Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Senin, 19 April 2010

Tidak Semua yang Kita Inginkan itu Baik Bagi Kita..,


Sebuah kisah yang dapat menjadi renungan..

Tidak Semua yang Kita Inginkan itu Baik Bagi Kita..
Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke
luar angkasa.
Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar.
Dan aku bukan seorang pilot..
Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L
pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.

Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat
lamaran ke Washington.
Setiap hari aku berlari ke kotak pos.

Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan ! Aku lolos
penyisihan pertama.
Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya,
perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental.
Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi.! Aku tahu aku semakin dekat
pada impianku.
Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan
astronot khusus
di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang,
dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir.
Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa..

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe.
Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku
lenyap,
dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan
?!
Kenapa bukan aku ?! Bagian diriku yang mana yang kurang ?!
Mengapa aku diperlakukan kejam ?!

Aku berpaling pada ayahku.
Katanya, "Semua terjadi karena suatu alasan.."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat
peluncuran Challanger.
Saat pesawat itu melewati menara
landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali.
Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu.
Kenapa bukan aku ?! Tujuh puluh tiga detik kemudian,
Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger
meledak,
dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan.."
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu,
walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk
kehadiranku di
bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang
pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk
bersyukur pada Tuhan
karena tidak semua doaku dikabulkan.

Saatnya kita bersyukur...
Semuanya akan indah pada waktunya !

0 komentar:

Tidak Semua yang Kita Inginkan itu Baik Bagi Kita..,


Sebuah kisah yang dapat menjadi renungan..

Tidak Semua yang Kita Inginkan itu Baik Bagi Kita..
Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke
luar angkasa.
Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar.
Dan aku bukan seorang pilot..
Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L
pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.

Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat
lamaran ke Washington.
Setiap hari aku berlari ke kotak pos.

Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan ! Aku lolos
penyisihan pertama.
Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya,
perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental.
Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi.! Aku tahu aku semakin dekat
pada impianku.
Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan
astronot khusus
di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang,
dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir.
Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa..

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe.
Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku
lenyap,
dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan
?!
Kenapa bukan aku ?! Bagian diriku yang mana yang kurang ?!
Mengapa aku diperlakukan kejam ?!

Aku berpaling pada ayahku.
Katanya, "Semua terjadi karena suatu alasan.."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat
peluncuran Challanger.
Saat pesawat itu melewati menara
landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali.
Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu.
Kenapa bukan aku ?! Tujuh puluh tiga detik kemudian,
Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger
meledak,
dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan.."
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu,
walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk
kehadiranku di
bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang
pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk
bersyukur pada Tuhan
karena tidak semua doaku dikabulkan.

Saatnya kita bersyukur...
Semuanya akan indah pada waktunya !
Posting Komentar

Senin, 19 April 2010

Tidak Semua yang Kita Inginkan itu Baik Bagi Kita..,


Sebuah kisah yang dapat menjadi renungan..

Tidak Semua yang Kita Inginkan itu Baik Bagi Kita..
Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke
luar angkasa.
Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar.
Dan aku bukan seorang pilot..
Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L
pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.

Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat
lamaran ke Washington.
Setiap hari aku berlari ke kotak pos.

Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan ! Aku lolos
penyisihan pertama.
Ini benar-benar terjadi padaku. Selama beberapa minggu berikutnya,
perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental.
Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi.! Aku tahu aku semakin dekat
pada impianku.
Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan
astronot khusus
di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang,
dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir.
Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa..

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe.
Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku
lenyap,
dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan
?!
Kenapa bukan aku ?! Bagian diriku yang mana yang kurang ?!
Mengapa aku diperlakukan kejam ?!

Aku berpaling pada ayahku.
Katanya, "Semua terjadi karena suatu alasan.."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat
peluncuran Challanger.
Saat pesawat itu melewati menara
landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali.
Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu.
Kenapa bukan aku ?! Tujuh puluh tiga detik kemudian,
Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger
meledak,
dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan.."
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu,
walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk
kehadiranku di
bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang
pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk
bersyukur pada Tuhan
karena tidak semua doaku dikabulkan.

Saatnya kita bersyukur...
Semuanya akan indah pada waktunya !
Posting Komentar