Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Minggu, 13 Maret 2011

Ketika saya bisa DIAM


Lebih dari satu minggu ini adalah masa bagi saya untuk berdiam...lebih jelasnya karena saya pernah nyaris tak bersuara selama dua hari (beruntunglah saat itu hari libur yang indah...) jadinya saya bisa punya waktu untuk benar-benar diam dan tidak memaksakan diri untuk berbicara. Mungkin yang paling repot kalau ada telfon berbunyi...hayo  ?? ^^

Dan yang paling sengsara bisa jadi mama saya, yang harus pandai-pandai membaca gerak tubuh dan bibir saya yang kadang membingungkan....(maafkan ya ma...cium tangan mama). Sementara papa saya adalah orang pertama yang ngomel, yang kira-kira seperti ini, “Makanya jangan kerja thok, kalau gitu itu berarti di suruh istirahat...” (terima kasih pa...cium tangan papa juga) ^^

Akhirnya, dua hari yang panjang itu, memang terasa nyaman dengan berdiam... mungkin saatnya lebih mendekatkan diri dengan hati saya.... Hahay....Yang saya dapatkan adalah...saya mungkin memang perlu waktu untuk memanjakan diri saya sendiri...kenyataan yang akan sangat menyenangkan bila terjadi.

Ini gambar penuh inspirasi buat saya tentang diam (masih eat pray love ^^):


Karena ini terjadi pertama kalinya dalam hidup saya, hari itu saya benar-benar mencoba untuk bernyanyi (pikir saya, masa benar suara saya tidak akan keluar sama sekali...). Dan ternyata suara saya benar-benar tidak keluar...hanya mulut saya yang komat-kamit seperti mbah dukun (menyedihkan sekali...), padahal lagu yang coba saya nyanyikan "Satu-satunya Cinta-Mahadewi"... Sepertinya saya harus meminta maaf pada Tata dan Puri...(Maaf ya, gak lagi-lagi !)


Setelah melewati dua hari penuh kebisuan, akhirnya...di senin pagi yang indah (seminggu yang lalu)...saya mendapati suara saya kembali meski agak serak-serak kering gak karuan...tapi alhamdulillah saya tidak harus menggunakan bahasa isyarat lagi (soalnya malam itu saya benar-benar membayangkan gimana caranya bilang “kiri” sama pak supir angkot)... Untunglah hari-hari selanjutnya berjalan lancar, kecuali dengan penyakit yang namanya batuk....

Karena pertama kalinya merasakan batuk yang separah ini, saya baru tahu kalau batuk bisa membuat kita terbangun dari tidur....wah ternyata itu hal paling menyiksa buat saya. 

Pada dasarnya, meski paling bisa nyuruh orang minum obat...saya paling tidak suka minum obat, jadi pengobatan saya adalah dengan wedang jahe...tapi ternyata setelah 3 haripun, nasib saya tidak berubah.  Sampai akhirnya, sangking sayangnya mama saya (atau bisa jadi karena beliau sangat terganggu dengan batuk saya...hemm), beliau akhirnya turun tangan dengan membuat jamu andalan mama saya. Komposisinya sederhana saja, jahe, daun sirih dan madu yang jumlah masing-masing harus ganjil...Rasanya.....hemmm...anda bisa bayangkan...tetep pahit (kata mama, namanya juga jamu...kalau mau manis ya sirop).


Setelah mengalami penderitaan yang cukup panjang (ho..ho...yang ini agak berlebihan), akhirnya setelah tiga kali, saya ulangi hanya TIGA kali meminum jamu andalan mama saya...batuk saya mereda (Hoooreyy !!!) .  Alhamdulillah, meski belum sembuh betul tapi batuk tidak lagi mengganggu tidur saya... Terima kasih mama...(sekarang cium pipi...^^).
  
Akhirnya, saya bisa menikmati lagu ini dengan sebenar-benarnya (^^):

With love:

Sabtu, 12 Maret 2011

Masih tentang kehilangan - Sebuah catatan dukacita


Di dalam kesunyian dan waktu sendiri,  saya masih sering merasakan ada sesuatu yang berbeda, rasa kehilangan, kekosongan yang dulu tidak pernah saya rasakan...

Seharusnya dukacita punya masa kadaluarsa. Buku-buku tentang kehilangan menyatakan tidak apa-apa jika kau terbangun menangis, tapi itu hanya satu bulan. Dan setelah empat puluh hari kau tidak akan menoleh dengan jatung berdebar cepat, yakin bahwa kau mendengarnya memanggil namamu. Bahkan saudara-saudara jauh saya selalu berkata, empat puluh hari adalah waktu yang cukup untuk merasakan kesedihan ini. Meski begitu mungkin tidak akan kena denda jika saya masih merasakan kepedihan dari luka saya ketika sedang membersihkan kamarnya, merapikan mejanya dan membolak balik fotonya. Bahwa tidak apa-apa menghitung waktu, seberapa lama dia telah pergi, sama seperti saya dulu menghitung kapan ulang tahunnya.

Dukacita adalah seperti kita mencabut satu bunga di sebuah taman, mengoyak permukaan tanah namun tanah di dalamnya akan tetap utuh. Mungkin itu seperti keluarga kami, bahwa kenyataannya semua yang di bawah tetap tak berubah, tapi kenyataannya, semua terluka. Dan setelah satu bunga itu tercabut, kami menyadari bahwa bunga itu ternyata begitu cantik. Karena bagaimanapun, taman yang kami miliki tak akan sama lagi tanpa bunga itu.



Dukacita membuat saya seperti hidup di dunia yang memiliki perbedaan waktu dengan dunia yang sebenarnya. Dukacita membuat dunia yang saya lalui terasa lambat, seakan kami dalam gerak lambat dalam sebuah adegan film. Sementara di dunia yang sebenarnya, semua orang berjalan dengan cepat, bagaimanapun semua harus tetap hidup dan melanjutkan hidup. Meskipun kadang saya berharap waktu dapat melambat untuk dukacita yang saya rasakan.

Kehilangan, membuat saya menerka-nerka....ketika saya memandang langit malam yang penuh dengan bintang  apakah dia dapat melihat bintang yang sama seperti yang saya lihat? Kehilangan, akhirnya membuat saya  tak pernah ragu untuk memberikan setiap kebahagiaan saya untuk dapat membahagiakan orang-orang yang saya sayangi.


Tujuh bulan seharusnya bukan lagi tentang  dukacita dan kehilangan, meski saya masih bisa mencium baunya, melihat senyumnya, membayangkan wajahnya ketika dengan nakalnya dia mencela saya. Mungkin beberapa bulan lagi, ketika musim hujan terlah berlalu, ketika saya tidak lagi berkaca-kaca ketika mendengar kisahnya diceritakan, mungkin saat itu saya tidak lagi mengucapkan selamat malam ketika menutup pintu kamarnya, tidak lagi memikirkan pendapatnya ketika hendak meminjam film, dan mulai melupakan bahwa dia punya bintik-bintik di punggungnya. Saat itu, dimanapun saya, seperti apapun keadaan saya,  saya telah membawanya di hati saya, kemanapun saya pergi...
  


Lagu favorit saya akhir-akhir ini :

Selasa, 01 Maret 2011

Menu istimewa dengan sahabat-sahabat saya yang istimewa


Beberapa hari ini karena saya lagi senang-senangnya baca novelnya Elisabeth Gilbert Eat Pray Love. Menikmati betul waktu-waktu yang saya lalui berdua dengan buku ini. Dan pengalaman Elisabeth Gilbert ke Italy mengingatkan saya pada makanan-makanan dan waktu-waktu ketika saya dan sahabat saya dulu berwisata kuliner. Sebenarnya sampai sekarang saya juga masih senang berwisata kuliner sendiri tetapi tentu saja tidak sama rasanya ketika bisa bersama sahabat-sahabat saya. Dan kesempatan seperti ini sering membuat saya merindukan mereka (hiks..hiks...miss u sist).

Kembali ke soal Italy, akhir-akhir ini saya lagi pengen banget makan pizza (ditambah lagi dengan suasana kota Malang yang dingin saya jadi sering banget mikirin makanan)... pizza dengan roti dan pinggiran yang tipis dan keju yang meluber... tentu ini bukan Pizzeria seperti yang digambarkan Elisabeth dalam bukunya (dan saya akan membayangkan bagaimana rasanya pizza paling enak di dunia itu). Tentu saja, sampai hari ini saya belum bisa ke Naples untuk merasakannya. Tapi kadang dengan membayangkannya saja saya sudah merasakan enaknya (hahay...sambil menelan ludah).


Iseng-iseng saya mencoba meminta tolong mbah google yang selalu "siaga" untuk memperlihatkan pada saya seperti apa “wajah” pizzeria itu.

Dari wajahnya memang tidak terlalu cantik, tapi saya bisa bayangkan bagaimana rasanya...(kembali menelan ludah-bisanya cuma itu^^v)

Jadi kira-kira seperti ini wajah Pizza dari naples itu :


Juga seperti ini :


Soal pizza dan Naples yang katanya merupakan pizza paling enak di dunia ini, saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu saya dan sahabat saya pernah menonton Oprah ketika Oprah dan Gayle sahabatnya mencari Best Pizza di seluruh amerika. Kalau yang di Amerika saja sudah nampak begitu enaknya, apalagi yang paling enak di dunia (Wuiiih!). Dan sambil menonton kami hanya bisa membayangkan rasa pizza-pizza yang mereka makan (tentu saja dengan mupeng...)

Mengingat pizza, saya jadi mengingat jaman saya masih kuliah dan saya makan pizza keseringan karena di traktir oleh sahabat-sahabat saya (terima kasih sobat ,rasa pizza itu menjadi...begitu berkesan hingga sekarang ho..ho..ho..).  

Sebenarnya pizza bukanlah satu-satunya tempat tujuan wisata kuliner saya dan sahabat-sahabat saya yang tercinta (muah..muah). Mulai dari lalapan apa adanya (makanan kami sehari-hari), seperti ini :


nasi goreng arang (berasa lama banget nunggunya-apalagi kalo lagi laper), yang seperti ini :


nasi uduk hingga beberapa menu istimewa yang kadang-kadang kita nikmati seperti sate ponorogo, seperti ini :


Plus garang asemnya :


bakso bakar malang :


Tiramisu yang selalu bikin penasaran :


Tapi kami dulu punya menu andalan (yang ini made in kami sendiri) yang saya yakin masih jadi favorit kami : Jamur goreng yang sekarang ngetren dengan panggilan sayang Jamur Crispy :



dan masih banyak lain yang mungkin gak sempet kesebut.
Jadi bener-bener merindukan masa-masa itu...dan kadang merindukan makanan-makanan itu...^.^v
Dan tentu saja paling rindu dengan sahabat-sahabat saya itu (miss u so much...)

With much love :  

Ketika saya bisa DIAM


Lebih dari satu minggu ini adalah masa bagi saya untuk berdiam...lebih jelasnya karena saya pernah nyaris tak bersuara selama dua hari (beruntunglah saat itu hari libur yang indah...) jadinya saya bisa punya waktu untuk benar-benar diam dan tidak memaksakan diri untuk berbicara. Mungkin yang paling repot kalau ada telfon berbunyi...hayo  ?? ^^

Dan yang paling sengsara bisa jadi mama saya, yang harus pandai-pandai membaca gerak tubuh dan bibir saya yang kadang membingungkan....(maafkan ya ma...cium tangan mama). Sementara papa saya adalah orang pertama yang ngomel, yang kira-kira seperti ini, “Makanya jangan kerja thok, kalau gitu itu berarti di suruh istirahat...” (terima kasih pa...cium tangan papa juga) ^^

Akhirnya, dua hari yang panjang itu, memang terasa nyaman dengan berdiam... mungkin saatnya lebih mendekatkan diri dengan hati saya.... Hahay....Yang saya dapatkan adalah...saya mungkin memang perlu waktu untuk memanjakan diri saya sendiri...kenyataan yang akan sangat menyenangkan bila terjadi.

Ini gambar penuh inspirasi buat saya tentang diam (masih eat pray love ^^):


Karena ini terjadi pertama kalinya dalam hidup saya, hari itu saya benar-benar mencoba untuk bernyanyi (pikir saya, masa benar suara saya tidak akan keluar sama sekali...). Dan ternyata suara saya benar-benar tidak keluar...hanya mulut saya yang komat-kamit seperti mbah dukun (menyedihkan sekali...), padahal lagu yang coba saya nyanyikan "Satu-satunya Cinta-Mahadewi"... Sepertinya saya harus meminta maaf pada Tata dan Puri...(Maaf ya, gak lagi-lagi !)


Setelah melewati dua hari penuh kebisuan, akhirnya...di senin pagi yang indah (seminggu yang lalu)...saya mendapati suara saya kembali meski agak serak-serak kering gak karuan...tapi alhamdulillah saya tidak harus menggunakan bahasa isyarat lagi (soalnya malam itu saya benar-benar membayangkan gimana caranya bilang “kiri” sama pak supir angkot)... Untunglah hari-hari selanjutnya berjalan lancar, kecuali dengan penyakit yang namanya batuk....

Karena pertama kalinya merasakan batuk yang separah ini, saya baru tahu kalau batuk bisa membuat kita terbangun dari tidur....wah ternyata itu hal paling menyiksa buat saya. 

Pada dasarnya, meski paling bisa nyuruh orang minum obat...saya paling tidak suka minum obat, jadi pengobatan saya adalah dengan wedang jahe...tapi ternyata setelah 3 haripun, nasib saya tidak berubah.  Sampai akhirnya, sangking sayangnya mama saya (atau bisa jadi karena beliau sangat terganggu dengan batuk saya...hemm), beliau akhirnya turun tangan dengan membuat jamu andalan mama saya. Komposisinya sederhana saja, jahe, daun sirih dan madu yang jumlah masing-masing harus ganjil...Rasanya.....hemmm...anda bisa bayangkan...tetep pahit (kata mama, namanya juga jamu...kalau mau manis ya sirop).


Setelah mengalami penderitaan yang cukup panjang (ho..ho...yang ini agak berlebihan), akhirnya setelah tiga kali, saya ulangi hanya TIGA kali meminum jamu andalan mama saya...batuk saya mereda (Hoooreyy !!!) .  Alhamdulillah, meski belum sembuh betul tapi batuk tidak lagi mengganggu tidur saya... Terima kasih mama...(sekarang cium pipi...^^).
  
Akhirnya, saya bisa menikmati lagu ini dengan sebenar-benarnya (^^):

With love:

Masih tentang kehilangan - Sebuah catatan dukacita


Di dalam kesunyian dan waktu sendiri,  saya masih sering merasakan ada sesuatu yang berbeda, rasa kehilangan, kekosongan yang dulu tidak pernah saya rasakan...

Seharusnya dukacita punya masa kadaluarsa. Buku-buku tentang kehilangan menyatakan tidak apa-apa jika kau terbangun menangis, tapi itu hanya satu bulan. Dan setelah empat puluh hari kau tidak akan menoleh dengan jatung berdebar cepat, yakin bahwa kau mendengarnya memanggil namamu. Bahkan saudara-saudara jauh saya selalu berkata, empat puluh hari adalah waktu yang cukup untuk merasakan kesedihan ini. Meski begitu mungkin tidak akan kena denda jika saya masih merasakan kepedihan dari luka saya ketika sedang membersihkan kamarnya, merapikan mejanya dan membolak balik fotonya. Bahwa tidak apa-apa menghitung waktu, seberapa lama dia telah pergi, sama seperti saya dulu menghitung kapan ulang tahunnya.

Dukacita adalah seperti kita mencabut satu bunga di sebuah taman, mengoyak permukaan tanah namun tanah di dalamnya akan tetap utuh. Mungkin itu seperti keluarga kami, bahwa kenyataannya semua yang di bawah tetap tak berubah, tapi kenyataannya, semua terluka. Dan setelah satu bunga itu tercabut, kami menyadari bahwa bunga itu ternyata begitu cantik. Karena bagaimanapun, taman yang kami miliki tak akan sama lagi tanpa bunga itu.



Dukacita membuat saya seperti hidup di dunia yang memiliki perbedaan waktu dengan dunia yang sebenarnya. Dukacita membuat dunia yang saya lalui terasa lambat, seakan kami dalam gerak lambat dalam sebuah adegan film. Sementara di dunia yang sebenarnya, semua orang berjalan dengan cepat, bagaimanapun semua harus tetap hidup dan melanjutkan hidup. Meskipun kadang saya berharap waktu dapat melambat untuk dukacita yang saya rasakan.

Kehilangan, membuat saya menerka-nerka....ketika saya memandang langit malam yang penuh dengan bintang  apakah dia dapat melihat bintang yang sama seperti yang saya lihat? Kehilangan, akhirnya membuat saya  tak pernah ragu untuk memberikan setiap kebahagiaan saya untuk dapat membahagiakan orang-orang yang saya sayangi.


Tujuh bulan seharusnya bukan lagi tentang  dukacita dan kehilangan, meski saya masih bisa mencium baunya, melihat senyumnya, membayangkan wajahnya ketika dengan nakalnya dia mencela saya. Mungkin beberapa bulan lagi, ketika musim hujan terlah berlalu, ketika saya tidak lagi berkaca-kaca ketika mendengar kisahnya diceritakan, mungkin saat itu saya tidak lagi mengucapkan selamat malam ketika menutup pintu kamarnya, tidak lagi memikirkan pendapatnya ketika hendak meminjam film, dan mulai melupakan bahwa dia punya bintik-bintik di punggungnya. Saat itu, dimanapun saya, seperti apapun keadaan saya,  saya telah membawanya di hati saya, kemanapun saya pergi...
  


Lagu favorit saya akhir-akhir ini :

Menu istimewa dengan sahabat-sahabat saya yang istimewa


Beberapa hari ini karena saya lagi senang-senangnya baca novelnya Elisabeth Gilbert Eat Pray Love. Menikmati betul waktu-waktu yang saya lalui berdua dengan buku ini. Dan pengalaman Elisabeth Gilbert ke Italy mengingatkan saya pada makanan-makanan dan waktu-waktu ketika saya dan sahabat saya dulu berwisata kuliner. Sebenarnya sampai sekarang saya juga masih senang berwisata kuliner sendiri tetapi tentu saja tidak sama rasanya ketika bisa bersama sahabat-sahabat saya. Dan kesempatan seperti ini sering membuat saya merindukan mereka (hiks..hiks...miss u sist).

Kembali ke soal Italy, akhir-akhir ini saya lagi pengen banget makan pizza (ditambah lagi dengan suasana kota Malang yang dingin saya jadi sering banget mikirin makanan)... pizza dengan roti dan pinggiran yang tipis dan keju yang meluber... tentu ini bukan Pizzeria seperti yang digambarkan Elisabeth dalam bukunya (dan saya akan membayangkan bagaimana rasanya pizza paling enak di dunia itu). Tentu saja, sampai hari ini saya belum bisa ke Naples untuk merasakannya. Tapi kadang dengan membayangkannya saja saya sudah merasakan enaknya (hahay...sambil menelan ludah).


Iseng-iseng saya mencoba meminta tolong mbah google yang selalu "siaga" untuk memperlihatkan pada saya seperti apa “wajah” pizzeria itu.

Dari wajahnya memang tidak terlalu cantik, tapi saya bisa bayangkan bagaimana rasanya...(kembali menelan ludah-bisanya cuma itu^^v)

Jadi kira-kira seperti ini wajah Pizza dari naples itu :


Juga seperti ini :


Soal pizza dan Naples yang katanya merupakan pizza paling enak di dunia ini, saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu saya dan sahabat saya pernah menonton Oprah ketika Oprah dan Gayle sahabatnya mencari Best Pizza di seluruh amerika. Kalau yang di Amerika saja sudah nampak begitu enaknya, apalagi yang paling enak di dunia (Wuiiih!). Dan sambil menonton kami hanya bisa membayangkan rasa pizza-pizza yang mereka makan (tentu saja dengan mupeng...)

Mengingat pizza, saya jadi mengingat jaman saya masih kuliah dan saya makan pizza keseringan karena di traktir oleh sahabat-sahabat saya (terima kasih sobat ,rasa pizza itu menjadi...begitu berkesan hingga sekarang ho..ho..ho..).  

Sebenarnya pizza bukanlah satu-satunya tempat tujuan wisata kuliner saya dan sahabat-sahabat saya yang tercinta (muah..muah). Mulai dari lalapan apa adanya (makanan kami sehari-hari), seperti ini :


nasi goreng arang (berasa lama banget nunggunya-apalagi kalo lagi laper), yang seperti ini :


nasi uduk hingga beberapa menu istimewa yang kadang-kadang kita nikmati seperti sate ponorogo, seperti ini :


Plus garang asemnya :


bakso bakar malang :


Tiramisu yang selalu bikin penasaran :


Tapi kami dulu punya menu andalan (yang ini made in kami sendiri) yang saya yakin masih jadi favorit kami : Jamur goreng yang sekarang ngetren dengan panggilan sayang Jamur Crispy :



dan masih banyak lain yang mungkin gak sempet kesebut.
Jadi bener-bener merindukan masa-masa itu...dan kadang merindukan makanan-makanan itu...^.^v
Dan tentu saja paling rindu dengan sahabat-sahabat saya itu (miss u so much...)

With much love :  

Minggu, 13 Maret 2011

Ketika saya bisa DIAM


Lebih dari satu minggu ini adalah masa bagi saya untuk berdiam...lebih jelasnya karena saya pernah nyaris tak bersuara selama dua hari (beruntunglah saat itu hari libur yang indah...) jadinya saya bisa punya waktu untuk benar-benar diam dan tidak memaksakan diri untuk berbicara. Mungkin yang paling repot kalau ada telfon berbunyi...hayo  ?? ^^

Dan yang paling sengsara bisa jadi mama saya, yang harus pandai-pandai membaca gerak tubuh dan bibir saya yang kadang membingungkan....(maafkan ya ma...cium tangan mama). Sementara papa saya adalah orang pertama yang ngomel, yang kira-kira seperti ini, “Makanya jangan kerja thok, kalau gitu itu berarti di suruh istirahat...” (terima kasih pa...cium tangan papa juga) ^^

Akhirnya, dua hari yang panjang itu, memang terasa nyaman dengan berdiam... mungkin saatnya lebih mendekatkan diri dengan hati saya.... Hahay....Yang saya dapatkan adalah...saya mungkin memang perlu waktu untuk memanjakan diri saya sendiri...kenyataan yang akan sangat menyenangkan bila terjadi.

Ini gambar penuh inspirasi buat saya tentang diam (masih eat pray love ^^):


Karena ini terjadi pertama kalinya dalam hidup saya, hari itu saya benar-benar mencoba untuk bernyanyi (pikir saya, masa benar suara saya tidak akan keluar sama sekali...). Dan ternyata suara saya benar-benar tidak keluar...hanya mulut saya yang komat-kamit seperti mbah dukun (menyedihkan sekali...), padahal lagu yang coba saya nyanyikan "Satu-satunya Cinta-Mahadewi"... Sepertinya saya harus meminta maaf pada Tata dan Puri...(Maaf ya, gak lagi-lagi !)


Setelah melewati dua hari penuh kebisuan, akhirnya...di senin pagi yang indah (seminggu yang lalu)...saya mendapati suara saya kembali meski agak serak-serak kering gak karuan...tapi alhamdulillah saya tidak harus menggunakan bahasa isyarat lagi (soalnya malam itu saya benar-benar membayangkan gimana caranya bilang “kiri” sama pak supir angkot)... Untunglah hari-hari selanjutnya berjalan lancar, kecuali dengan penyakit yang namanya batuk....

Karena pertama kalinya merasakan batuk yang separah ini, saya baru tahu kalau batuk bisa membuat kita terbangun dari tidur....wah ternyata itu hal paling menyiksa buat saya. 

Pada dasarnya, meski paling bisa nyuruh orang minum obat...saya paling tidak suka minum obat, jadi pengobatan saya adalah dengan wedang jahe...tapi ternyata setelah 3 haripun, nasib saya tidak berubah.  Sampai akhirnya, sangking sayangnya mama saya (atau bisa jadi karena beliau sangat terganggu dengan batuk saya...hemm), beliau akhirnya turun tangan dengan membuat jamu andalan mama saya. Komposisinya sederhana saja, jahe, daun sirih dan madu yang jumlah masing-masing harus ganjil...Rasanya.....hemmm...anda bisa bayangkan...tetep pahit (kata mama, namanya juga jamu...kalau mau manis ya sirop).


Setelah mengalami penderitaan yang cukup panjang (ho..ho...yang ini agak berlebihan), akhirnya setelah tiga kali, saya ulangi hanya TIGA kali meminum jamu andalan mama saya...batuk saya mereda (Hoooreyy !!!) .  Alhamdulillah, meski belum sembuh betul tapi batuk tidak lagi mengganggu tidur saya... Terima kasih mama...(sekarang cium pipi...^^).
  
Akhirnya, saya bisa menikmati lagu ini dengan sebenar-benarnya (^^):

With love:

Sabtu, 12 Maret 2011

Masih tentang kehilangan - Sebuah catatan dukacita


Di dalam kesunyian dan waktu sendiri,  saya masih sering merasakan ada sesuatu yang berbeda, rasa kehilangan, kekosongan yang dulu tidak pernah saya rasakan...

Seharusnya dukacita punya masa kadaluarsa. Buku-buku tentang kehilangan menyatakan tidak apa-apa jika kau terbangun menangis, tapi itu hanya satu bulan. Dan setelah empat puluh hari kau tidak akan menoleh dengan jatung berdebar cepat, yakin bahwa kau mendengarnya memanggil namamu. Bahkan saudara-saudara jauh saya selalu berkata, empat puluh hari adalah waktu yang cukup untuk merasakan kesedihan ini. Meski begitu mungkin tidak akan kena denda jika saya masih merasakan kepedihan dari luka saya ketika sedang membersihkan kamarnya, merapikan mejanya dan membolak balik fotonya. Bahwa tidak apa-apa menghitung waktu, seberapa lama dia telah pergi, sama seperti saya dulu menghitung kapan ulang tahunnya.

Dukacita adalah seperti kita mencabut satu bunga di sebuah taman, mengoyak permukaan tanah namun tanah di dalamnya akan tetap utuh. Mungkin itu seperti keluarga kami, bahwa kenyataannya semua yang di bawah tetap tak berubah, tapi kenyataannya, semua terluka. Dan setelah satu bunga itu tercabut, kami menyadari bahwa bunga itu ternyata begitu cantik. Karena bagaimanapun, taman yang kami miliki tak akan sama lagi tanpa bunga itu.



Dukacita membuat saya seperti hidup di dunia yang memiliki perbedaan waktu dengan dunia yang sebenarnya. Dukacita membuat dunia yang saya lalui terasa lambat, seakan kami dalam gerak lambat dalam sebuah adegan film. Sementara di dunia yang sebenarnya, semua orang berjalan dengan cepat, bagaimanapun semua harus tetap hidup dan melanjutkan hidup. Meskipun kadang saya berharap waktu dapat melambat untuk dukacita yang saya rasakan.

Kehilangan, membuat saya menerka-nerka....ketika saya memandang langit malam yang penuh dengan bintang  apakah dia dapat melihat bintang yang sama seperti yang saya lihat? Kehilangan, akhirnya membuat saya  tak pernah ragu untuk memberikan setiap kebahagiaan saya untuk dapat membahagiakan orang-orang yang saya sayangi.


Tujuh bulan seharusnya bukan lagi tentang  dukacita dan kehilangan, meski saya masih bisa mencium baunya, melihat senyumnya, membayangkan wajahnya ketika dengan nakalnya dia mencela saya. Mungkin beberapa bulan lagi, ketika musim hujan terlah berlalu, ketika saya tidak lagi berkaca-kaca ketika mendengar kisahnya diceritakan, mungkin saat itu saya tidak lagi mengucapkan selamat malam ketika menutup pintu kamarnya, tidak lagi memikirkan pendapatnya ketika hendak meminjam film, dan mulai melupakan bahwa dia punya bintik-bintik di punggungnya. Saat itu, dimanapun saya, seperti apapun keadaan saya,  saya telah membawanya di hati saya, kemanapun saya pergi...
  


Lagu favorit saya akhir-akhir ini :

Selasa, 01 Maret 2011

Menu istimewa dengan sahabat-sahabat saya yang istimewa


Beberapa hari ini karena saya lagi senang-senangnya baca novelnya Elisabeth Gilbert Eat Pray Love. Menikmati betul waktu-waktu yang saya lalui berdua dengan buku ini. Dan pengalaman Elisabeth Gilbert ke Italy mengingatkan saya pada makanan-makanan dan waktu-waktu ketika saya dan sahabat saya dulu berwisata kuliner. Sebenarnya sampai sekarang saya juga masih senang berwisata kuliner sendiri tetapi tentu saja tidak sama rasanya ketika bisa bersama sahabat-sahabat saya. Dan kesempatan seperti ini sering membuat saya merindukan mereka (hiks..hiks...miss u sist).

Kembali ke soal Italy, akhir-akhir ini saya lagi pengen banget makan pizza (ditambah lagi dengan suasana kota Malang yang dingin saya jadi sering banget mikirin makanan)... pizza dengan roti dan pinggiran yang tipis dan keju yang meluber... tentu ini bukan Pizzeria seperti yang digambarkan Elisabeth dalam bukunya (dan saya akan membayangkan bagaimana rasanya pizza paling enak di dunia itu). Tentu saja, sampai hari ini saya belum bisa ke Naples untuk merasakannya. Tapi kadang dengan membayangkannya saja saya sudah merasakan enaknya (hahay...sambil menelan ludah).


Iseng-iseng saya mencoba meminta tolong mbah google yang selalu "siaga" untuk memperlihatkan pada saya seperti apa “wajah” pizzeria itu.

Dari wajahnya memang tidak terlalu cantik, tapi saya bisa bayangkan bagaimana rasanya...(kembali menelan ludah-bisanya cuma itu^^v)

Jadi kira-kira seperti ini wajah Pizza dari naples itu :


Juga seperti ini :


Soal pizza dan Naples yang katanya merupakan pizza paling enak di dunia ini, saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu saya dan sahabat saya pernah menonton Oprah ketika Oprah dan Gayle sahabatnya mencari Best Pizza di seluruh amerika. Kalau yang di Amerika saja sudah nampak begitu enaknya, apalagi yang paling enak di dunia (Wuiiih!). Dan sambil menonton kami hanya bisa membayangkan rasa pizza-pizza yang mereka makan (tentu saja dengan mupeng...)

Mengingat pizza, saya jadi mengingat jaman saya masih kuliah dan saya makan pizza keseringan karena di traktir oleh sahabat-sahabat saya (terima kasih sobat ,rasa pizza itu menjadi...begitu berkesan hingga sekarang ho..ho..ho..).  

Sebenarnya pizza bukanlah satu-satunya tempat tujuan wisata kuliner saya dan sahabat-sahabat saya yang tercinta (muah..muah). Mulai dari lalapan apa adanya (makanan kami sehari-hari), seperti ini :


nasi goreng arang (berasa lama banget nunggunya-apalagi kalo lagi laper), yang seperti ini :


nasi uduk hingga beberapa menu istimewa yang kadang-kadang kita nikmati seperti sate ponorogo, seperti ini :


Plus garang asemnya :


bakso bakar malang :


Tiramisu yang selalu bikin penasaran :


Tapi kami dulu punya menu andalan (yang ini made in kami sendiri) yang saya yakin masih jadi favorit kami : Jamur goreng yang sekarang ngetren dengan panggilan sayang Jamur Crispy :



dan masih banyak lain yang mungkin gak sempet kesebut.
Jadi bener-bener merindukan masa-masa itu...dan kadang merindukan makanan-makanan itu...^.^v
Dan tentu saja paling rindu dengan sahabat-sahabat saya itu (miss u so much...)

With much love :