Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Minggu, 12 Desember 2010

Arina for Life...: Randy Pausch- "It’s not about how to achieve your ...

Arina for Life...: Randy Pausch- "It’s not about how to achieve your ...: "Saya selalu bilang, ini buku favorit saya... Karena saya belajar banyak dari buku ini... Randy Pausch, seorang prosesor dalam bida..."
Kamis, 09 Desember 2010

Randy Pausch- "It’s not about how to achieve your dream, but about how to live your life"


Saya selalu bilang, ini buku favorit saya...

Karena saya belajar banyak dari buku ini... 


Randy Pausch, seorang prosesor dalam bidang ilmu komputer di Carnegie Mellon University, Pennsylvania. Amerika Serikat yang terkenal karena kuliah terakhirnya yang ia berikan di kampus tersebut berjudul “Really Achieving Your Childhood Dreams” sebelum akhirnya meninggal dunia pada usia 47 tahun karena kanker pankreas.

Randy Pausch yang berusia 47 tahun kembali ke Carnegie Mellon University untuk memberikan kuliah terakhir kepada para kolega, mahasiswa, dan temannya. Profesor ilmu komputer ini berpikir bahwa mungkin sekitar 150 orang yang hadir, tetapi auditorium dengan 400 kursi itu penuh sesak. Selama 1 jam, Randy menyatakan isi hatinya sebagai bentuk perpisahan yang menyentuh, berwawasan, dan humoris, serta lebih berfokus pada kehidupan daripada kematian. Beberapa minggu kemudian, rekaman video dari kuliah tersebut telah dilihat jutaan orang di Internet dan menjadi topik dari buku terlaris. Mereka yang menghadapi kematian seringkali memiliki pandangan yang jelas dan luar biasa tentang apa yang terpenting dalam kehidupan (klik disini untuk melihat video).


Randy Pausch menggambarkan kanker sebagai "masalah teknis" Bagaimana cara ini berguna untuk melihat pada penyakitnya?
Dia berbicara tentang kuliah sebagai sarana ekspresi, dan cara untuk menjangkau anak-anaknya: "Jika saya adalah pelukis, aku akan melukis untuk mereka. Jika saya seorang musisi, saya akan menggubah musik. Tapi aku adalah seorang dosen, jadi saya mengajar kuliah " Ada banyak cara untuk berkomunikasi.


Kenyataannya, rekaman kuliah itu memang sengaja dibuat oleh Randy untuk ketiga anaknya. Ia sudah tidak punya cukup waktu untuk ikut mendampingi ketiga anaknya tumbuh besar. Pelajaran dalam kuliah terakhirnya adalah pelajaran tentang kehidupan yang ingin ia wariskan pada anak-anaknya. Warisan yang tidak akan habis, sebagai pengganti waktu yang tidak akan pernah ia dapatkan untuk menemani mereka tumbuh dewasa.



“It’s not about how to achieve your dream, but about how to live your life”
Dan bagi saya, buku ini mengajarkan saya  untuk terus berjuang dan mensyukuri hidup... apapun yang saya rasakan.
Senin, 29 November 2010

Ketika Ingin menjadi "Pangeran Kecil"

Ketika masih kecil, saya suka sekali membaca sebuah buku yang sebenarnya tidak saya pahami benar isinya. Buku itu berjudul “Pangeran Kecil” yang sempat saya pinjam di perpustakaan sekolah SD saya. Ketika itu, saya anggap buku ini hanya salah satu bacaan menarik yang saya baca berulang-ulang (mungkin karena saya tidak terlalu paham artinya).



Namun ketika saya mulai dewasa dan kembali menemukan buku ini (masih dalam cetakan lama versi Pustaka Jaya bukan Gramedia) saya kembali mengulang membacanya. Dan saya mulai memaknai isinya. Dan bagi saya versi dewasa, buku itu masih luar biasa. . .

Bacaan anak-anak yang sarat makna. . .

Buku yang berjudul asli Le Petit Prince (Pangeran Kecil) adalah novel karya Antoine de Saint Exupéry yang diterbitkan pada tahun 1943 dan sudah di terjemahkan dalam 180 bahasa (waw...saya sungguh beruntung menjadi salah satu pembacanya).  Dan yang paling menarik buat saya adalah novel ini digambar sendiri oleh pengarangnya tentu saja dengan gaya anak-anak yang mengagumkan.

Kisah seorang pangeran dari sebuah asteroid kecil yang jatuh ke Bumi (gurun sahara) dan bertemu dengan seorang pilot yang pesawatnya sedang rusak di gurun yang sama. Dalam buku itu pangeran kecil memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan dan cinta pada si pilot. . .

Ketika saya masih remaja, ibu saya banyak sekali memberi saya petuah-petuah tentang cinta yang saat itu buat saya seperti rambu-rambu. Memberi tahu jalan mana yang boleh dilalui dan yang tidak boleh dilalui... Dan bagi saya, ibu seperti “pangeran kecil” dan saya “pilot” itu. . .Dengan bahasanya ibu memberi  tahu saya semua yang ingin saya tahu...

Bertahun-tahun kemudian, saya berfikir bahwa akan tiba saatnya saya menjadi “pangeran kecil” bagi “pilot-pilot” yang saya kenal. . . . Ketika saya katakan hal itu pada ayah saya, beliau berkata, “Kau sudah menjadi pangeran kecil itu nduk...tanpa kau sadari.” Dan saya percaya. . .

Ternyata ayah salah. . . .saya masih menjadi pilot itu. . . .
Apalagi ketika saya menemukannya...
“Can’t  you see that when i find you, I’ll find me...”

Heem....dan benar-benar menjadi sadar ketika saya kembali membaca buku ini bebrapa hari ini, masih ingat betul apa yang dikatakan rubah kepada pangeran kecil, "Manusia kadang sering lupa, bahwa mereka bertanggung jawab, selamanya, atas apa yang telah mereka jinakkan". Dan ternyata benar, saya masih pilot itu...

Namun ungkapan yang paling saya suka adalah ketika rubah berkata kepada Pangeran Kecil:
 "On ne voit bien qu'avec le cœur, l'essentiel est invisible pour les yeux."
“Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata.”


Akhirnya saya semakin sadar . . . tidak akan mudah menjadi pangeran kecil itu...




Randy Pausch- "It’s not about how to achieve your dream, but about how to live your life"


Saya selalu bilang, ini buku favorit saya...

Karena saya belajar banyak dari buku ini... 


Randy Pausch, seorang prosesor dalam bidang ilmu komputer di Carnegie Mellon University, Pennsylvania. Amerika Serikat yang terkenal karena kuliah terakhirnya yang ia berikan di kampus tersebut berjudul “Really Achieving Your Childhood Dreams” sebelum akhirnya meninggal dunia pada usia 47 tahun karena kanker pankreas.

Randy Pausch yang berusia 47 tahun kembali ke Carnegie Mellon University untuk memberikan kuliah terakhir kepada para kolega, mahasiswa, dan temannya. Profesor ilmu komputer ini berpikir bahwa mungkin sekitar 150 orang yang hadir, tetapi auditorium dengan 400 kursi itu penuh sesak. Selama 1 jam, Randy menyatakan isi hatinya sebagai bentuk perpisahan yang menyentuh, berwawasan, dan humoris, serta lebih berfokus pada kehidupan daripada kematian. Beberapa minggu kemudian, rekaman video dari kuliah tersebut telah dilihat jutaan orang di Internet dan menjadi topik dari buku terlaris. Mereka yang menghadapi kematian seringkali memiliki pandangan yang jelas dan luar biasa tentang apa yang terpenting dalam kehidupan (klik disini untuk melihat video).


Randy Pausch menggambarkan kanker sebagai "masalah teknis" Bagaimana cara ini berguna untuk melihat pada penyakitnya?
Dia berbicara tentang kuliah sebagai sarana ekspresi, dan cara untuk menjangkau anak-anaknya: "Jika saya adalah pelukis, aku akan melukis untuk mereka. Jika saya seorang musisi, saya akan menggubah musik. Tapi aku adalah seorang dosen, jadi saya mengajar kuliah " Ada banyak cara untuk berkomunikasi.


Kenyataannya, rekaman kuliah itu memang sengaja dibuat oleh Randy untuk ketiga anaknya. Ia sudah tidak punya cukup waktu untuk ikut mendampingi ketiga anaknya tumbuh besar. Pelajaran dalam kuliah terakhirnya adalah pelajaran tentang kehidupan yang ingin ia wariskan pada anak-anaknya. Warisan yang tidak akan habis, sebagai pengganti waktu yang tidak akan pernah ia dapatkan untuk menemani mereka tumbuh dewasa.



“It’s not about how to achieve your dream, but about how to live your life”
Dan bagi saya, buku ini mengajarkan saya  untuk terus berjuang dan mensyukuri hidup... apapun yang saya rasakan.

Ketika Ingin menjadi "Pangeran Kecil"

Ketika masih kecil, saya suka sekali membaca sebuah buku yang sebenarnya tidak saya pahami benar isinya. Buku itu berjudul “Pangeran Kecil” yang sempat saya pinjam di perpustakaan sekolah SD saya. Ketika itu, saya anggap buku ini hanya salah satu bacaan menarik yang saya baca berulang-ulang (mungkin karena saya tidak terlalu paham artinya).



Namun ketika saya mulai dewasa dan kembali menemukan buku ini (masih dalam cetakan lama versi Pustaka Jaya bukan Gramedia) saya kembali mengulang membacanya. Dan saya mulai memaknai isinya. Dan bagi saya versi dewasa, buku itu masih luar biasa. . .

Bacaan anak-anak yang sarat makna. . .

Buku yang berjudul asli Le Petit Prince (Pangeran Kecil) adalah novel karya Antoine de Saint Exupéry yang diterbitkan pada tahun 1943 dan sudah di terjemahkan dalam 180 bahasa (waw...saya sungguh beruntung menjadi salah satu pembacanya).  Dan yang paling menarik buat saya adalah novel ini digambar sendiri oleh pengarangnya tentu saja dengan gaya anak-anak yang mengagumkan.

Kisah seorang pangeran dari sebuah asteroid kecil yang jatuh ke Bumi (gurun sahara) dan bertemu dengan seorang pilot yang pesawatnya sedang rusak di gurun yang sama. Dalam buku itu pangeran kecil memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan dan cinta pada si pilot. . .

Ketika saya masih remaja, ibu saya banyak sekali memberi saya petuah-petuah tentang cinta yang saat itu buat saya seperti rambu-rambu. Memberi tahu jalan mana yang boleh dilalui dan yang tidak boleh dilalui... Dan bagi saya, ibu seperti “pangeran kecil” dan saya “pilot” itu. . .Dengan bahasanya ibu memberi  tahu saya semua yang ingin saya tahu...

Bertahun-tahun kemudian, saya berfikir bahwa akan tiba saatnya saya menjadi “pangeran kecil” bagi “pilot-pilot” yang saya kenal. . . . Ketika saya katakan hal itu pada ayah saya, beliau berkata, “Kau sudah menjadi pangeran kecil itu nduk...tanpa kau sadari.” Dan saya percaya. . .

Ternyata ayah salah. . . .saya masih menjadi pilot itu. . . .
Apalagi ketika saya menemukannya...
“Can’t  you see that when i find you, I’ll find me...”

Heem....dan benar-benar menjadi sadar ketika saya kembali membaca buku ini bebrapa hari ini, masih ingat betul apa yang dikatakan rubah kepada pangeran kecil, "Manusia kadang sering lupa, bahwa mereka bertanggung jawab, selamanya, atas apa yang telah mereka jinakkan". Dan ternyata benar, saya masih pilot itu...

Namun ungkapan yang paling saya suka adalah ketika rubah berkata kepada Pangeran Kecil:
 "On ne voit bien qu'avec le cœur, l'essentiel est invisible pour les yeux."
“Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata.”


Akhirnya saya semakin sadar . . . tidak akan mudah menjadi pangeran kecil itu...




Minggu, 12 Desember 2010

Arina for Life...: Randy Pausch- "It’s not about how to achieve your ...

Arina for Life...: Randy Pausch- "It’s not about how to achieve your ...: "Saya selalu bilang, ini buku favorit saya... Karena saya belajar banyak dari buku ini... Randy Pausch, seorang prosesor dalam bida..."

Kamis, 09 Desember 2010

Randy Pausch- "It’s not about how to achieve your dream, but about how to live your life"


Saya selalu bilang, ini buku favorit saya...

Karena saya belajar banyak dari buku ini... 


Randy Pausch, seorang prosesor dalam bidang ilmu komputer di Carnegie Mellon University, Pennsylvania. Amerika Serikat yang terkenal karena kuliah terakhirnya yang ia berikan di kampus tersebut berjudul “Really Achieving Your Childhood Dreams” sebelum akhirnya meninggal dunia pada usia 47 tahun karena kanker pankreas.

Randy Pausch yang berusia 47 tahun kembali ke Carnegie Mellon University untuk memberikan kuliah terakhir kepada para kolega, mahasiswa, dan temannya. Profesor ilmu komputer ini berpikir bahwa mungkin sekitar 150 orang yang hadir, tetapi auditorium dengan 400 kursi itu penuh sesak. Selama 1 jam, Randy menyatakan isi hatinya sebagai bentuk perpisahan yang menyentuh, berwawasan, dan humoris, serta lebih berfokus pada kehidupan daripada kematian. Beberapa minggu kemudian, rekaman video dari kuliah tersebut telah dilihat jutaan orang di Internet dan menjadi topik dari buku terlaris. Mereka yang menghadapi kematian seringkali memiliki pandangan yang jelas dan luar biasa tentang apa yang terpenting dalam kehidupan (klik disini untuk melihat video).


Randy Pausch menggambarkan kanker sebagai "masalah teknis" Bagaimana cara ini berguna untuk melihat pada penyakitnya?
Dia berbicara tentang kuliah sebagai sarana ekspresi, dan cara untuk menjangkau anak-anaknya: "Jika saya adalah pelukis, aku akan melukis untuk mereka. Jika saya seorang musisi, saya akan menggubah musik. Tapi aku adalah seorang dosen, jadi saya mengajar kuliah " Ada banyak cara untuk berkomunikasi.


Kenyataannya, rekaman kuliah itu memang sengaja dibuat oleh Randy untuk ketiga anaknya. Ia sudah tidak punya cukup waktu untuk ikut mendampingi ketiga anaknya tumbuh besar. Pelajaran dalam kuliah terakhirnya adalah pelajaran tentang kehidupan yang ingin ia wariskan pada anak-anaknya. Warisan yang tidak akan habis, sebagai pengganti waktu yang tidak akan pernah ia dapatkan untuk menemani mereka tumbuh dewasa.



“It’s not about how to achieve your dream, but about how to live your life”
Dan bagi saya, buku ini mengajarkan saya  untuk terus berjuang dan mensyukuri hidup... apapun yang saya rasakan.

Senin, 29 November 2010

Ketika Ingin menjadi "Pangeran Kecil"

Ketika masih kecil, saya suka sekali membaca sebuah buku yang sebenarnya tidak saya pahami benar isinya. Buku itu berjudul “Pangeran Kecil” yang sempat saya pinjam di perpustakaan sekolah SD saya. Ketika itu, saya anggap buku ini hanya salah satu bacaan menarik yang saya baca berulang-ulang (mungkin karena saya tidak terlalu paham artinya).



Namun ketika saya mulai dewasa dan kembali menemukan buku ini (masih dalam cetakan lama versi Pustaka Jaya bukan Gramedia) saya kembali mengulang membacanya. Dan saya mulai memaknai isinya. Dan bagi saya versi dewasa, buku itu masih luar biasa. . .

Bacaan anak-anak yang sarat makna. . .

Buku yang berjudul asli Le Petit Prince (Pangeran Kecil) adalah novel karya Antoine de Saint Exupéry yang diterbitkan pada tahun 1943 dan sudah di terjemahkan dalam 180 bahasa (waw...saya sungguh beruntung menjadi salah satu pembacanya).  Dan yang paling menarik buat saya adalah novel ini digambar sendiri oleh pengarangnya tentu saja dengan gaya anak-anak yang mengagumkan.

Kisah seorang pangeran dari sebuah asteroid kecil yang jatuh ke Bumi (gurun sahara) dan bertemu dengan seorang pilot yang pesawatnya sedang rusak di gurun yang sama. Dalam buku itu pangeran kecil memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan dan cinta pada si pilot. . .

Ketika saya masih remaja, ibu saya banyak sekali memberi saya petuah-petuah tentang cinta yang saat itu buat saya seperti rambu-rambu. Memberi tahu jalan mana yang boleh dilalui dan yang tidak boleh dilalui... Dan bagi saya, ibu seperti “pangeran kecil” dan saya “pilot” itu. . .Dengan bahasanya ibu memberi  tahu saya semua yang ingin saya tahu...

Bertahun-tahun kemudian, saya berfikir bahwa akan tiba saatnya saya menjadi “pangeran kecil” bagi “pilot-pilot” yang saya kenal. . . . Ketika saya katakan hal itu pada ayah saya, beliau berkata, “Kau sudah menjadi pangeran kecil itu nduk...tanpa kau sadari.” Dan saya percaya. . .

Ternyata ayah salah. . . .saya masih menjadi pilot itu. . . .
Apalagi ketika saya menemukannya...
“Can’t  you see that when i find you, I’ll find me...”

Heem....dan benar-benar menjadi sadar ketika saya kembali membaca buku ini bebrapa hari ini, masih ingat betul apa yang dikatakan rubah kepada pangeran kecil, "Manusia kadang sering lupa, bahwa mereka bertanggung jawab, selamanya, atas apa yang telah mereka jinakkan". Dan ternyata benar, saya masih pilot itu...

Namun ungkapan yang paling saya suka adalah ketika rubah berkata kepada Pangeran Kecil:
 "On ne voit bien qu'avec le cœur, l'essentiel est invisible pour les yeux."
“Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata.”


Akhirnya saya semakin sadar . . . tidak akan mudah menjadi pangeran kecil itu...