Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Sabtu, 30 Juli 2011

Rindu Ramadhan



MARHABAN YA RAMADHAN
Ramadhan sudah di depan mata...
Sudah saatnya kita kembali menempuh bulan ini dengan menjalani segala amalannya dan mendapat keberkahan dalam setiap langkah yang kita ambil.

Seperti petikan lirik lagu Opick (Ramadhan Tiba) :

Dalam bersahur ada pahala
Dalam berbuka alangkah indah
Menahan diri menahan lidah
Menjaga hati menjaga mata

Banyakkan amal hari-harinya pahala
Datang berlipat ganda
Berlomba-lomba untuk ibadah
Dunia bahagia surga nanti gantinya


Ramadhan tiba 3X
Ramadhan tiba 3X

Dan semoga setiap jiwa
Diberikan ampunan-Nya
Dan semoga hapus semua
Kesalahan setiap jiwa




Kedamaian hanya didapat dengan menjadi orang yang bertaqwa. Dan ketaqwaan akan didapat dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Allah Subhanahu wa Ta’aa menetapkan dalam Al-Quran:

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”(QS al-Baqarah [2]: 183).

Secara sederhana, taqwa didefinisikan sebagai perasaan takut kepada Allah Swt. Rasa takut ini kemudian terejawantahkan dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Karena itu, bisa ditegaskan bahwa ciri atau indikator umum dari orang yang bertakwa bisa diamati dari sikap dan perilakakunya, yaitu meninggalkan segala larangan-Nya dan melaksanakan semua perintah-Nya. 

Dan lebih spesifik sifat orang orang yang bertaqwa dan ciri-cirinya dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 133-136 :
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
Orang-orang yang menahan amarahnya,
Orang-orang yang mema`afkan (kesalahan) orang lain,
Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (berbuat dosa), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.

Berikut ciri-ciri yang dapat mendatangkan kedamaian :

1. Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
Sifat suka berinfaq akan melahirkan sifat empati dan kepedulian. Bergetar jiwanya kalau melihat penderitaan orang lain, dan tidak ada kata berpangku tangan melihat sesama saudaranya menderita/teraniaya, walaupun harta mereka pun ‘sempit’ untuk memenhi kebutuhannya . Mereka berbuat demikian karena sudah terbiasa berpuasa, merasakan lapar dan haus sepanjang hari.

"Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah SWT akan menutupi aibnya di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang menghilangkan sebagian kesulitan seseorang, niscaya Allah akan menghilangkan baginya kesulitan dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang selalu menolong kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan menolong kebutuhannya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi.)

Tiada kedamaian jiwa dan kebahagiaan yang lebih kecuali kita bisa membahagiakan orang lain, sehingga orang lain yang ada disekelilingnya pasti akan merasakan kebahagiaan pula dekat dengannya dan akan membantunya bila ditimpa kesusahan, saling tolong-menolong seperti satu tubuh yang satu.

2. Orang-orang yang menahan amarahnya.
Marah itu menguras energi dan membuat hati tidak tenang dan akan menyesal sesudahnya. Orang yang mudah marah juga akan mempunyai teman yang sedikit dan dijauhi teman-temannya . Rasulullah SAW bersabda tentang marah: 

"Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan, dan sesungguhnya syetan itu diciptakan dari api, sedangkan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu, apabila seseorang dari kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu " (HR Abu Dawud).

Dengan terbiasa berpuasa dengan benar, maka dia akan mudah menahan amarahnya.

3. Orang-orang yang mema`afkan (kesalahan) orang lain.
Orang yang pendendam hatinya tidak akan menemukan kedamaian, dan dia hanya akan menumpuk kemarahan dan musuh. Orang yang mudah memaafkan akan damai karena semua masalah dianggap tidak ada masalah dan dia tidak menyimpan masalah berlama-lama karena cepat memaafkannya. Dan orang demikian akan menjadikan dia mempuanyai teman baik yang banyak.

Memaafkan butuh kematangan diri dan kecakapan spiritual. Kematangan diri hanya bisa didapatkan melalui keterbukaan hati dan pikiran akan segala pengalaman hidup yang dialami. Sementara kecakapan spiritual hanya bisa diperoleh ketika telah memiliki rasa penghambaan yang tinggi hanya kepada Allah SWT semata. Dan itu semua dapat dicapai dengan berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan benar. Bukan hanya memaafkan, bahkan orang yang bertaqwa akan membalas kejahatan dengan kebaikan karena Allah SWT.

''Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.'' (QS Fushshilat [41]: 34).

4. Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (berbuat dosa), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.

Orang yang bertaqwa bukan berarti tidak pernah berbuat dosa, karena manusia itu tempat lupa dan salah. Sehingga orang yang bertaqwa apabila berbuat dosa, dia ingat Allah Yang Maha Melihat, Maha Pengampun dan Yang Maha Keras Siksanya, sehingga dia mohon Ampun kepada Allah dan tidak terus menerus dalam perbuatan dosa tersebut.

Orang yang berpuasa sudah dididik untuk meninggalkan yang halal pada bulan-bulan lain tetapi di bulan Ramadhan diharamkan pada siang harinya yaitu makan, minum dan berhubungan dengan suami/isteri. Sehingga dengan sesuatu yang diharamkan Allah SWT, niscaya akan selalu menjauhinya. Sehingga orang yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menumpuk-numpuk dosa dan kesalahan, sehingga jiwanya damai.

Sebaliknya orang yang banyak berbuat maksiat dan dosa, mereka akan selalu merasa gundah dan gelisah dan mempunyai penghidupan yang sempit.

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thaha : 124)

Orang yang banyak berdosa dan tidak cepat memohon ampunan Allah serta tidak berhenti dari perbuatan dosa juga akan merasakan keterasingan dan kesenjangan dari Allah SWT. Keterasingan ini menghilangkan kenikmatan dan kebahagiaan dalam hidup. Harta dan anak tidak lagi menjadi nikmat. Kemapanan materi tidak bisa mengalahkan besarnya derita yang timbulkan karena rasa keterasingan dari Allah SWT. tersebut. Rasa keterasingan ini memiliki beberapa dampak diantaranya:
Hilangnya rasa percaya terhadap janji Allah SWT, sehingga semakin senang berbuat dosa dan malas berbuat kebaikan dan beribadah.
Tidak bisa husnuzhan dengan Allah SWT, sehingga selalu berpikir negative kepada Allah dan kepada orang lain. Padahal kedamaian akan didapat bila kita selalu berpikr positif.

Selamat berpuasa, semoga Ramadhan kali ini dapat menambah keimanan kita dan menjadikan kita manusia yang lebih baik dan semoga puasa Ramadhan nanti menjadi UNIVERSITAS KEHIDUPAN kita, sehingga kita layak mendapatkan IJAZAH TAQWA dan akan menjadikan hidup kita DAMAI di dunia dan akhirat. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin.
Wallahu a'lam bishshowab



Beberapa diambil dari sini

0 komentar:

Rindu Ramadhan



MARHABAN YA RAMADHAN
Ramadhan sudah di depan mata...
Sudah saatnya kita kembali menempuh bulan ini dengan menjalani segala amalannya dan mendapat keberkahan dalam setiap langkah yang kita ambil.

Seperti petikan lirik lagu Opick (Ramadhan Tiba) :

Dalam bersahur ada pahala
Dalam berbuka alangkah indah
Menahan diri menahan lidah
Menjaga hati menjaga mata

Banyakkan amal hari-harinya pahala
Datang berlipat ganda
Berlomba-lomba untuk ibadah
Dunia bahagia surga nanti gantinya


Ramadhan tiba 3X
Ramadhan tiba 3X

Dan semoga setiap jiwa
Diberikan ampunan-Nya
Dan semoga hapus semua
Kesalahan setiap jiwa




Kedamaian hanya didapat dengan menjadi orang yang bertaqwa. Dan ketaqwaan akan didapat dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Allah Subhanahu wa Ta’aa menetapkan dalam Al-Quran:

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”(QS al-Baqarah [2]: 183).

Secara sederhana, taqwa didefinisikan sebagai perasaan takut kepada Allah Swt. Rasa takut ini kemudian terejawantahkan dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Karena itu, bisa ditegaskan bahwa ciri atau indikator umum dari orang yang bertakwa bisa diamati dari sikap dan perilakakunya, yaitu meninggalkan segala larangan-Nya dan melaksanakan semua perintah-Nya. 

Dan lebih spesifik sifat orang orang yang bertaqwa dan ciri-cirinya dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 133-136 :
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
Orang-orang yang menahan amarahnya,
Orang-orang yang mema`afkan (kesalahan) orang lain,
Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (berbuat dosa), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.

Berikut ciri-ciri yang dapat mendatangkan kedamaian :

1. Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
Sifat suka berinfaq akan melahirkan sifat empati dan kepedulian. Bergetar jiwanya kalau melihat penderitaan orang lain, dan tidak ada kata berpangku tangan melihat sesama saudaranya menderita/teraniaya, walaupun harta mereka pun ‘sempit’ untuk memenhi kebutuhannya . Mereka berbuat demikian karena sudah terbiasa berpuasa, merasakan lapar dan haus sepanjang hari.

"Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah SWT akan menutupi aibnya di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang menghilangkan sebagian kesulitan seseorang, niscaya Allah akan menghilangkan baginya kesulitan dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang selalu menolong kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan menolong kebutuhannya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi.)

Tiada kedamaian jiwa dan kebahagiaan yang lebih kecuali kita bisa membahagiakan orang lain, sehingga orang lain yang ada disekelilingnya pasti akan merasakan kebahagiaan pula dekat dengannya dan akan membantunya bila ditimpa kesusahan, saling tolong-menolong seperti satu tubuh yang satu.

2. Orang-orang yang menahan amarahnya.
Marah itu menguras energi dan membuat hati tidak tenang dan akan menyesal sesudahnya. Orang yang mudah marah juga akan mempunyai teman yang sedikit dan dijauhi teman-temannya . Rasulullah SAW bersabda tentang marah: 

"Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan, dan sesungguhnya syetan itu diciptakan dari api, sedangkan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu, apabila seseorang dari kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu " (HR Abu Dawud).

Dengan terbiasa berpuasa dengan benar, maka dia akan mudah menahan amarahnya.

3. Orang-orang yang mema`afkan (kesalahan) orang lain.
Orang yang pendendam hatinya tidak akan menemukan kedamaian, dan dia hanya akan menumpuk kemarahan dan musuh. Orang yang mudah memaafkan akan damai karena semua masalah dianggap tidak ada masalah dan dia tidak menyimpan masalah berlama-lama karena cepat memaafkannya. Dan orang demikian akan menjadikan dia mempuanyai teman baik yang banyak.

Memaafkan butuh kematangan diri dan kecakapan spiritual. Kematangan diri hanya bisa didapatkan melalui keterbukaan hati dan pikiran akan segala pengalaman hidup yang dialami. Sementara kecakapan spiritual hanya bisa diperoleh ketika telah memiliki rasa penghambaan yang tinggi hanya kepada Allah SWT semata. Dan itu semua dapat dicapai dengan berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan benar. Bukan hanya memaafkan, bahkan orang yang bertaqwa akan membalas kejahatan dengan kebaikan karena Allah SWT.

''Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.'' (QS Fushshilat [41]: 34).

4. Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (berbuat dosa), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.

Orang yang bertaqwa bukan berarti tidak pernah berbuat dosa, karena manusia itu tempat lupa dan salah. Sehingga orang yang bertaqwa apabila berbuat dosa, dia ingat Allah Yang Maha Melihat, Maha Pengampun dan Yang Maha Keras Siksanya, sehingga dia mohon Ampun kepada Allah dan tidak terus menerus dalam perbuatan dosa tersebut.

Orang yang berpuasa sudah dididik untuk meninggalkan yang halal pada bulan-bulan lain tetapi di bulan Ramadhan diharamkan pada siang harinya yaitu makan, minum dan berhubungan dengan suami/isteri. Sehingga dengan sesuatu yang diharamkan Allah SWT, niscaya akan selalu menjauhinya. Sehingga orang yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menumpuk-numpuk dosa dan kesalahan, sehingga jiwanya damai.

Sebaliknya orang yang banyak berbuat maksiat dan dosa, mereka akan selalu merasa gundah dan gelisah dan mempunyai penghidupan yang sempit.

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thaha : 124)

Orang yang banyak berdosa dan tidak cepat memohon ampunan Allah serta tidak berhenti dari perbuatan dosa juga akan merasakan keterasingan dan kesenjangan dari Allah SWT. Keterasingan ini menghilangkan kenikmatan dan kebahagiaan dalam hidup. Harta dan anak tidak lagi menjadi nikmat. Kemapanan materi tidak bisa mengalahkan besarnya derita yang timbulkan karena rasa keterasingan dari Allah SWT. tersebut. Rasa keterasingan ini memiliki beberapa dampak diantaranya:
Hilangnya rasa percaya terhadap janji Allah SWT, sehingga semakin senang berbuat dosa dan malas berbuat kebaikan dan beribadah.
Tidak bisa husnuzhan dengan Allah SWT, sehingga selalu berpikir negative kepada Allah dan kepada orang lain. Padahal kedamaian akan didapat bila kita selalu berpikr positif.

Selamat berpuasa, semoga Ramadhan kali ini dapat menambah keimanan kita dan menjadikan kita manusia yang lebih baik dan semoga puasa Ramadhan nanti menjadi UNIVERSITAS KEHIDUPAN kita, sehingga kita layak mendapatkan IJAZAH TAQWA dan akan menjadikan hidup kita DAMAI di dunia dan akhirat. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin.
Wallahu a'lam bishshowab



Beberapa diambil dari sini

Posting Komentar

Sabtu, 30 Juli 2011

Rindu Ramadhan



MARHABAN YA RAMADHAN
Ramadhan sudah di depan mata...
Sudah saatnya kita kembali menempuh bulan ini dengan menjalani segala amalannya dan mendapat keberkahan dalam setiap langkah yang kita ambil.

Seperti petikan lirik lagu Opick (Ramadhan Tiba) :

Dalam bersahur ada pahala
Dalam berbuka alangkah indah
Menahan diri menahan lidah
Menjaga hati menjaga mata

Banyakkan amal hari-harinya pahala
Datang berlipat ganda
Berlomba-lomba untuk ibadah
Dunia bahagia surga nanti gantinya


Ramadhan tiba 3X
Ramadhan tiba 3X

Dan semoga setiap jiwa
Diberikan ampunan-Nya
Dan semoga hapus semua
Kesalahan setiap jiwa




Kedamaian hanya didapat dengan menjadi orang yang bertaqwa. Dan ketaqwaan akan didapat dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Allah Subhanahu wa Ta’aa menetapkan dalam Al-Quran:

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”(QS al-Baqarah [2]: 183).

Secara sederhana, taqwa didefinisikan sebagai perasaan takut kepada Allah Swt. Rasa takut ini kemudian terejawantahkan dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Karena itu, bisa ditegaskan bahwa ciri atau indikator umum dari orang yang bertakwa bisa diamati dari sikap dan perilakakunya, yaitu meninggalkan segala larangan-Nya dan melaksanakan semua perintah-Nya. 

Dan lebih spesifik sifat orang orang yang bertaqwa dan ciri-cirinya dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 133-136 :
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
Orang-orang yang menahan amarahnya,
Orang-orang yang mema`afkan (kesalahan) orang lain,
Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (berbuat dosa), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.

Berikut ciri-ciri yang dapat mendatangkan kedamaian :

1. Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
Sifat suka berinfaq akan melahirkan sifat empati dan kepedulian. Bergetar jiwanya kalau melihat penderitaan orang lain, dan tidak ada kata berpangku tangan melihat sesama saudaranya menderita/teraniaya, walaupun harta mereka pun ‘sempit’ untuk memenhi kebutuhannya . Mereka berbuat demikian karena sudah terbiasa berpuasa, merasakan lapar dan haus sepanjang hari.

"Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah SWT akan menutupi aibnya di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang menghilangkan sebagian kesulitan seseorang, niscaya Allah akan menghilangkan baginya kesulitan dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang selalu menolong kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan menolong kebutuhannya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi.)

Tiada kedamaian jiwa dan kebahagiaan yang lebih kecuali kita bisa membahagiakan orang lain, sehingga orang lain yang ada disekelilingnya pasti akan merasakan kebahagiaan pula dekat dengannya dan akan membantunya bila ditimpa kesusahan, saling tolong-menolong seperti satu tubuh yang satu.

2. Orang-orang yang menahan amarahnya.
Marah itu menguras energi dan membuat hati tidak tenang dan akan menyesal sesudahnya. Orang yang mudah marah juga akan mempunyai teman yang sedikit dan dijauhi teman-temannya . Rasulullah SAW bersabda tentang marah: 

"Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan, dan sesungguhnya syetan itu diciptakan dari api, sedangkan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu, apabila seseorang dari kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu " (HR Abu Dawud).

Dengan terbiasa berpuasa dengan benar, maka dia akan mudah menahan amarahnya.

3. Orang-orang yang mema`afkan (kesalahan) orang lain.
Orang yang pendendam hatinya tidak akan menemukan kedamaian, dan dia hanya akan menumpuk kemarahan dan musuh. Orang yang mudah memaafkan akan damai karena semua masalah dianggap tidak ada masalah dan dia tidak menyimpan masalah berlama-lama karena cepat memaafkannya. Dan orang demikian akan menjadikan dia mempuanyai teman baik yang banyak.

Memaafkan butuh kematangan diri dan kecakapan spiritual. Kematangan diri hanya bisa didapatkan melalui keterbukaan hati dan pikiran akan segala pengalaman hidup yang dialami. Sementara kecakapan spiritual hanya bisa diperoleh ketika telah memiliki rasa penghambaan yang tinggi hanya kepada Allah SWT semata. Dan itu semua dapat dicapai dengan berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan benar. Bukan hanya memaafkan, bahkan orang yang bertaqwa akan membalas kejahatan dengan kebaikan karena Allah SWT.

''Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.'' (QS Fushshilat [41]: 34).

4. Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (berbuat dosa), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.

Orang yang bertaqwa bukan berarti tidak pernah berbuat dosa, karena manusia itu tempat lupa dan salah. Sehingga orang yang bertaqwa apabila berbuat dosa, dia ingat Allah Yang Maha Melihat, Maha Pengampun dan Yang Maha Keras Siksanya, sehingga dia mohon Ampun kepada Allah dan tidak terus menerus dalam perbuatan dosa tersebut.

Orang yang berpuasa sudah dididik untuk meninggalkan yang halal pada bulan-bulan lain tetapi di bulan Ramadhan diharamkan pada siang harinya yaitu makan, minum dan berhubungan dengan suami/isteri. Sehingga dengan sesuatu yang diharamkan Allah SWT, niscaya akan selalu menjauhinya. Sehingga orang yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menumpuk-numpuk dosa dan kesalahan, sehingga jiwanya damai.

Sebaliknya orang yang banyak berbuat maksiat dan dosa, mereka akan selalu merasa gundah dan gelisah dan mempunyai penghidupan yang sempit.

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thaha : 124)

Orang yang banyak berdosa dan tidak cepat memohon ampunan Allah serta tidak berhenti dari perbuatan dosa juga akan merasakan keterasingan dan kesenjangan dari Allah SWT. Keterasingan ini menghilangkan kenikmatan dan kebahagiaan dalam hidup. Harta dan anak tidak lagi menjadi nikmat. Kemapanan materi tidak bisa mengalahkan besarnya derita yang timbulkan karena rasa keterasingan dari Allah SWT. tersebut. Rasa keterasingan ini memiliki beberapa dampak diantaranya:
Hilangnya rasa percaya terhadap janji Allah SWT, sehingga semakin senang berbuat dosa dan malas berbuat kebaikan dan beribadah.
Tidak bisa husnuzhan dengan Allah SWT, sehingga selalu berpikir negative kepada Allah dan kepada orang lain. Padahal kedamaian akan didapat bila kita selalu berpikr positif.

Selamat berpuasa, semoga Ramadhan kali ini dapat menambah keimanan kita dan menjadikan kita manusia yang lebih baik dan semoga puasa Ramadhan nanti menjadi UNIVERSITAS KEHIDUPAN kita, sehingga kita layak mendapatkan IJAZAH TAQWA dan akan menjadikan hidup kita DAMAI di dunia dan akhirat. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin.
Wallahu a'lam bishshowab



Beberapa diambil dari sini

Posting Komentar