Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Kamis, 28 April 2011

Sulitnya menjadi Apoteker pada masa itu...(hanya membayangkan^^)


Awalnya saya tertarik membaca satu buku (kira-kira satu tahun yang lalu), karangan Mary Roach STIFF (Kehidupan Ganjil Mayat Manusia). Terbitan tahun 2007 untuk cetakan Indonesia. Di salah satu bab-nya (Makan Aku), saya membaca hal yang menarik. Jika Anda tidak keberatan membaca ini, saya harap Anda tidak perlu sambil membayangkan (ho..ho..ho.. karena saya tidak mau bertanggungjawab apa-apa ^^).



Saya akan menceritakan tentang beberapa bahan yang di jadikan obat pada abad 12-16 di beberapa negara. Dan saya hanya berfikir bagaimana jika saya harus menjadi apoteker pada masa itu (ha..hay..^^)

Saya bersyukur menjadi apoteker pada masa ini, sungguh saya tidak bisa membayangkan menjadi apoteker pada masa itu :

Peringatan : Jika Anda tidak merasa nyaman membaca ini, Anda bisa menghentikan segera ^^

Di pasar-pasar besar Arab abad ke-12, kadang-kadang jika Anda tahu tempatnya dan punya banyak uang serta tas besar yang tidak Anda pedulikan, Anda bisa mendapatkan barang yang disebut manusia termelifikasi. Kata kerja “mellify” berasal dari bahasa Latin untuk madu, mel. Manusia termelifikasi adalah orang mati yang direndam dalam madu. Nama lainnya adalah “gula-gula mumi manusia”, meskipun ini agak menyesatkan, karena, tidak seperti gula-gula rendaman madu lain dari Timur Tengah, yang ini tidak disajikan sebagai makanan pencuci mulut. Orang memakainya secara topikal dan, maaf sekali, secara oral sebagai obat.
Pembuatannya membutuhkan usaha yang luar biasa, baik di pihak si pembuat gula-gula, dan yang lebih penting lagi, di pihak bahan pembuatnya:

Di Arab ada pria-pria berusia 70 hingga 80 tahun yang bersedia memberikan tubuhnya untuk menyelamatkan orang lain. Mereka tidak memakan makanan, hanya mandi dan makan-minum madu. Setelah sebulan mereka hanya mengeksresikan madu dan akhirnya mati. Teman-temannya menempatkan dirinya dalam peti batu penuh madu untuk merendamnya. Pada peti itu ditulis tahun dan bulan ia di rendam. Setelah seratus tahun tutup peti itu dibuka. Gula-gula ini dibuat untuk mengobati lengan atau kaki yang terluka. Memakan dalam jumlah kecil dan segera menyembuhkan keluhan.



Resep di atas dimuat dalam Materia Medika China, sebuah kompendium tanaman dan hewan obat yang disusun tahun 1957 oleh naturalis besar Li Shih-chen. Li dengan hati-hati menyatakan bahwa ia tidak tahu persis apakah kisah pria termelifikasi ini benar. Ini tidak semelegakan kedengarannya, karena jika Li Shih-chen tidak memepertanyakan kejujuran Maerial Medika, maka ia merasa yakin bahwa isinya benar. Ini artinya sisa isi buku ini hampir pasti digunakan sebagai obat  di China pada abad ke-16 :

Ketombe manusia (“paling baik untuk orang gemuk”), kotoran lutut manusia, kotoran telinga manusia, nafas manusia, gendang telinga lama, “jus perasan tinja babi” dan “kotoran dari ujung proksimal buntut kedelai”.


La fevre menawarkan sebuah resep untuk membuat eliksir mumi buatan sendiri menggunakan jenazah “pria muda sehat” (penulis lain lebih jauh mengkhususkan pria muda berambut merah). Syarat yang mengejutkan bahwa ia telah dicekik, digantung atau ditombak. Resep ini dibuat dengan mengeringkan, mengasapkan, dan menggiling daging (satu hingga tiga grain mumi dalam campuran daging ular berbisa dan anggur), tetapi Le  Fevre tidak memberikan petunjuk bagaimana atau di mana mendapatkan pemuda rambut merah yang tercekik atau terkena tombak (ha..ha..ada-ada saja).

Contoh lain obat berbahan manusia yang lebih menyebabkan rasa tidak nyaman daripada meredakan keluhan, antara lain lembaran kulit manusia yang diikat di sekeliling betis untuk menyegah karm, “plasenta cair yang sudah lama,” untuk “menenangkan pasien yang rambutnya berdiri tanpa sebab” , dalam kutipan Li Shih-chen untuk yang berikut ini, “tinja cair bening” untuk cacingan (baunya akan mendorong cacing merangkak keluar dari setiap lubang tubuh dab meredakan iritasi), darah segar yang disuntikan ke wajah untuk eksim (populer di Prancis pada zaman tulisan Thompson), batu empedu untuk cegukan, karang gigi manusia untuk sengatan serangga, tingtur pusar manusia untuk nyeri tenggorokan, dan liur perempuan yang dioles ke mata untuk oftalmia. (Orang Romawi, Yahudi dan Cina kuno sangat tertarik pada aier liur, meski sejauh yang diketahui penulis seseorang tidak bisa menggunakan air liurnya sendiri). Pengobatan akan mensyaratkan jenis air liur, liur perempuan, liur bayi bayi baru lahir bahkan liur Kerajaan (????). Menurut Li Shih-chen, untuk kasus “mimpi buruk akibat serangan iblis”, penderita yang malang diobati dengan “diludahi perlahan pada wajah”(ha..haay, sepertinya ini terjadi dimana-mana).

Jadi saya kembali bertanya, seperti apa apoteker pada masa itu ^^ ?
                 
Sabtu, 23 April 2011

Untuk Kawan Gadisku-Stop Dating Violence !


Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya banyak habiskan waktu bersama gadis-gadis remaja yang penuh keriangan dan senyum yang selalu mengembang. Menurut saya, seorang gadis remaja, bagaimanapun dan dimanapun selalu tampak cantik. Mungkin karena wajah mereka yang sedang berbunga-bunga. Kebanyakan dari gadis-gadis yang saya kenal biasanya sedang berusaha mengenal lawan jenisnya. Mulai memunculkan sikap simpati, kagum, menyukai, ngefans, hingga tergila-gila. Saya sempat mendampingi setiap fase-fase itu , dan mengamati bagian-bagian itu menjadi salah satu perjalanan hidup mereka yang pasti akan terkenang selamanya (Ha..ha.hay...kali ini agak lebay).

Saya paling takut ketika harus berhadapan dengan gadis-gadis yang mulai tergila-gila pada lawan jenisnya. Pada kondisi seperti itu, mata mereka seakan dibutakan oleh sesuatu yang bernama CINTA. Tragisnya, pada kondisi seperti itu. Mereka malas sekali mendengar pendapat orang lain. Dan saya hanya bisa deg..degan sambil tak lupa berdoa.



Dan beberapa kali saya menemukan kasus yang membuat miris hati saya. Kekerasan pada remaja yang mengatasnamakan cinta. Bukan sekali dua kali, saya mendapati kawan gadis saya ketika ia menyibakkan roknya, saya dapat melihat bekas biru yang telah matang di paha atasnya. Atau ketika saya minta ia menyibakkan poninya yang lucu, saya akan mendapati benjolan merah di atas keningnya. Tentu itu tidak termasuk hari-hari yang ia tutupi ketika ia mendapati matanya yang membengkak dan bibirnya sobek karena terluka. Nyatanya, kejadian itu terus berulang dan luka itu terus bermunculan. Berarti kawan gadis saya tidak pernah “kapok” untuk di sakiti. Dan ketika saya tanyakan tentang hal itu, dia hanya menjawab, “Saya cintaaa dia !” (Benar-benar sakit saya mendengarnya **-berkaca-kaca)



Kenyataannya, yang saya tahu tidak hanya luka fisik yang mereka dapatkan, tapi secara psikologis hingga seksual (ini yang benar-benar buat saya ngeri...). Akibatnya bisa sangat luas, mereka akan berubah secara psikologis dan mengakibatkan perubahan pada perilaku mereka. Baik pada lingkungan, keluarga, teman dan orang lain.  Hal ini akan terus berlanjut jika tidak dihentikan. Susahnya, masalah ini ditutupi dari keluarga (masyarakat terkecil yang terdekat dengan mereka), bahkan, keluarga seperti tidak mau tahu. Percayalah, masalah ini tidak semudah yang dibayangkan. Karena membutuhkan perhatian dari semua pihak.
Saya terlalu sayang pada kawan gadis saya...hingga kutuliskan cerita ini LAGI (cerita yang pernah saya tulis sebelumnya, klik di sini). Semoga tak banyak yang mengalaminya dan akan ada keperdulian tentang keberadaan mereka, kawan gadis saya yang lain. BERSAMBUNG...

Kamis, 21 April 2011

Untukmu Perempuanku...


Saya tidak pernah bisa lupa bagaimana biasanya hari kartini dilewati. Sejak kecil perayaan hari kartini bagi saya, bisa jadi acara yang special. Karena sekolah biasanya selalu sempat merayakannya ramai-ramai dengan seluruh sekolah. Menyenangkan... selalu ada senyum untuk hari ini.

Ketika itu, ketika saya masih menjadi gadis kecil yang memiliki banyak mimpi dan cita-cita. Rasanya ada seribu mimpi yang dapat saya capai. Dan hari kartini adalah waktu dimana saya bisa menekspresikan mimpi-mimpi saya. Menjadi seseorang yang saya inginkan. Tentu saja, dalam hal ini mama saya adalah orang yang paling saya repotkan. Memilih busana paling cantik dan mengagumkan, merias wajah mungil saya dan persiapan kecil lainnya (love u ma). Dan tentu sangat menyenangkan menjadi saya pada masa itu...^^


Dan hari ini, ketika saya sudah tidak lagi merepotkan diri dengan busana-busana dan riasan itu. Saya mulai tersadar bahwa saya telah menjadi perempuan masa depan dari diri saya masa itu (Hemm...). Ternyata seperti ini rasanya (ho..ho...).Jika ada yang bertanya pada saya, bagaimana rasanya, saya akan jawab...SAYA BAHAGIA MENJADI PEREMPUAN. Suatu yang terasa LUAR BIASA.


Jika masih ada yang bertanya mengapa? Maka akan saya jawab karena saya bangga menjadi perempuan. Saya telah dan masih meneladani kartini-kartini yang pernah saya kenal. Melihat dan mengenal perempuan-perempuan menjadi obor bagi nyala suatu bangsa adalah suatu yang mengagumkan. Tapi mengenal 
perempuan-perempuan yang menjadi setitik cahaya dalam keluarga merupakan hal paling menyenangkan.

Saya selalu kagum pada perempuan-perempuan ini...


Baginya Sebuah Cinta:

Perempuan ini,
Perempuan dari seorang kekasih
Perempuan yang kerap dilupakan
Perempuan yang ada di balik pintu
Yang pintunya tak pernah tertutup
Yang selalu duduk menanti

Perempuan ini,
Perempuan dari seorang buah hati
Perempuan yang kerap tak dipandang
Perempuan yang selalu menggengam sebuah hati
Yang tak pernah dirusaknya
Yang tak lepas dari doanya

Perempuan ini
Perempuan dari sebuah nyala
Perempuan yang membawa mimpi
Perempuan yang menyempurnakan asa
Yang ada di balik sebuah bangsa
Yang dibuatnya semakin menyala...


Untuk perempuan-perempuan di negeri ini...Selamat Hari Kartini
Arina Swastika M (21 Apr. 11)

 

Sulitnya menjadi Apoteker pada masa itu...(hanya membayangkan^^)


Awalnya saya tertarik membaca satu buku (kira-kira satu tahun yang lalu), karangan Mary Roach STIFF (Kehidupan Ganjil Mayat Manusia). Terbitan tahun 2007 untuk cetakan Indonesia. Di salah satu bab-nya (Makan Aku), saya membaca hal yang menarik. Jika Anda tidak keberatan membaca ini, saya harap Anda tidak perlu sambil membayangkan (ho..ho..ho.. karena saya tidak mau bertanggungjawab apa-apa ^^).



Saya akan menceritakan tentang beberapa bahan yang di jadikan obat pada abad 12-16 di beberapa negara. Dan saya hanya berfikir bagaimana jika saya harus menjadi apoteker pada masa itu (ha..hay..^^)

Saya bersyukur menjadi apoteker pada masa ini, sungguh saya tidak bisa membayangkan menjadi apoteker pada masa itu :

Peringatan : Jika Anda tidak merasa nyaman membaca ini, Anda bisa menghentikan segera ^^

Di pasar-pasar besar Arab abad ke-12, kadang-kadang jika Anda tahu tempatnya dan punya banyak uang serta tas besar yang tidak Anda pedulikan, Anda bisa mendapatkan barang yang disebut manusia termelifikasi. Kata kerja “mellify” berasal dari bahasa Latin untuk madu, mel. Manusia termelifikasi adalah orang mati yang direndam dalam madu. Nama lainnya adalah “gula-gula mumi manusia”, meskipun ini agak menyesatkan, karena, tidak seperti gula-gula rendaman madu lain dari Timur Tengah, yang ini tidak disajikan sebagai makanan pencuci mulut. Orang memakainya secara topikal dan, maaf sekali, secara oral sebagai obat.
Pembuatannya membutuhkan usaha yang luar biasa, baik di pihak si pembuat gula-gula, dan yang lebih penting lagi, di pihak bahan pembuatnya:

Di Arab ada pria-pria berusia 70 hingga 80 tahun yang bersedia memberikan tubuhnya untuk menyelamatkan orang lain. Mereka tidak memakan makanan, hanya mandi dan makan-minum madu. Setelah sebulan mereka hanya mengeksresikan madu dan akhirnya mati. Teman-temannya menempatkan dirinya dalam peti batu penuh madu untuk merendamnya. Pada peti itu ditulis tahun dan bulan ia di rendam. Setelah seratus tahun tutup peti itu dibuka. Gula-gula ini dibuat untuk mengobati lengan atau kaki yang terluka. Memakan dalam jumlah kecil dan segera menyembuhkan keluhan.



Resep di atas dimuat dalam Materia Medika China, sebuah kompendium tanaman dan hewan obat yang disusun tahun 1957 oleh naturalis besar Li Shih-chen. Li dengan hati-hati menyatakan bahwa ia tidak tahu persis apakah kisah pria termelifikasi ini benar. Ini tidak semelegakan kedengarannya, karena jika Li Shih-chen tidak memepertanyakan kejujuran Maerial Medika, maka ia merasa yakin bahwa isinya benar. Ini artinya sisa isi buku ini hampir pasti digunakan sebagai obat  di China pada abad ke-16 :

Ketombe manusia (“paling baik untuk orang gemuk”), kotoran lutut manusia, kotoran telinga manusia, nafas manusia, gendang telinga lama, “jus perasan tinja babi” dan “kotoran dari ujung proksimal buntut kedelai”.


La fevre menawarkan sebuah resep untuk membuat eliksir mumi buatan sendiri menggunakan jenazah “pria muda sehat” (penulis lain lebih jauh mengkhususkan pria muda berambut merah). Syarat yang mengejutkan bahwa ia telah dicekik, digantung atau ditombak. Resep ini dibuat dengan mengeringkan, mengasapkan, dan menggiling daging (satu hingga tiga grain mumi dalam campuran daging ular berbisa dan anggur), tetapi Le  Fevre tidak memberikan petunjuk bagaimana atau di mana mendapatkan pemuda rambut merah yang tercekik atau terkena tombak (ha..ha..ada-ada saja).

Contoh lain obat berbahan manusia yang lebih menyebabkan rasa tidak nyaman daripada meredakan keluhan, antara lain lembaran kulit manusia yang diikat di sekeliling betis untuk menyegah karm, “plasenta cair yang sudah lama,” untuk “menenangkan pasien yang rambutnya berdiri tanpa sebab” , dalam kutipan Li Shih-chen untuk yang berikut ini, “tinja cair bening” untuk cacingan (baunya akan mendorong cacing merangkak keluar dari setiap lubang tubuh dab meredakan iritasi), darah segar yang disuntikan ke wajah untuk eksim (populer di Prancis pada zaman tulisan Thompson), batu empedu untuk cegukan, karang gigi manusia untuk sengatan serangga, tingtur pusar manusia untuk nyeri tenggorokan, dan liur perempuan yang dioles ke mata untuk oftalmia. (Orang Romawi, Yahudi dan Cina kuno sangat tertarik pada aier liur, meski sejauh yang diketahui penulis seseorang tidak bisa menggunakan air liurnya sendiri). Pengobatan akan mensyaratkan jenis air liur, liur perempuan, liur bayi bayi baru lahir bahkan liur Kerajaan (????). Menurut Li Shih-chen, untuk kasus “mimpi buruk akibat serangan iblis”, penderita yang malang diobati dengan “diludahi perlahan pada wajah”(ha..haay, sepertinya ini terjadi dimana-mana).

Jadi saya kembali bertanya, seperti apa apoteker pada masa itu ^^ ?
                 

Untuk Kawan Gadisku-Stop Dating Violence !


Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya banyak habiskan waktu bersama gadis-gadis remaja yang penuh keriangan dan senyum yang selalu mengembang. Menurut saya, seorang gadis remaja, bagaimanapun dan dimanapun selalu tampak cantik. Mungkin karena wajah mereka yang sedang berbunga-bunga. Kebanyakan dari gadis-gadis yang saya kenal biasanya sedang berusaha mengenal lawan jenisnya. Mulai memunculkan sikap simpati, kagum, menyukai, ngefans, hingga tergila-gila. Saya sempat mendampingi setiap fase-fase itu , dan mengamati bagian-bagian itu menjadi salah satu perjalanan hidup mereka yang pasti akan terkenang selamanya (Ha..ha.hay...kali ini agak lebay).

Saya paling takut ketika harus berhadapan dengan gadis-gadis yang mulai tergila-gila pada lawan jenisnya. Pada kondisi seperti itu, mata mereka seakan dibutakan oleh sesuatu yang bernama CINTA. Tragisnya, pada kondisi seperti itu. Mereka malas sekali mendengar pendapat orang lain. Dan saya hanya bisa deg..degan sambil tak lupa berdoa.



Dan beberapa kali saya menemukan kasus yang membuat miris hati saya. Kekerasan pada remaja yang mengatasnamakan cinta. Bukan sekali dua kali, saya mendapati kawan gadis saya ketika ia menyibakkan roknya, saya dapat melihat bekas biru yang telah matang di paha atasnya. Atau ketika saya minta ia menyibakkan poninya yang lucu, saya akan mendapati benjolan merah di atas keningnya. Tentu itu tidak termasuk hari-hari yang ia tutupi ketika ia mendapati matanya yang membengkak dan bibirnya sobek karena terluka. Nyatanya, kejadian itu terus berulang dan luka itu terus bermunculan. Berarti kawan gadis saya tidak pernah “kapok” untuk di sakiti. Dan ketika saya tanyakan tentang hal itu, dia hanya menjawab, “Saya cintaaa dia !” (Benar-benar sakit saya mendengarnya **-berkaca-kaca)



Kenyataannya, yang saya tahu tidak hanya luka fisik yang mereka dapatkan, tapi secara psikologis hingga seksual (ini yang benar-benar buat saya ngeri...). Akibatnya bisa sangat luas, mereka akan berubah secara psikologis dan mengakibatkan perubahan pada perilaku mereka. Baik pada lingkungan, keluarga, teman dan orang lain.  Hal ini akan terus berlanjut jika tidak dihentikan. Susahnya, masalah ini ditutupi dari keluarga (masyarakat terkecil yang terdekat dengan mereka), bahkan, keluarga seperti tidak mau tahu. Percayalah, masalah ini tidak semudah yang dibayangkan. Karena membutuhkan perhatian dari semua pihak.
Saya terlalu sayang pada kawan gadis saya...hingga kutuliskan cerita ini LAGI (cerita yang pernah saya tulis sebelumnya, klik di sini). Semoga tak banyak yang mengalaminya dan akan ada keperdulian tentang keberadaan mereka, kawan gadis saya yang lain. BERSAMBUNG...

Untukmu Perempuanku...


Saya tidak pernah bisa lupa bagaimana biasanya hari kartini dilewati. Sejak kecil perayaan hari kartini bagi saya, bisa jadi acara yang special. Karena sekolah biasanya selalu sempat merayakannya ramai-ramai dengan seluruh sekolah. Menyenangkan... selalu ada senyum untuk hari ini.

Ketika itu, ketika saya masih menjadi gadis kecil yang memiliki banyak mimpi dan cita-cita. Rasanya ada seribu mimpi yang dapat saya capai. Dan hari kartini adalah waktu dimana saya bisa menekspresikan mimpi-mimpi saya. Menjadi seseorang yang saya inginkan. Tentu saja, dalam hal ini mama saya adalah orang yang paling saya repotkan. Memilih busana paling cantik dan mengagumkan, merias wajah mungil saya dan persiapan kecil lainnya (love u ma). Dan tentu sangat menyenangkan menjadi saya pada masa itu...^^


Dan hari ini, ketika saya sudah tidak lagi merepotkan diri dengan busana-busana dan riasan itu. Saya mulai tersadar bahwa saya telah menjadi perempuan masa depan dari diri saya masa itu (Hemm...). Ternyata seperti ini rasanya (ho..ho...).Jika ada yang bertanya pada saya, bagaimana rasanya, saya akan jawab...SAYA BAHAGIA MENJADI PEREMPUAN. Suatu yang terasa LUAR BIASA.


Jika masih ada yang bertanya mengapa? Maka akan saya jawab karena saya bangga menjadi perempuan. Saya telah dan masih meneladani kartini-kartini yang pernah saya kenal. Melihat dan mengenal perempuan-perempuan menjadi obor bagi nyala suatu bangsa adalah suatu yang mengagumkan. Tapi mengenal 
perempuan-perempuan yang menjadi setitik cahaya dalam keluarga merupakan hal paling menyenangkan.

Saya selalu kagum pada perempuan-perempuan ini...


Baginya Sebuah Cinta:

Perempuan ini,
Perempuan dari seorang kekasih
Perempuan yang kerap dilupakan
Perempuan yang ada di balik pintu
Yang pintunya tak pernah tertutup
Yang selalu duduk menanti

Perempuan ini,
Perempuan dari seorang buah hati
Perempuan yang kerap tak dipandang
Perempuan yang selalu menggengam sebuah hati
Yang tak pernah dirusaknya
Yang tak lepas dari doanya

Perempuan ini
Perempuan dari sebuah nyala
Perempuan yang membawa mimpi
Perempuan yang menyempurnakan asa
Yang ada di balik sebuah bangsa
Yang dibuatnya semakin menyala...


Untuk perempuan-perempuan di negeri ini...Selamat Hari Kartini
Arina Swastika M (21 Apr. 11)

 

Kamis, 28 April 2011

Sulitnya menjadi Apoteker pada masa itu...(hanya membayangkan^^)


Awalnya saya tertarik membaca satu buku (kira-kira satu tahun yang lalu), karangan Mary Roach STIFF (Kehidupan Ganjil Mayat Manusia). Terbitan tahun 2007 untuk cetakan Indonesia. Di salah satu bab-nya (Makan Aku), saya membaca hal yang menarik. Jika Anda tidak keberatan membaca ini, saya harap Anda tidak perlu sambil membayangkan (ho..ho..ho.. karena saya tidak mau bertanggungjawab apa-apa ^^).



Saya akan menceritakan tentang beberapa bahan yang di jadikan obat pada abad 12-16 di beberapa negara. Dan saya hanya berfikir bagaimana jika saya harus menjadi apoteker pada masa itu (ha..hay..^^)

Saya bersyukur menjadi apoteker pada masa ini, sungguh saya tidak bisa membayangkan menjadi apoteker pada masa itu :

Peringatan : Jika Anda tidak merasa nyaman membaca ini, Anda bisa menghentikan segera ^^

Di pasar-pasar besar Arab abad ke-12, kadang-kadang jika Anda tahu tempatnya dan punya banyak uang serta tas besar yang tidak Anda pedulikan, Anda bisa mendapatkan barang yang disebut manusia termelifikasi. Kata kerja “mellify” berasal dari bahasa Latin untuk madu, mel. Manusia termelifikasi adalah orang mati yang direndam dalam madu. Nama lainnya adalah “gula-gula mumi manusia”, meskipun ini agak menyesatkan, karena, tidak seperti gula-gula rendaman madu lain dari Timur Tengah, yang ini tidak disajikan sebagai makanan pencuci mulut. Orang memakainya secara topikal dan, maaf sekali, secara oral sebagai obat.
Pembuatannya membutuhkan usaha yang luar biasa, baik di pihak si pembuat gula-gula, dan yang lebih penting lagi, di pihak bahan pembuatnya:

Di Arab ada pria-pria berusia 70 hingga 80 tahun yang bersedia memberikan tubuhnya untuk menyelamatkan orang lain. Mereka tidak memakan makanan, hanya mandi dan makan-minum madu. Setelah sebulan mereka hanya mengeksresikan madu dan akhirnya mati. Teman-temannya menempatkan dirinya dalam peti batu penuh madu untuk merendamnya. Pada peti itu ditulis tahun dan bulan ia di rendam. Setelah seratus tahun tutup peti itu dibuka. Gula-gula ini dibuat untuk mengobati lengan atau kaki yang terluka. Memakan dalam jumlah kecil dan segera menyembuhkan keluhan.



Resep di atas dimuat dalam Materia Medika China, sebuah kompendium tanaman dan hewan obat yang disusun tahun 1957 oleh naturalis besar Li Shih-chen. Li dengan hati-hati menyatakan bahwa ia tidak tahu persis apakah kisah pria termelifikasi ini benar. Ini tidak semelegakan kedengarannya, karena jika Li Shih-chen tidak memepertanyakan kejujuran Maerial Medika, maka ia merasa yakin bahwa isinya benar. Ini artinya sisa isi buku ini hampir pasti digunakan sebagai obat  di China pada abad ke-16 :

Ketombe manusia (“paling baik untuk orang gemuk”), kotoran lutut manusia, kotoran telinga manusia, nafas manusia, gendang telinga lama, “jus perasan tinja babi” dan “kotoran dari ujung proksimal buntut kedelai”.


La fevre menawarkan sebuah resep untuk membuat eliksir mumi buatan sendiri menggunakan jenazah “pria muda sehat” (penulis lain lebih jauh mengkhususkan pria muda berambut merah). Syarat yang mengejutkan bahwa ia telah dicekik, digantung atau ditombak. Resep ini dibuat dengan mengeringkan, mengasapkan, dan menggiling daging (satu hingga tiga grain mumi dalam campuran daging ular berbisa dan anggur), tetapi Le  Fevre tidak memberikan petunjuk bagaimana atau di mana mendapatkan pemuda rambut merah yang tercekik atau terkena tombak (ha..ha..ada-ada saja).

Contoh lain obat berbahan manusia yang lebih menyebabkan rasa tidak nyaman daripada meredakan keluhan, antara lain lembaran kulit manusia yang diikat di sekeliling betis untuk menyegah karm, “plasenta cair yang sudah lama,” untuk “menenangkan pasien yang rambutnya berdiri tanpa sebab” , dalam kutipan Li Shih-chen untuk yang berikut ini, “tinja cair bening” untuk cacingan (baunya akan mendorong cacing merangkak keluar dari setiap lubang tubuh dab meredakan iritasi), darah segar yang disuntikan ke wajah untuk eksim (populer di Prancis pada zaman tulisan Thompson), batu empedu untuk cegukan, karang gigi manusia untuk sengatan serangga, tingtur pusar manusia untuk nyeri tenggorokan, dan liur perempuan yang dioles ke mata untuk oftalmia. (Orang Romawi, Yahudi dan Cina kuno sangat tertarik pada aier liur, meski sejauh yang diketahui penulis seseorang tidak bisa menggunakan air liurnya sendiri). Pengobatan akan mensyaratkan jenis air liur, liur perempuan, liur bayi bayi baru lahir bahkan liur Kerajaan (????). Menurut Li Shih-chen, untuk kasus “mimpi buruk akibat serangan iblis”, penderita yang malang diobati dengan “diludahi perlahan pada wajah”(ha..haay, sepertinya ini terjadi dimana-mana).

Jadi saya kembali bertanya, seperti apa apoteker pada masa itu ^^ ?
                 

Sabtu, 23 April 2011

Untuk Kawan Gadisku-Stop Dating Violence !


Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya banyak habiskan waktu bersama gadis-gadis remaja yang penuh keriangan dan senyum yang selalu mengembang. Menurut saya, seorang gadis remaja, bagaimanapun dan dimanapun selalu tampak cantik. Mungkin karena wajah mereka yang sedang berbunga-bunga. Kebanyakan dari gadis-gadis yang saya kenal biasanya sedang berusaha mengenal lawan jenisnya. Mulai memunculkan sikap simpati, kagum, menyukai, ngefans, hingga tergila-gila. Saya sempat mendampingi setiap fase-fase itu , dan mengamati bagian-bagian itu menjadi salah satu perjalanan hidup mereka yang pasti akan terkenang selamanya (Ha..ha.hay...kali ini agak lebay).

Saya paling takut ketika harus berhadapan dengan gadis-gadis yang mulai tergila-gila pada lawan jenisnya. Pada kondisi seperti itu, mata mereka seakan dibutakan oleh sesuatu yang bernama CINTA. Tragisnya, pada kondisi seperti itu. Mereka malas sekali mendengar pendapat orang lain. Dan saya hanya bisa deg..degan sambil tak lupa berdoa.



Dan beberapa kali saya menemukan kasus yang membuat miris hati saya. Kekerasan pada remaja yang mengatasnamakan cinta. Bukan sekali dua kali, saya mendapati kawan gadis saya ketika ia menyibakkan roknya, saya dapat melihat bekas biru yang telah matang di paha atasnya. Atau ketika saya minta ia menyibakkan poninya yang lucu, saya akan mendapati benjolan merah di atas keningnya. Tentu itu tidak termasuk hari-hari yang ia tutupi ketika ia mendapati matanya yang membengkak dan bibirnya sobek karena terluka. Nyatanya, kejadian itu terus berulang dan luka itu terus bermunculan. Berarti kawan gadis saya tidak pernah “kapok” untuk di sakiti. Dan ketika saya tanyakan tentang hal itu, dia hanya menjawab, “Saya cintaaa dia !” (Benar-benar sakit saya mendengarnya **-berkaca-kaca)



Kenyataannya, yang saya tahu tidak hanya luka fisik yang mereka dapatkan, tapi secara psikologis hingga seksual (ini yang benar-benar buat saya ngeri...). Akibatnya bisa sangat luas, mereka akan berubah secara psikologis dan mengakibatkan perubahan pada perilaku mereka. Baik pada lingkungan, keluarga, teman dan orang lain.  Hal ini akan terus berlanjut jika tidak dihentikan. Susahnya, masalah ini ditutupi dari keluarga (masyarakat terkecil yang terdekat dengan mereka), bahkan, keluarga seperti tidak mau tahu. Percayalah, masalah ini tidak semudah yang dibayangkan. Karena membutuhkan perhatian dari semua pihak.
Saya terlalu sayang pada kawan gadis saya...hingga kutuliskan cerita ini LAGI (cerita yang pernah saya tulis sebelumnya, klik di sini). Semoga tak banyak yang mengalaminya dan akan ada keperdulian tentang keberadaan mereka, kawan gadis saya yang lain. BERSAMBUNG...

Kamis, 21 April 2011

Untukmu Perempuanku...


Saya tidak pernah bisa lupa bagaimana biasanya hari kartini dilewati. Sejak kecil perayaan hari kartini bagi saya, bisa jadi acara yang special. Karena sekolah biasanya selalu sempat merayakannya ramai-ramai dengan seluruh sekolah. Menyenangkan... selalu ada senyum untuk hari ini.

Ketika itu, ketika saya masih menjadi gadis kecil yang memiliki banyak mimpi dan cita-cita. Rasanya ada seribu mimpi yang dapat saya capai. Dan hari kartini adalah waktu dimana saya bisa menekspresikan mimpi-mimpi saya. Menjadi seseorang yang saya inginkan. Tentu saja, dalam hal ini mama saya adalah orang yang paling saya repotkan. Memilih busana paling cantik dan mengagumkan, merias wajah mungil saya dan persiapan kecil lainnya (love u ma). Dan tentu sangat menyenangkan menjadi saya pada masa itu...^^


Dan hari ini, ketika saya sudah tidak lagi merepotkan diri dengan busana-busana dan riasan itu. Saya mulai tersadar bahwa saya telah menjadi perempuan masa depan dari diri saya masa itu (Hemm...). Ternyata seperti ini rasanya (ho..ho...).Jika ada yang bertanya pada saya, bagaimana rasanya, saya akan jawab...SAYA BAHAGIA MENJADI PEREMPUAN. Suatu yang terasa LUAR BIASA.


Jika masih ada yang bertanya mengapa? Maka akan saya jawab karena saya bangga menjadi perempuan. Saya telah dan masih meneladani kartini-kartini yang pernah saya kenal. Melihat dan mengenal perempuan-perempuan menjadi obor bagi nyala suatu bangsa adalah suatu yang mengagumkan. Tapi mengenal 
perempuan-perempuan yang menjadi setitik cahaya dalam keluarga merupakan hal paling menyenangkan.

Saya selalu kagum pada perempuan-perempuan ini...


Baginya Sebuah Cinta:

Perempuan ini,
Perempuan dari seorang kekasih
Perempuan yang kerap dilupakan
Perempuan yang ada di balik pintu
Yang pintunya tak pernah tertutup
Yang selalu duduk menanti

Perempuan ini,
Perempuan dari seorang buah hati
Perempuan yang kerap tak dipandang
Perempuan yang selalu menggengam sebuah hati
Yang tak pernah dirusaknya
Yang tak lepas dari doanya

Perempuan ini
Perempuan dari sebuah nyala
Perempuan yang membawa mimpi
Perempuan yang menyempurnakan asa
Yang ada di balik sebuah bangsa
Yang dibuatnya semakin menyala...


Untuk perempuan-perempuan di negeri ini...Selamat Hari Kartini
Arina Swastika M (21 Apr. 11)