Copyright © Arina for Life...
Design by Dzignine
Rabu, 11 April 2012

My Storiette - The Woman's Shoulders



Saya tidak pernah lupa bagaimana mata perempuan itu menatap saya... Saya tidak ingat seberapa cantik dia tapi saya selalu ingat bagaimana mata itu memberikan sejuta harapan bagi saya, bagi mimpi-mimpi saya. Dia tak pandai berkata-kata, hanya sekedar menjawab segala tanya saya.  Perempuan yang meninggalkan bekas lipstik di cangkir tehnya dan memberikan senyuman manisnya pelipur lara.

Dia yang selalu bilang, “hiduplah dengan sebaik-baiknya kamu hidup menjadi yang terbaik bagi diri sendiri, orang lain dan lingkunganmu dan matilah dengan sebaik-baiknya kamu menjadi hamba Allah.” Itu mungkin kata-katanya yang tak pernah saya lupa.

Malam ini kita berbincang lagi, di antara temaram lampu taman dan sinar bulan yang semakin benerang. Dengan baju hijau toska-nya, perempuan ini menatap saya dalam, mata coklatnya menyiratkan keyakinan, sesuatu yang sangat saya butuhkan sekarang.

“Semua akan baik-baik saja Rin...” ucapnya masih dengan tatapan mata hangatnya. Saya selalu mempercayai ucapannya namun kali ini saya ragu, dan masih terlalu ragu untuk menjawab. Lama kami terdiam, saling berbagi wangi udara malam dan bersama mendengarkan suara serangga malam mengiringi suara detak jantung  kami.

“Menangislah !” Perempuan itu kembali bersuara, kini jari-jari lentiknya menyentuh lembut jari-jariku yang mulai kedinginan. “Aku suka suara tawamu, tapi tak mengapa jika malam ini aku mendengar suara tangismu....”

Malam ini bahu itu basah,  bahu itu, bahu yang hangat itu menguatkanku... Bahu seorang perempuan pemilik senyuman manis itu... Sesuatu yang ternyata lebih saya butuhkan....


3 komentar:

My Storiette - The Woman's Shoulders



Saya tidak pernah lupa bagaimana mata perempuan itu menatap saya... Saya tidak ingat seberapa cantik dia tapi saya selalu ingat bagaimana mata itu memberikan sejuta harapan bagi saya, bagi mimpi-mimpi saya. Dia tak pandai berkata-kata, hanya sekedar menjawab segala tanya saya.  Perempuan yang meninggalkan bekas lipstik di cangkir tehnya dan memberikan senyuman manisnya pelipur lara.

Dia yang selalu bilang, “hiduplah dengan sebaik-baiknya kamu hidup menjadi yang terbaik bagi diri sendiri, orang lain dan lingkunganmu dan matilah dengan sebaik-baiknya kamu menjadi hamba Allah.” Itu mungkin kata-katanya yang tak pernah saya lupa.

Malam ini kita berbincang lagi, di antara temaram lampu taman dan sinar bulan yang semakin benerang. Dengan baju hijau toska-nya, perempuan ini menatap saya dalam, mata coklatnya menyiratkan keyakinan, sesuatu yang sangat saya butuhkan sekarang.

“Semua akan baik-baik saja Rin...” ucapnya masih dengan tatapan mata hangatnya. Saya selalu mempercayai ucapannya namun kali ini saya ragu, dan masih terlalu ragu untuk menjawab. Lama kami terdiam, saling berbagi wangi udara malam dan bersama mendengarkan suara serangga malam mengiringi suara detak jantung  kami.

“Menangislah !” Perempuan itu kembali bersuara, kini jari-jari lentiknya menyentuh lembut jari-jariku yang mulai kedinginan. “Aku suka suara tawamu, tapi tak mengapa jika malam ini aku mendengar suara tangismu....”

Malam ini bahu itu basah,  bahu itu, bahu yang hangat itu menguatkanku... Bahu seorang perempuan pemilik senyuman manis itu... Sesuatu yang ternyata lebih saya butuhkan....


Posting Komentar

Rabu, 11 April 2012

My Storiette - The Woman's Shoulders



Saya tidak pernah lupa bagaimana mata perempuan itu menatap saya... Saya tidak ingat seberapa cantik dia tapi saya selalu ingat bagaimana mata itu memberikan sejuta harapan bagi saya, bagi mimpi-mimpi saya. Dia tak pandai berkata-kata, hanya sekedar menjawab segala tanya saya.  Perempuan yang meninggalkan bekas lipstik di cangkir tehnya dan memberikan senyuman manisnya pelipur lara.

Dia yang selalu bilang, “hiduplah dengan sebaik-baiknya kamu hidup menjadi yang terbaik bagi diri sendiri, orang lain dan lingkunganmu dan matilah dengan sebaik-baiknya kamu menjadi hamba Allah.” Itu mungkin kata-katanya yang tak pernah saya lupa.

Malam ini kita berbincang lagi, di antara temaram lampu taman dan sinar bulan yang semakin benerang. Dengan baju hijau toska-nya, perempuan ini menatap saya dalam, mata coklatnya menyiratkan keyakinan, sesuatu yang sangat saya butuhkan sekarang.

“Semua akan baik-baik saja Rin...” ucapnya masih dengan tatapan mata hangatnya. Saya selalu mempercayai ucapannya namun kali ini saya ragu, dan masih terlalu ragu untuk menjawab. Lama kami terdiam, saling berbagi wangi udara malam dan bersama mendengarkan suara serangga malam mengiringi suara detak jantung  kami.

“Menangislah !” Perempuan itu kembali bersuara, kini jari-jari lentiknya menyentuh lembut jari-jariku yang mulai kedinginan. “Aku suka suara tawamu, tapi tak mengapa jika malam ini aku mendengar suara tangismu....”

Malam ini bahu itu basah,  bahu itu, bahu yang hangat itu menguatkanku... Bahu seorang perempuan pemilik senyuman manis itu... Sesuatu yang ternyata lebih saya butuhkan....


Posting Komentar