran kita, dan kita semua memilih bagaimana kita akan hidup.”

Saya menyukai peran saya sebagai guru, dan pesan yang indah untuk siapapun anda; Saya berharap dengan setulus hati, Anda mau meluangkan waktu untuk melihat generasi muda. Mereka adalah masa depan kita. Mereka adalah orang-orang hebat yang penuh kasih sayang, dan mereka membutuhkan dorongan kita. Dunia ini akan menjadi tempat yang menakjubkan jika setiap anak bisa meraih potensi terbaik mereka. Kita bisa mewujudkannya, sedikit demi sedikit.

Filmnya :




Selasa, 24 November 2009

Cermin Pendidikan

Cermin Pendidikan
(Hubungan Pendidik-Peserta didik)
“Menjadikan Hidup Lebih Berarti”

Menjadi pendidik merupakan profesi yang menarik, walaupun pengalaman menjadi guru baru beberapa bulan namun aku sudah jatuh cinta pada profesi ini…
Kenyataannya, dibalik kecintaan ini memdatangkan tantangan baru yang semakin lama semakin berat. Sadar atau tidak, perduli atau tidak, seorang guru pasti mengetahui bahwa saat ini makin banyak murid sekolah, bahkan mahasiswa yang bosan dengan proses belajar formal di sekolah atau perguruan tinggi.
Hal ini dapat menyebabkan semangat belajar dari peserta didik akan menurun…padahal tujuan asasi pendidikan adalah berupa tumbuh kembang peserta didik yang makin lama gemar belajar, semakin suka belajar sendiri dan mampu belajar secara mandiri.
Kegemaran dan kemampuan belajar mandiri menjadi penting karena akan mengembangkan biopsikososiospiritual pada peserta didik. Juga lebih memungkinkan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah di tengah kehidupan riil, dan memungkinkan memberi arti bagi kehidupannya…
Penurunan semangat belajar dapat dikarenakan peserta didik kurang merasakan hubungan yang relevan dengan apa yang mereka pelajari di sekolah, sehingga sebagian besar di antara mereka merasakan bahwa aktivitas belajar hanya untuk ulangan, naik kelas atau kelulusan saja.
Lalu pertanyaannya, bagaimana kita dapat merubahnya ?
Terdapat alternatif penyelesaian…
1.Kembangkan kreativitas peserta didik, menyadarkan mereka bahwa, mereka dapat menjadikan hidup mereka lebih berarti dengan kreativitas yang mereka kembangkan.
Kenyataan yang terjadi, besarnya beban belajar, dan ambisi orang tua dan guru untuk mencetak “siswa yang serba bisa”
2.Meningkatan kreativitas pendidik, karena merujuk dari ungkapan Bebbi de Porte, Mark Reardon, dan Sarah Singer Novrie: Their to Ours, Ours to Theirs, atau “Bawalah dunia pada murid ke dunia para pendidik, kemudian antarkan dunia para pendidik ke dunia para murid.”
Kenyataan yang terjadi, pendidik datang ke sekolah dengan tujuan utama yaitu mengajar untuk menyelesaikan seabrek bahan sesuai KTSP.
3.Perlunya hubungan yang hangat antara pendidik dan peserta didik. Karena hubungan hangat dan sling mengerti penting untuk menumbuhkembangkan suasana belajar-mengajar yang menyenangkan.
Kenyataan yang terjadi, peserta didik dan pendidik bertemu untuk menyelesaikan kontrak pekerjaan atau tugas masing-masing. Padahal sesungguhnya, motivasi belajar mengajar akan lebih berkembang jika ada relasi yang menyenangkan, penuh saling hormat, saling menghargai, dan saling mengerti antara pendidik dan peserta didik.
Jika ketiga hal diatas dapat dilaksanakan dengan baik maka dapat meningkatkan semangat belajar peserta didik. Satu hal lagi yang dapat mereka pelajari adalah menjadikan hidup mereke lebih berarti.

Dari tulisan Limas Sutanto, SpKJ dengan perubahan..