Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Minggu, 06 November 2011

My short story - HappY EiD



Malam ini saya sedang dengar takbir, bukan hal pertama...karena puluhan kali saya mendengarnya. Seperti muslim lain, hati saya juga selalu bergetar..entah kenapa? Seperti ada sesuatu dari dada saya yang menghangatkan ketika dingin dan menyejukan ketika kita merasa panas (tidak berlebihankan?).

Di lain pihak, takbiran selalu memberi kenangan buat saya. Kenangan akan dua hari raya yang selalu terasa agung buat saya. Karena tentu saja, suara takbiran tak akan pernah jauh dari dua hari raya yang agung itu.

Kenangan pertama yang paling saya rasakan waktu denger takbiran idul fitri adalah kerinduan saya pada almarhum kakak saya. Saya memang selalu merindukannya, tapi di malam takbiran saya lebih merasa merindukannya karena dulu (tentu saja seblum dia meninggal) takbiran adalah waktu buat kami jalan berdua keliling kota Malang. Tidak perduli malam itu hujan deras, hujan rintik-rintik pastinya kami tetap keliling kota. Yang paling mengesankan adalah ketika kami memesan roti bakar dan kopi susu di malam takbiran (sayangnya saya lupa, tahun berapa itu), malam itu saya merasa dia begitu dekat di hati saya (Ya Mas, akan selalu seperti itu !).

Kenangan lain yang tidak akan pernah saya lupa adalah malam takbiran Idul Adha ketika saya habiskan berdua bersama sahabat saya. Tahun terakhir di semester terakhir... Belanja di pasar malam-malam, lalu memasaknya sendiri dan memakannya sendiri dan sayangnya paginya saya harus sholat Idul Adha sendiri...ha...hay... (Sahabat, saya tidak akan pernah lupa)



Kenangan takbiran yang lain tentu saja waktu-waktu saya dengan keluarga...mulai saya kecil saya selalu membantu mama saya masak besar di malam takbiran, kadang saya menyiapkan kue-kue kering bersama my lovely sisy (sister saya tersayang). Dan yang tidak mungkin bisa terulang adalah waktu kami (anak-anak mama papa kami) bermain kembang api bersama di kebun belakang atau teras depan rumah kami. Dan jika Idul Adha tiba, kami selalu punya waktu membakar sate bersama, saling membantu, penuh keramian dengan mengundang teman-teman kakak saya. Ya...semuanya sangat menyenangkan (jadi kangen masa-masa itu...)

Terlepas dari semua makna takbir dan kegiatan takbiran...entah kenapa saya juga selalu dapat memandangnya dengan sudut mata yang lain. Sudut mata haru, penuh kerinduan dan tentu saja penuh suka cinta.

Saya selalu suka mendengarkan takbir...

Selamat takbiran, Selamat Idul Adha....


0 komentar:

My short story - HappY EiD



Malam ini saya sedang dengar takbir, bukan hal pertama...karena puluhan kali saya mendengarnya. Seperti muslim lain, hati saya juga selalu bergetar..entah kenapa? Seperti ada sesuatu dari dada saya yang menghangatkan ketika dingin dan menyejukan ketika kita merasa panas (tidak berlebihankan?).

Di lain pihak, takbiran selalu memberi kenangan buat saya. Kenangan akan dua hari raya yang selalu terasa agung buat saya. Karena tentu saja, suara takbiran tak akan pernah jauh dari dua hari raya yang agung itu.

Kenangan pertama yang paling saya rasakan waktu denger takbiran idul fitri adalah kerinduan saya pada almarhum kakak saya. Saya memang selalu merindukannya, tapi di malam takbiran saya lebih merasa merindukannya karena dulu (tentu saja seblum dia meninggal) takbiran adalah waktu buat kami jalan berdua keliling kota Malang. Tidak perduli malam itu hujan deras, hujan rintik-rintik pastinya kami tetap keliling kota. Yang paling mengesankan adalah ketika kami memesan roti bakar dan kopi susu di malam takbiran (sayangnya saya lupa, tahun berapa itu), malam itu saya merasa dia begitu dekat di hati saya (Ya Mas, akan selalu seperti itu !).

Kenangan lain yang tidak akan pernah saya lupa adalah malam takbiran Idul Adha ketika saya habiskan berdua bersama sahabat saya. Tahun terakhir di semester terakhir... Belanja di pasar malam-malam, lalu memasaknya sendiri dan memakannya sendiri dan sayangnya paginya saya harus sholat Idul Adha sendiri...ha...hay... (Sahabat, saya tidak akan pernah lupa)



Kenangan takbiran yang lain tentu saja waktu-waktu saya dengan keluarga...mulai saya kecil saya selalu membantu mama saya masak besar di malam takbiran, kadang saya menyiapkan kue-kue kering bersama my lovely sisy (sister saya tersayang). Dan yang tidak mungkin bisa terulang adalah waktu kami (anak-anak mama papa kami) bermain kembang api bersama di kebun belakang atau teras depan rumah kami. Dan jika Idul Adha tiba, kami selalu punya waktu membakar sate bersama, saling membantu, penuh keramian dengan mengundang teman-teman kakak saya. Ya...semuanya sangat menyenangkan (jadi kangen masa-masa itu...)

Terlepas dari semua makna takbir dan kegiatan takbiran...entah kenapa saya juga selalu dapat memandangnya dengan sudut mata yang lain. Sudut mata haru, penuh kerinduan dan tentu saja penuh suka cinta.

Saya selalu suka mendengarkan takbir...

Selamat takbiran, Selamat Idul Adha....


Posting Komentar

Minggu, 06 November 2011

My short story - HappY EiD



Malam ini saya sedang dengar takbir, bukan hal pertama...karena puluhan kali saya mendengarnya. Seperti muslim lain, hati saya juga selalu bergetar..entah kenapa? Seperti ada sesuatu dari dada saya yang menghangatkan ketika dingin dan menyejukan ketika kita merasa panas (tidak berlebihankan?).

Di lain pihak, takbiran selalu memberi kenangan buat saya. Kenangan akan dua hari raya yang selalu terasa agung buat saya. Karena tentu saja, suara takbiran tak akan pernah jauh dari dua hari raya yang agung itu.

Kenangan pertama yang paling saya rasakan waktu denger takbiran idul fitri adalah kerinduan saya pada almarhum kakak saya. Saya memang selalu merindukannya, tapi di malam takbiran saya lebih merasa merindukannya karena dulu (tentu saja seblum dia meninggal) takbiran adalah waktu buat kami jalan berdua keliling kota Malang. Tidak perduli malam itu hujan deras, hujan rintik-rintik pastinya kami tetap keliling kota. Yang paling mengesankan adalah ketika kami memesan roti bakar dan kopi susu di malam takbiran (sayangnya saya lupa, tahun berapa itu), malam itu saya merasa dia begitu dekat di hati saya (Ya Mas, akan selalu seperti itu !).

Kenangan lain yang tidak akan pernah saya lupa adalah malam takbiran Idul Adha ketika saya habiskan berdua bersama sahabat saya. Tahun terakhir di semester terakhir... Belanja di pasar malam-malam, lalu memasaknya sendiri dan memakannya sendiri dan sayangnya paginya saya harus sholat Idul Adha sendiri...ha...hay... (Sahabat, saya tidak akan pernah lupa)



Kenangan takbiran yang lain tentu saja waktu-waktu saya dengan keluarga...mulai saya kecil saya selalu membantu mama saya masak besar di malam takbiran, kadang saya menyiapkan kue-kue kering bersama my lovely sisy (sister saya tersayang). Dan yang tidak mungkin bisa terulang adalah waktu kami (anak-anak mama papa kami) bermain kembang api bersama di kebun belakang atau teras depan rumah kami. Dan jika Idul Adha tiba, kami selalu punya waktu membakar sate bersama, saling membantu, penuh keramian dengan mengundang teman-teman kakak saya. Ya...semuanya sangat menyenangkan (jadi kangen masa-masa itu...)

Terlepas dari semua makna takbir dan kegiatan takbiran...entah kenapa saya juga selalu dapat memandangnya dengan sudut mata yang lain. Sudut mata haru, penuh kerinduan dan tentu saja penuh suka cinta.

Saya selalu suka mendengarkan takbir...

Selamat takbiran, Selamat Idul Adha....


Posting Komentar